Tuesday, October 26, 2010

SIAPAKAH ORANG YANG BERAKAL CERDAS ITU ?!

فاَلعاَقِلُ مَنْ كاَنَ بِماَ هُوَ أَبْقىَ أَفْرَحُ مِنْهُ بِماَ هُوَ يَفْنَى قَدْ أَشْرَقَ نُوْرُهُ وَظَهَرَتْ تَباَشِيْرُهُ

Orang yang berakal cerdas ialah orang yang akan memilih sesuatu yang pasti kekal
dan menyenangkan, dari pada sesuatu yang akan rusak dan binasa.
Sungguh cahaya hatinya sudah menjadi terang benderang,
pun cahaya di raut wajahnya akan nampak berseri-seri.

Siapakah seseungguhnya orang yang berakal cerdas itu ? apakah mereka yang telah menciptakan pesawat ? apakah mereka yang telah menciptakan teknologi canggih ? ataukah mereka yang telah mendapatkan berbagai penghargaan dan piala..?!

Mari kita kaji nasihat agama dari kalimat yang tertuang di atas ;

( Orang yang berakal cerdas ialah orang yang akan memilih sesuatu yang kekal dan menyenangkan, dari pada sesuatu yang akan rusak ) sesuatu yang kekal dan menyenangkan ialah akhirat di sorga sedangkan sesuatu yang akan rusak dan binasa adalah dunia.

Apabila dunia itu diyakini akan rusak dan akhirat diyakini akan kekal dan abadi maka tidaklah pantas merasa senang dan gembira ketika mencapai kesuksesan dunia, karena dunia akan rusak dan binasa.

Barangsiapa merasa senang ketika sukses di dunia maka perasaan senangnya juga akan rusak dan berakhir, dan kesenangan yang akan mengalami rusak atau berakhir adalah kesenangan yang dianggap hampa. Dan barangsiapa merasa senang ketika mencapai kesuksesan akhirat maka perasaan senangnya akan kekal dan abadi, dan inilah kesenangan yang layak untuk diperhatikan.

Walhasil, seorang yang memiliki akal sehat dan cerdas, ia pasti akan menjadi seorang juhud, artinya tidak akan pernah mengejar kesenangan dunia. Sedangkan orang yang mengejar kesenangan dunia bukanlah seorang yang berakal sehat, bahkan ia termasuk orang yang sangat, sangat, sangat bodoh, goblok, bahkan idiot. Sesuatu yang akan rusak ia cari sampai habis-habisan sedangkan sesuatu yang akan abadi dia biarkan berlalu.

(Sungguh cahaya hatinya sudah menjadi terang benderang, pun cahaya di raut wajahnya akan nampak berseri-seri ) cahaya juhud akan bersinar dalam hati seorang yang berakal sehat, wajah berseri pun telah nampak di raut mukanya, karena cahaya juhud apabila terbit bersinar dari dalam hati maka ia akan membuat terang dan bersinar pula semua anggota tubuh lainnya, karena semua anggota tubuh akan menerima keadaan hatinya dengan perasaan senang.

Allah mengetahui segalanya.

Wednesday, October 20, 2010

ALLAH SWT TIDAK TERHALANG UNTUK DIPANDANG


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الحَكِيْمُ الخَبِيْرُ
Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya
Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui (QS. Al-An’am 18)

الحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوْبٍ وَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ النَّظْرِ إِذْ لَوْحَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ ماَحَجَبَهُ وَلَوكاَنَ لَهُ ساَتِرٌ لَكاَنَ لِوُجُوْدِهِ حاَصِرٌ وَكُلُّ حاَصِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قاَهِرٌ

Allah tidak terhalang untuk dilihat, akan tetapi yang terhalang adalah anda untuk dapat melihat Allah, logikanya apabila Allah terhalang sesuatu untuk dilihat maka penghalang itu menutupi wujud Allah, apabila wujud Allah terhalang maka keberadaan Allah itu terbatas, dan setiap sesuatu yang terbatas niscaya ada sesuatu yang membatasi atau ada sesuatu yang menguasainya, ada yang menguasai Allah itu mustahil.

يَعْنِي أَنَّ الحِجاَبَ لاَ يَتَّصِفُ بِهِ الحَقُّ سُبْحاَنَهُ وَتَعاَلىَ ِلاسْتِحاَلَتِهِ فيِ حَقِّهِ

Yakni, bahwa penghalang tidak akan pernah terjadi menyertai Allah SWT Al-Haq Subhanallah, karena hal itu mustahil bagi Allah SWT.

وَإِنَّماَ المَحْجُوْبُ أَنْتَ أَيُّهاَ العَبْدُ بِصِفاَتِكَ النَّفْساَنِيَّةِ عَنِ النَّظْرِ إِلَيْهِ فَإِنْ رُمْتَ الوُصُوْلَ فاَبْحَثْ عَنْ عُيُوْبِ نَفْسِكَ وَعاَلَجَهاَ

Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan.

فَإِن الحِجاَبَ يَرْتَفِعُ عَنْكَ فَتَصِلُ إِلىَ النَّظْرِ إِلَيْهِ بِعَيْنِ بَصِيْرَتِكَ وَهُوَ مَقاَمُ الإِحْساَنِ الَّذِي يُعَبِرُوْنَ عَنْهُ بِمَقاَمِ المُشاَهَدَةِ

Pada akhirnya penghalang itu akan sirna, hilang dari anda sehingga sampai pada “Dapat Melihat Allah” dengan “Aen Basyiroh” (Pandangan waspada hati) dan inilah yang disebut “Ihsan” yaitu beribadah kepada Allah seolah anda melihatNya, apabila anda tidak mampu melihatNya, sesungguhnya Allah melihat anda. Para Ulama Sufi menyebutnya Maqom Musyahadah artinya ruang kesakisan, “Aku besaksi tiada Tuhan selain Allah”.

Allah SWt dapat terlihat dengan pandangan waspada hati, bukan dengan pandangan hati, karena pandangan hati biasanya mengarah terbayang, sedangkan mustahil utuk bisa terbayang. Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. Asyura 11)

Dalam ayat lain Allah berfirman :
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

Allah, Tuhan yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arsy (QS. Thaha 5)

Bersemayam maksudnya Menguasai ‘Arasy, sebagaimana seorang raja duduk diatas kursi singgasananya mangandung makna menguasai atau penguasa. Karena ketika kata “bersemayam” diartikan mentah maka akan terbayang Allah sedang bersemayam dan ini membuat kufur, keluar dari agama Islam, menyerupakan sesuatu dengan Allah. Istawa yang artinya bersemayam disebutnya kalimat Majaz.

Dalam memahami berbahasa Arab, termasuk bahasa lainnya, hendaknya menggunakan disimpin tatabahasa dan ilmu lainya. Seperti memahami Sya’ir pada Maulid Barjanzi - Syekh Ja’far Al-Barzanji, 1126-1177 H :


أَنْتَ لِلرُّسْلِ خِتاَمٌ أَنْتَ لِلْمَوْلىَ شَكُوْرُ
عَبْدُكَ المِسْكِيْنُ يَرْجُوْ فَضْلَكَ الجَمَّ الغَفِيْرُ
Engkau adalah penutup bagi para Rosul, Engkau jua yang paling bersyukur pada Tuhan
Hambamu yang pantas dikasihani ini mengharap keutamanmu yang begitu banyak
Uraian bahasan-nya :

(أَنْتَ) ياَرَسُوْلَ اللهِ (لِلرُّسْلِ خِتاَمٌ) فَلاَرَسُوْلَ وَلاَنَبِيَّ بَعْدَكَ (أَنْتَ لِلْمَوْلىَ شَكُوْرُ) بِفَتْحِ الشَّيْنِ أَىْ كَثِيْرُ الشُّكْرِ (عَبْدُكَ المِسْكِيْنُ) بِكَسْرِ المِيْمِ وَفَتْحِهاَ أَىْ الذَّلِيْلُ وَالضَّعِيْفُ (يَرْجُوْ فَضْلَكَ الجَمَّ) أَىْ الكَثِيْرَ (الغَفِيْرَ) الوَاسِعَ
Artinya :
(Engkau) wahai Rasulullah (adalah penutup bagi para Rosul) karena tidak ada Rosul dan Nabi setelah engkau (engkau jua yang paling bersukur pada Tuhan) fatah huruf Syin, artinya banyak bersyukur (hambamu yang pantas dikasihani ini) kasrah huruf mim dan ia boleh fatah, artinya hamba yang hina dan lemah (mengharap keutamanmu yang begitu banyak) artinya banyak dan berlimpah.

فَقَوْلُهُ عَبْدُكَ مُبْتَدَأٌ وَالمِسْكِيْنُ صِفَةٌ لَهُ وَقَوْلُهُ يَرْجُوْ فِعْلٌ مُضاَرِعٌ وَالفاَعِلُ ضَمِيْرٌ يَعُوْدُ إِلىَ عَبْدِكَ وَالجُمْلَةُ خَبَرُ المُبْتَدَأ وَقَوْلُهُ الجَمَّ الغَفِيْرَ صِفَتاَنِ لِفَضْلِكَ
Artinya :
Lafadz Abduka (hambamu) menurut ilmu nahwu adalah “mubtada” dan lafadz Al-Miskin (yang pantas dikasihani) adalah “sifat” dari lafadz Abduka. Lafadz Yarju (mengharap) adalah fi’il mudlore dan fail-nya adalah dlomir yang kembali pada Abduka dan menjadi jumlah khobar-mubtada. Lafadz Jammal-ghofiru (banyak yang melimpah) adalah dua “sifat” untuk lafadz fadlika (keutamaanmu).

Catatan Penyusun :

a.   Kalimat “Engkau (Rosulullah) penutup para Nabi dan Rasul, hal ini berdasarkan hadits ;

مَثَلِى وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ - قَالَ - فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ
Artinya :
Perumpamaanku dengan para nabi sebelum aku ialah laksana seorang lelaki yang membangun rumah yang bagus nan indah, akan tetapi ada lahan bangunan fiktif disekelilingnya, lalu semua orang mengelilingi lahan fiktif itu, membanggakan dan mereka berkata “Ayo kita bangun baru lahan bangunan ini !?” (maksudnya membuat agama atau sekte baru) Nabi bersabda “Aku adalah lahan nyata (agama nyata) dan aku adalah penutup para nabi. (HR. Sohih Bukhori Muslim)

b.   Kalimat “Engkau jua yang paling bersyukur pada Tuhan” hal ini berdasarkan hadist ;
    
حَدَّثَناَ أَبُوْ نُعَيْمٍ قاَلَ حَدَّثَناَ مُسْعِرٌ عَنْ زِياَدٍ قاَلَ سَمِعْتُ المُغِيْرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ إِنْ كاَنَ النَّبِيُّ  Tلِيَقُوْمَ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرُمَ قَدَماَهُ أَوْساَقاَهُ , فَيُقاَلُ لَهُ فَيَقُوْلُ  أَفَلاَ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا
     Artinya :
Kami mendapat khabar dari Abu Nu’aim, beliau dapat khabar dari Mus’ir dan dari Ziyad, beliau mendengar Al-Mughiroh ra berkata ; “Apabila benar baginda Nabi Saw berdiri untuk shalat malam sehingga kedua telapak atau betis kaki beliau bengkak, beliau (Nabi Saw) ditanya akan hal itu, kemudian beliau menjawab “Apakah tidak boleh apabila aku menjadi seorang hamba yang sangat bersyukur”. (HR. Sohih Bukhori)

c.   Kalimat “Hambamu yang pantas dikasihani”, ini bukan penghambaan hakiki yang masuk ke dalam bentuk menyembah Nabi Saw. (Ingat !! dalam tata bahasa ada istilah makna hakiki dan makna majazi) hamba di sini hanya penghambaan majazi (tidak hakiki), artinya hanya penghambaan dalam bentuk mengikuti, taat dan patuh saja, sebut sajalah sebagai pengikut.

Kata Abdun (hamba) dalam bahasa Arab juga artinya budak atau sahaya dari majikan atau tuannya, dan tuannya itu tidak disembah. Ketika hamba dimaknai hakiki (menyembah) akan bertentangan dengan syahadat, “Tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah”.

Wal-hasil hamba disini artinya adalah pengikut Nabi Saw. Dan cinta kepada Allah Swt dianggap dusta apabila tidak disertai dengan mengikuti Nabi Saw. Ciinta kepada Allah harus seiring dengan mengikuti Nabi SAW, ini berdasarkan firman Allah ;

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
Artinya :
Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi SAW), niscaya Allah Swt mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran 31)

d.   Kalimat “Mengharap keutamanmu yang begitu banyak” dalam hal berharap dan harapan itu dijanjikan Allah Swt, bukanlah termasuk syirik, karena tetap berharap kepada Allah, hanya saja tidak dipungkiri (untuk kita manusia) prosesnya akan terjadi melalui sesama makhluk, tidak ada bedanya ketika anda mengalami musibah tenggelam di laut, anda terombang ambing di tengah laut dan melihat tim SAR, apa yang akan anda katakan pada tim SAR?, “Pak tolong kami” mungkin itu jawaban anda, apa itu syirik ?, ini juga maksudnya berharap bantuan (majazi).

Salah satu keutamaan Nabi Saw adalah syafa’at (pertolongan) dan ini dijanjikan Allah atau seizin Allah adalah Nabi akan menolong umat pengikutnya, berikut haditsnya ;

حَدَّثَناَ إِسْمَاعِيْلُ قاَلَ حَدَّثَنِيْ مَالِكْ عَنْ أَبِيْ الزَّناَدِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهَ T قاَلَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجاَبَةٌ يَدْعُوْ بِهاَ وَأُرِيْدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِيْ شَفاَعَةً ِلأُمَّتِيْ فيِ الآَخِرَةِ
Artinya :
Kami dapat khabar dari Ismail, kami dapat khabar dari Malik, dari Abi Az-Zanad, dari Al-‘Aroj, dan dari Abi Hurairoh, bahwa rasul;ullah Saw bersabda ; Setiap Nabi memiliki do’a mustajab (dikabulkan) untuk mereka berdo’a, dan aku ingin persiapkan do’aku agar menjadi syafaat (penolong) kepada umatku di akhirat. (HR. Sohih Bukhori Muslim)

Dalam firman Allah disebutkan ;

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
Artinya :
Tiada yang dapat memberi syafa'at (pertolongan) menurut Allah tanpa seizin-Nya ( QS. Al-Baqoroh 255)


KESIMPULAN
Allah itu dapat terlihat dengan Ae’n Basyiroh (pandangan waspada hati), untuk kalangan awam pandangan waspada hati cukup ditafsirkan dengan keyakinan bahwa Allah itu melihat kita, sehingga semua perbuatan anda akan selalu baik, karena merasa selalu dilihat Allah SWT.

Orang yang merasa dilihat dan diperhatikan Allah, ia tidak akan pernah berbuat dosa sedikitpun, sekalipun terjatuh ke dlam dosa ia akan segera bertaubat, bahkan hidupnya senantiasa bernilai ibadah, tidak ada waktu luang yang sia-sia, karena ia berkeyakinan bahwa pandangan Allah akan selalu restu pada setiap waktu yang berguna dan bernilai beribadah.

Dalam memahami redaksi Qur’an, Hadits, atau pernyataan para Ulama, hendaknya menggunakan disiplin ilmu, baik Nahwu, Shorof, Mantiq, Bilaghah atau ilmu yang lainnya. Jangan mengartikan mentah, karena akan berakibat keliru dalam memaknai redaksi, yang pada akhirnya keliru dalam pemahaman. Semoga kita semua terlindung dari paham-paham yang sesat dan menyimpang, amien.


Allah mengetahui segalanya.


DAFTAR PUSTAKA
 
1.   Al-Hikam, Ibnu ‘Athoillah
2.   Syarah Al-Hikam, Abdullah Asy-Syarqowi
3.   Fathush-Shomad Al-‘Alam Maulid, Ahmad bin Al-Qosim
4.   Bulugul-Fauziy Libayani-Alfadzil-Maulid, Ibnu Al-Juziy

Monday, October 18, 2010

TATAKRAMA SAAT BUANG HAJAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قاَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ إِسْتَنْزِهُوا مِنْ البَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ القَبْرِ مِنْهُ
Waspadailah pada saat buang hajat, karena siksa kubur banyak terjadi disebabkan buang hajat.
(HR. Daruqutni)


فَإِذاَ قَصَدْتَ بَيْتَ الماَءِ لِقَضاَءِ الحاَجَةِ فَقَدِّمْ فىِ الدُّخُوْلِ رِجْلَكَ اليُسْرَى وَفىِ الخُرُوْجِ رِجْلَكَ اليُمْنَى وَلاَتَسْتَصْحِبْ شَيْئاً عَلَيْهِ إِسْمُ اللهِ تَعاَلىَ وَرَسُوْلُهُ وَلاَتَدْخُلُ حاَسِرَ الرَّأْسِ وَلاَحاَفِىَ القَدَمَيْنِ وَقُلْ عِنْدَ الدُّخُوْلِ ؛

Apabila anda masuk kamar mandi untuk buang hajat hendaknya ; (1) Saat masuk dahulukan kaki kiri dan saat keluar dahulukan kaki kanan. (2) Tidak membawa sesuatu yang mengandung nama Allah dan RasulNya. (3) Tidak masuk tanpa menutupi kepala, handuk atau peci. (4) Tidak melepas alas kaki. (5) Saat masuk baca do’a ;

بِاسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ النَّجْسِ المُخْبِيْثِ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari noda najis yang mengotori, syetan yang terkutuk.

(6) Saat keluar baca do’a ;

غُفْراَنَكَ الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنِّى ماَيُؤْذِيْنِى وَأَبْقَى فىِ ماَيَنْفَعُنِى
Aku memohon ampunanMu, segala pujian ialah milik Allah Yang menghilangkan sesuatu yang menyakiti aku dan Yang menetapkan sesuatu yang bermanfaat untukku.

وَيَنْبَغِى أَنْ تَعِدَّ النُّبَلَ قَبْلَ قَضاَءِ الحاَجَةِ وَأَنْ لاَتَسْتَنْجِىَ بِالماَءِ فىِ مَوْضِعِ قَضاَءِ الحاَجَةِ وَأَنْ تَسْتَبْرِئَ مِنَ البَوْلِ بِالتَّنَحْنُحِ وَالنَّتْرِ ثَلاَثاً وَبِامْراَرِ اليَدِ اليُسْرَى عَلَى أَسْفَلِ القَضِيْبِ

(7) Hendaknya mempersiapkan dahulu batu (ketika bersuci dengan batu). (8) Tidak mengarahkan kencing lurus ke tempat hajat (supaya tidak kembali nembak). (9) Melepas kencing hingga habis dengan “dehem”, sentil pelan 3 kali atau dengan mengurutkan jari tangan kiri dari arah bawah batang kelamin.  

وَإِنْ كُنْتَ فىِ الصَّحْراَءِ فاَبْعُدْ عَنْ عُيُوْنِ النَّاظِرِيْنَ وَاسْتَتِرْ بِشَيْءٍ إِنْ وَجَدْتَهُ وَلاَتَكْشِفُ عَوْرَتَكَ قَبْلَ الإِنْتِهاَءِ إِلىَ مَوْضِعِ الجُلُوْسِ وَلاَتَسْتَقْبِلُ الشَّمْسَ وَلاَ القَمَرَ وَلاَتَسْتَقْبِلُ القِبْلَةَ وَلاَتَسْتَدْبَرُهاَ وَلاَتَجْلُسُ فىِ مُتَحَدِّثِ النَّاسِ وَلاَتَبُلُ فىِ الماَءِ الرَّاكِدِ وَتَحْتَ الشَّجَرَةِ المُثْمِرَةِ وَلاَفىِ الجَحْرِ وَاحْدَرْ الأَرْضَ الصُلْبَةَ وَمُهِبَّ الرِّيْحِ إِحْتِراَزاً مِنَ الرَّشاَشِ لِقَوْلِهِ T ؛

(10) Apabila anda berada di luar ruangan, hindari buang hajat dari pandangan orang. (11) Menutupi diri bila menemukan penutup. (12) Tidak membuka aurat sebelum sampai duduk buang hajat. (13) Tidak menghadap Matahari dan Bulan. (14) Tidak menghadap kiblat dan membelakanginya. (15) Tidak buang hajat di tempat orang kumpul. (16) Tidak buang hajat di air tenang, Tidak dibawah pohon yang berbuah dan Tidak pada lubang bundar permukaan tanah. (17) Waspadai buang hajat mengarah permukaan keras dan saat angin berhembus agar tidak terkena cipratan, karena berdasar hadits ;

إِسْتَنْزِهُوا مِنْ البَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ القَبْرِ مِنْهُ
Waspadailah saat buang hajat, karena siksa kubur banyak terjadi disebabkan buang hajat. (HR. Daruqutni)

وَاتِّكَئِ فىِ جُلُوْسِكَ عَلَى الرِجْلِ اليُسْرَى وَلاَتُبَلِ قاَئِماً إِلاَّعَنْ ضَرُرْرَةٍ وَاجْمَعْ فىِ الإِسْتِنْجاَءِ بَيْنَ إِسْتِعْماَلِ الحَجَرِ وَالماَءِ فَإِذاَ أَرَدْتَ الإِقْتِصاَرَ عَلَىَ أَحَدِهِماَ فاَلماَءُ أَفْضَلُ وَإِنِ اقْتَصَرْتَ عَلَى الحَجَرِ فَعَلَيْكَ أَنْ تَسْتَعْمِلَ ثَلاَثَةَ أَحْجاَرٍ طاَهِرَةٍ مُنْشِفَةٍ لِلْعَيْنِ تَمْسَحُ بِهاَ مَحَلَ النَّجْوَ بِحَيْثُ لاَتَنْتَقِلُ النَّجاَسَةُ عَنْ مَوْضِعِهاَ وَكَذَلِكَ تَمْسَحُ القَضِيْبَ فىِ ثَلاَثَةِ مَواَضِعَ مِنْ حَجَرٍ فَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ الإِنْتِقاَءُ بِثَلاَثَةٍ فَتَمِّمْ خَمْسَةً أَوْ سَبْعَةً إِلىَ أَنْ يُنْقِىَ بِالإِيْتاَرِ فاَلإِيْتاَرُ مُسْتَحَبٌ وَالإِنْقاَءُ واَجِبٌ وَلاَتَسْتَنْجِ إِلاَّ بِاليَدِ اليُسْرَى وَقُلْ عِنْدَ الفِراَغِ مِنَ الإِسْتِنْجاَءِ ؛

(18) Hendaklah dengan posisi duduk di atas kaki kiri. (19) Tidak kencing sambil berdiri kecuali darurat. (20) Dipadukan antara air dan batu, tapi apabila ingin singkat maka air lebih utama, dan apabila ingin pakai batu hendaklah dengan tiga butir batu suci yang dapat mengikis kotoran dengan mengusapkan ke anus dan tidak bercerai  atau “belepotan” , saat kencing pun sama dengan buang air besar (BAB) yaitu memakai tiga butir batu. (21) Apabila belum bersih dengan tiga batu maka tambah limat atau sampai tujuh batu sampai bersih, hitungan ganjil adalah sunnah sedang bersih itu wajib. (22) Tidak istinja kecuali dengan tangan kiri, baca do’a setelah istinja ;

أَللَّـهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِى مِنَ النِّفاَقِ وَحَصِّنْ فَرْجِى مِنَ الفَواَحِشِ
Ya Allah sucikan hatiku dari munafiq, lindungi farjiku dari keburukan.

وَادْلُكْ يَدَكَ بَعْدَ تَماَمِ الإِسْتِنْجاَءِ بِالأَرْضِ أَوْ بِحاَئِطٍ ثُمَّ غَسَلَهاَ

(23) Setelah istinja, tangan bekas menyentuh kotoran gosok pada lantai atau dinding lalu cuci kembali,

Tammat.
Allah mengetahui segalanya.


Daftar Pustaka : Bidayatul Hidayah – Abu Hamid Al-Ghozali
     Muroqil Ubudiyyah – Syekh Nawawi Al-Bantani

 
KONSULTASI HUKUM ISLAM
081310209384 - 087870262097 - 085714619749
Situs : http://arbabulhijadaerobiy.blogspot.com

 

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)