Selasa, 22 Mei 2012

KEUTAMAAN PUASA DI BULAN RAJAB

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
حَدَّثَناَ أَبُوْ بَكْرٍ مُحَمَّدْ بِنْ إِسْماَعِيْلَ بِنْ العَباَّسِ الوَرَاقِ إِمْلاَءً قاَلَ حَدَّثَنِي أَبِيْ حَدَّثَناَ أَبُوْ العَبّاَسِ الفَضْلِ بِنْ يَعْقُوْبِ الرَّخاَمِي حَدَّثَناَ دَاوُدُ بِنْ المُحْبِرِ حَدَّثَناَ سُلَيْماَنُ بِنْ الحِكَمْ عَنِ العُلاَءِ بِنْ بَكِيْرِ عَنْ مَكْحُوْلٍ ؛

Kami menerima khabar dari Abu baker Muhammad bin Ismail bin Al-‘Abbas Al-Waroq dalam bentuk Imla. Aku menerima khabar dari ayahku. Kami mnerima khabar dari Abu Al-‘Abbas Al-Fadli bin Ya’kub Ar-Rakhomi. Kami menerima khabar dari Daud bin Al-Muhajir. Kami menerima khabar dari Sulaiman bin Al-Hikam, dari Al-‘Ula bin baker, dari Syekh Makhul ;

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ أَباَ الدَّرْداَءِ عَنْ صِياَمِ رَجَبَ فَقاَلَ سَأَلَ عَنْ شَهْرِ كاَنَتْ الجاَهِلِيَّةُ تَعْظِمُهُ فيِ جاَهِلِيَّتِهاَ وَماَزَادَهُ الإِسْلاَمُ إِلاَّ فَضْلاً وَتَعْظِيْماً

Bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Abu Darda (rowi hadits) tentang puasa bulan Rajab. Beliau menjawab, Bulan Rajab ialah bulan yang diagungkan juga oleh kaum Jahiliyyah di masa Jahiliyyahnya, sebagai tambahan dari ajaran Islam hanyalah bahwa bulan Rajab banyak keutamaan dan mengagungkan.

فَمَنْ صاَمَ فِيْهِ يَوْماً تَطُوَّعاً يَحْتَسِبُ بِهِ ثَواَبَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَبْتَغِي بِهِ وَجْهَهُ مُخْلِصاً , أَطْفَأَ صَوْمُهُ ذَلِكَ اليَوْمِ غَضَبَ اللهِ , أَغْلَقَ عَنْهُ باَباً مِنْ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ وَلَوْ أَعْطَى مِلْءَ الأَرْضِ ذَهَباً ماَ كاَنَ ذَلِكَ جَزَاءً لَهُ , وَلاَ يَسْتَكْمِلُ أَجْرَهُ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْياَ دُوْنَ يَوْمِ الحِساَبِ , وَلَهُ إِذاَ أَمْسَى عَشْرَ دَعَوَاتٍ مُسْتَجاَباَتٍ فَإِنْ دَعاَ بِشَيْءٍ مِنْ عاَجِلِ الدُّنْياَ أَعْطِيْهِ وَإِلاَّ أَرْضَى لَهُ مِنَ الخَيْرِ أَفْضَلُ دُعاَءٍ دَعاَهُ دَاعٍ مِنْ أَوْلِياَءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَحِبّاَئِهِ وَأَصْفِياَئِهِ

Barangsiapa berpuasa sunnah satu hari di bulan Rajab, atas dasar ikhlas karena Allah semata serta mengharap pahala dari Allah SWT, maka puasa satu hari akan meredamkan murka Allah di hari itu, Allah akn mengunci pintu-pintu neraka Jahannam baginya. Apabila diberikan emas sepenuh isi bumi maka itu belum seberapa dibanding dengan balasan pahala puasa satu hari darinya. Sesuatu apapun di dunia tidak akan sempurna menyamai pahala puasa satu hari di hari pembalasan. Sepuluh macam do’a dari seorang berpuasa satu hari akan segera dikabulkan. Apabila ia berdo’a untuk dunianya maka akan segera dikabulkan. Ia akan mendapatkan do’a dari para wali Allah, dari para kekasih Allah dan dari para hamba pilihan Allah SWT.

وَمَنْ صاَمَ يَوْمَيْنِ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَهُ مَعَ ذَلِكَ ثَوَابُ عَشْرَةٍ مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ فيِ عُمْرِهِمْ باَلِغَةً أَعْماَرَهُمْ ماَبَلَغَتْ وَيَشْفَعُ فيِ مِثْلِ ماَيَشْفَعُوْنَ فِيْهِ وَيَكُوْنُ فيِ زُمْرَتِهِمْ حَتَّى يَدْخُلَ الجَنَّةِ مَعَهُمْ وَيَكُوْنُ مِنْ رُفْقاَئِهِمْ  

Barangsiapa berpuasa sunnah dua hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan mendapatkan pahala sepuluh Siddiqin (orang-orang benar) selama umur mereka dalam sepenuhnya melakukan kebaikan. Ia akan dapat memberi syafaat kepada yang lain sebagaimana mereka memberi syafaat. Ia akan berkumpul bersama mereka. Ia akan masuk sorga bersama mereka dan menjadi sahabat mereka.

وَمَنْ صاَمَ ثَلاَثَةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَقاَلَ اللهُ لَهُ عِنْدَ إِفْطاَرِهِ - لَقَدْ وَجَبَ حَقُّ عَبْدِي هَذَا وَوَجَبَتْ لَهُ مَحَبَّتِي وَوِلاَيَتِي أُشْهِدُكُمْ ياَمَلاَئِكَتِي أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ ماَ تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَماَ تَأَخَّرَ  

Barangsiapa berpuasa sunnah tiga hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga pada saat berbuka puasa Allah berkata kepadanya “Sungguh ia wajib mendapatkan hak seorang hamba-Ku, ia wajib mendapat kasihsayang-Ku, ia wajib mendapatkan perlindungan-Ku, wahai malaikat-Ku saksikan oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosanya baik dosa yang telah lalu ataupun dosa yang berikutnya.

وَمَنْ صاَمَ أَرْبَعَةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَمِثْلُ ثَوَابِ أُوْلىِ الأَلْباَبِ التَّوَّابِيْنَ وَيُعْطِى كِتاَبَهُ فيِ أَوَّلِ الفاَئِزِيْنِ  

Barangsiapa berpuasa sunnah empat hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan mendapatkan pahala orang-orang cerdas (para Wali) yang bertaubat dan diserahkan buku amalnya bersama orang yang pertama kali mendapat kebahagiaan.

وَمَنْ صاَمَ خَمْسَةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَيُبْعَثُ يَوْمَ القِياَمَةِ وَوَجُهُهُ مِثْلُ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ وَيُكْتَبُ لَهُ عَدَدُ رَمَلِ عَالِجِ حَسَناَتٍ وَيَدُخُلَ الجَنَّةَ وَيُقاَلُ لَهُ تَمَنَّ عَلَى اللهِ ماَ شِئْتَ

Barangsiapa berpuasa sunnah lima hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan dibangkitkan di hari qiyamah, mukanya bersinar laksana bulan purnama, ia dicatat memiliki kebaikan sejumlah pasir di pantai, ia akan masuk sorga dan dipersilahkan memohon apa saja kepada Allah SWt dan dikabulkan.

وَمَنْ صاَمَ سِتَّةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَيُعْطِى سِوَى ذَلِكَ نُوْراً يَسْتَضِيْءُ بِهِ أَهْلَ الجَمْعِ يَوْمَ القِياَمَةِ وَيُبْعَثُ فيِ الآَمِنِيْنَ حَتَّى يَمِرَّ عَلَى الصِّراَطِ بِغَيْرِ حِساَبٍ وَيُعاَفىِ مِنْ عُقُوْقِ الوَالِدَيْنِ وَقَطِعْيَةِ الرَّحْمِ وَيَقْبَلُ اللهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ إِذاَ لَقِيَهُ يَوْمَ القِياَمَةِ

Barangsiapa berpuasa sunnah enam hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan diberikansinar yang menerangi semua orang di hari qiyamah. Ia dibangkitkan bersama orang-orang yang amanah sehingga dapt melewati jembatan Sirothol-Mustaqim tanpa perhitungan halangan. Ini dengan syarat ia tidak memiliki dosa menyakiti kedua orang tua dan dosa memutuskan Silatur-Rahmi. Ia akan diterima Allah apabila ia ingin bertemu Allah di hari qiyamah.

وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَتُغْلَقُ عَنْهُ سَبْعَةُ أَبْوَابِ الجَحِيْمِ وَحَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النّاَرِ وَأَوْجَبَ لَهُ الجَنَّةَ يَتَبَوَّأُ مِنْهاَ حَيْثُ يَشَاءْ

Barangsiapa berpuasa sunnah tujuh hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga akan terkunci baginya tujuh pintu neraka Jahim serta Allah haramkandirinya ke neraka dan Allah wajibkan ia masuk sorga yang disediakan, sorga mana saja yang ia mau.

وَمَنْ صاَمَ ثَمَانِيَّةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَفُتِحَتْ لَهُ ثَماَنِيَّةُ أَبْواَبِ الجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيُّهاَ شاَءَ

Barangsiapa berpuasa sunnah delapan hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga akan dibukakan baginya delapan pintu sorga dan akan memasukinya dari pintu mana saja yang ia mau.

وَمَنْ صاَمَ تِسْعَةَ أَيّاَمٍ كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَرُفِعَ كِتاَبُهُ فيِ عِلِيِّيْنَ وَيُبْعَثُ يَوْمَ القِياَمَةِ فيِ الآَمِنِيْنَ وَيَخْرُجُ مِنْ قَبْرِهِ وَوَجْهُهُ نُوْرٌ يَتَلاَءْلاَءُ يَشْرُقَ ِلأَهْلِ الجَمْعِ يَقُوْلُوْنَ هَذَا نَبِيُّ مُصْطَفَى وَإِنْ أَدْنَى ماَ يُعْطِى أَنْ يَدْخُلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِساَبٍ

Barangsiapa berpuasa sunnah enam hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan dinaikkan catatannya dalam sorga ‘Iliyyin. Ia akan dibangkitkan di hari qiyamah bersama orang-orang yang amanah. Ia akan keluar dari kuburnya, mukanya bercahaya menerangi semua orang di hari qiyamah, mereka pada berkata ‘Orang ini ialah seorang nabi yang terpilih’ (diduga seorang nabi). Karunia terendah yang akan diberikan padanya ialah mask sorga tanpa perhitungan.

وَمَنْ صاَمَ عَشْرَةَ أَيّاَمٍ فَبَخٍ بَخٍ بَخٍ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَعشْرَةُ أَضْعاَفٍ وَهُوَ مِمَّنْ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئاَتَهُ حَسَناَتٍ وَيَكُوْنُ مِنَ المُقَرَّبِيْنَ القَوَّامِيْنَ ِللهِ بِالقِسْطِ كَمَنْ عَبَدَ أَلْفَ سَنَةٍ قاَئِماً صاَئِماً صاَبِراً مُحْتَسِباً

Barangsiapa berpuasa sunnah sepuluh hari di bulan Rajab, maka akan jelas, jelas, jelas ia mendapatkan pahala diatas. Ia akan mendapatkan pahala tersebut sepuluh kali lipat. Ia termasuk orang yang Allah gantikan keburukannya menjadi kebaikan. Ia termasuk orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, teguh ibadah karena Allah, ia laksana seorang yang beribadah seribu tahun, siangnya berpuasa malamnya bangun ibadah, sabar dan selalu memiliki kegiatan ibadah karena Allah.

وَمَنْ صاَمَ عِشْرِيْنَ يَوْماً كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَعِشْرُوْنَ ضِعْفاً وَهُوَ مَنْ يُزَاحِمُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلُ اللهِ فيِ قَبْتِهِ وَيَشْفَعُ فيِ مِثْلِ رَبِيْعَةِ وَمُضِرِّ كُلِّهِمْ مِنْ أَهْلِ الخَطاَياَ وَالذُّنُوْبِ

Barangsiapa berpuasa sunnah dua puluh hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan mendapatkan pahala tersebut dua puluh kali lipat. Ia termasuk orang yang dekat sekali bersama Nabi Ibrahim kekasih Allah, dalam tempat tinggalnya. Ia akan diberikan memberi syafaat kepada yang lain seperti Siti Robi’ah (wali allah). Ia juga akan diizinkan memberi pertolongan kepada semua orang yang berbahaya, yaitu diantara mereka yang melakukan kehilapan dan dosa selama di dunia.

وَمَنْ صاَمَ ثَلاَثِيْنَ يَوْماً كاَنَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ وَثَلاَثُوْنَ ضِعْفاً وَناَدَى مُناَدٍ فىِ السَّماَءِ أَبْشِرْ ياَ وَلِيَ اللهِ بِالكَرَامَةِ العُظْمَى النَّظْرُ إِلىَ وَجْهِ اللهِ الكَرِيْمِ عَزَّ وَجَلَّ فىِ مَرَافَقَةِ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحُسْنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقاً طُوْبَى لَكَ طُوْبَى لَكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ غَداً إِذَا كُشِفَ الغِطاَءُ فَأَفْضَيْتَ إِلىَ جَسِيْمِ ثَوَابِ رَبِّكَ  

Barangsiapa berpuasa sunnah tiga puluh hari di bulan Rajab, maka akan mendapatkan pahala diatas. Juga ia akan mendapatkan pahala tersebut tiga puluh kali lipat. Ia dipanggil dari arah langit, “Berbahagialah kamu !, wahai wali Allah, karena ia akan diberikan kemuliaan besar yaitu melihat Dzat Allah yang mulia, maha luhur dan agung. Ia akan bersama kumpulan para Nabi, para Siddiqin (orang-orang benar), para Syuhada (orang-orang sahid), para Solihin (orang-orang soleh) mereka semua berkumpul dan bersahabat. Kebahagaian besar untuk kamu, Kebahagaian besar untuk kamu, Kebahagaian besar untuk kamu, esok apabila penutup pandangan mata telah dibuka maka kamu akan dapat melihat besar dan agungnya pahala dari Tuhanmu”.

فَإِذاَ نَزَلَ بِهِ المَوْتُ سَقاَهُ اللهُ عِنْدَ خُرُوْجِ نَفْسِهِ شُرْبَةً مِنْ حِياَضِ الفِرْدَوْسِ وَيُهَوِّنُ عَلَيْهِ سَكَرَةَ المَوْتِ حَتَّى ماَ يَجِدُ لِلْمَوْتِ أَلَماً فَيَظِلُّ فىِ قَبْرِهِ رِياَناً حَتَّى يَرِدَ حَوْضَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا خَرَجَ مِنْ قَبْرِهِ يَلْقاَهُ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ مَعَهُمْ نَجاَئِبٌ مِنَ الدُّرِ وَالياَقُوْتِ وَمَعَهُمْ طَرَائِفُ الحُلِيِّ وَالحُلَلِ فَيَقُوْلُوْنَ لَهُ ياَ وَلِيَ اللهِ المُنْجِى إِلىَ رَبِّكَ الَّذِيْ أَظْمِيَتْ لَهُ نَهاَرُكَ وَأَنْحَلَتْ لَهُ جِسْمُكَ فَهُوَ أَوَّلُ النّاَسِ دُخُوْلاً جَنّاَتِ عَدْنٍ يَوْمَ القِياَمَةِ مَعَ الفاَئِزِيْنَ الَّذِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ذَلِكَ هُوَ الفَوْزُ العَظِيْمُ  

Apabila ia dijemput oleh kematian, pada saat sakartul-maut Allah akan memberinya minum dari telaga sorga Firdaus, Allah ringankan kepadanya sakaratul-maut sehingga ia tidak merasakan sakit dari pada dahsyatnya kematian. Ia terrlindung dalam kubrunya dan sejahtera sehingga ia akan menemukan telaga Nabi Muhammad SAW. Apabila ia keluar dari kuburnya maka ia disambut oleh tujuh puluh ribu malaikat yang membawa wadah intan berlian, yang membawa berbagai perhiasan dan busana indah. Para malaikat berkata “Wahai Wali Allah yang selalu munajat ibadah kepada Tuhanmu, kamu menggunakan waktu siangmu dengan berpuasa sehingga tubuhmu menjadi kurus”. Ia adalah orang pertama yang akan masuk sorga Aden di hari qiyamah bersama orang-orang yang berbahagia, orang-orang yang direstui Allah dan mereka restu kepada Allah, demikianlah kebahagiaan besar itu.

قاَلَ فَإِنْ كاَنَ لَهُ فىِ كُلِّ يَوْمٍ يَصُوْمُهُ صَدَقَةً عَلَى قَدْرِ قُوَّتِهِ يَتَصَدَّقُ بِهاَ فَهَيْأَتَ هَيْهَأَتَ هَيْهَأَتَ ثَلاَثاً لَوْ اجْتَمَعَ جَمِيْعُ الخَلاَئِقِ عَلَى أَنْ يَقْدِرُوْا قَدْرَ ماَ أُعْطِى ذَلِكَ العَبْدَ مِنَ الثَّوَابِ ماَ بَلِغُوْا مَعْشاَرُ العُشْرِ مِمّاَ أُعْطِيَ ذَلِكَ العَبْدَ مِنَ الثَّواَبِ

Abu Darda menambahkan “Setiap hari yang ia berpuasa pada bulan Rajab maka bernilai pahala sedekah sesuai kemampuan ia melakukan sedekah. Sangat jauh, sangat jauh, sangat jauh, apabila berkumpul semua makhluk di muka bumi melakukan sesuatu untuk menandingi pahala dari Allah yang diberikan kepada orang berpuasa di bulan Rajab, maka mereka tidak akan sanggup menandingi besarnya pahala yang diberikan kepada orang yang berpuasa di bulan Rajab.


ABU AD-DARDA ADALAH SAHABAT NABI MUHAMMAD SAW
Abu Darda ialah ‘Uwemar bin ‘Amir. Nama lainnya Ibnu Qais bin Zaed bin Umayyah bin ‘Adiy bin Ka’ab. Alias ‘Uwemar bin Zaed bin Qais. Alias ‘Amir dan sapaan manjanya ‘Uwemar. Alias ‘Uwemar bin Ts’labah bin ‘Amir binZaed. Hanya saja meskipun banyak perbedaan nama dan turunan mereka sepakat bahwa beliau dari keturunan Ka’ab bin Al-Khazar bin Al-Harits bin Al-Khazar Al-Anshoriy Al-Khazariji. Beliau populer disebut Abu Darda karena anak perempuannya. Beliau agak terakhir masuk Islam dibanding keluarga besarnya. Beliau sangat baik dalam keislaman sehingga ia termasuk seorang Faqih (faham hukum agama) seorang ‘Alim (banyak mengetahui ilmu) seorang Hakiim (Hakim) rujukan hukum agama Islam sebagai sahabat Rasulullah SAW bersma beliau dan Salman. Ada perbedaan pendapat terkait gugur syahid nya beliau di perang Uhud. Banyak orang menyaksikan beliau sebagai penduduk Syam (Suriah). Beliau wafat di Damaskus di usia 32 tahun, menurut pendapat lain di usia 31 tahun dan 34 tahun. ( Kitab Jamie’ Usul Fil Hadits Rasul Juz 12 hal. 621 )


Pustaka : Kitab Fadloil Syahri Rajab - Syekh Abu Muhammad Al-Hasan bin Abu Thalib

Allah mengetahui segalanya.

Jumat, 13 April 2012

HUKUM MENGQODLO SHALAT TERTINGGAL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيْمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى المُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa 103)

WAJIB SEGERA MELAKUKAN QODLO

(وَيُباَدِرُ بِفاَئِتٍ) مِنْ فَرْضِ صَلاَةٍ أَوْ غَيْرِهَا مَتَى تَذَكَّرَهُ وُجُوْباً إِنْ فاَتَ بِغَيْرِ عُذْرٍ تَعْجِيْلاً لِبَرَاءَةِ الذِّمَّةِ فَلاَ يَجُوْزُ لِغَيْرِ المَعْذُوْرِ أَنْ يُصَرِّفَ زَمنًا فيِ غَيْرِ قَضَائِهِ كاَلتَّطَوُّعِ وَفَرْضِ الكِفَايَةِ وَفَرْضِ عَيْنٍ مُوَسَّعٍ إِلاَّ فِيْمَا يَضْطُرَّ إِلَيْهِ كَالنَّوْمِ وَتَحْصِيْلِ مُؤْنَةِ مَنْ تَلْزَمُهُ مُؤْنَتُهُ

Segera melakukan shalat qodlo (melakukan di luar waktunya) dari shalat yang tertinggal, baik dari shalat fardu atau selain selain shalat fardu. Dikala ingat akan shalat yang tertinggal itu. Segera melakukan qodlo ini hukumnya wajib apabila shalatnya tertinggal tanpa 'udzur (boleh tertinggal) kewajiban segera mengqodlo ini adalah untuk segera melepaskan kewajiban yang masih menjadi beban tanggungan. Dengan demikian orang yang tidak memiliki 'udzur dalam meninggalkan shalat fardu dilarang untuk menggunakan waktu hidupnya selain melakukan qodlo fardu tersebut, seperti dilarang mendahulukan shalat sunnah dan shalat fardu kifayah (kewajiban kolektif), juga dilarang mendahulukan shalat fardu a'en (kewajiban individu) yang waktunya leluasa, terkecuali waktu yang digunakan untuk sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, seperti tidur dan mencari nafqah untuk memenuhi kebutuha mereka yang wajib dalam tanggungannya.

وَكاَلصُّوَرِ المُسْتَثْنَاةِ مِنْ وُجُوْبِهَا الفَوْرِيَّةِ وَهِيَ مَسَائِلٌ مِنْهَا ماَ إِذَا خَافَ فَوْتَ أَدَاءٍ حَاضِرَةٍ بِأَنْ عُلِمَ أَنَّهُ لَوْ اشْتَغَلَ بِقَضَاءِ الفَائِتَةِ لَمْ يُدْرِكْ مِنْ وَقْتِ الحَاضِرَةِ مَا يَسَّعُ رَكْعَةً فَيَبْدَأُ بِالحَاضِرَةِ وُجُوْبًا وَخَرَجَ بِفَوْتِ أَدَاءِ الحَاضِرَةِ فَوْتُ جَمَاعَتِهَا فَإِذَا خَافَ فَوْتَهاَ بَدَأَ بِالقَضَاءِ , وَظَاهِرُ هَذَا أَنَّهُ يَبْدَأُ بِالفَائِتَةِ وَلَوْ بِعُذْرٍ وَأَنَّهُ لاَ فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَرْجُو جَمَاعَةً غَيْرَ هَذِهِ أَوْلاَ وَمِنْهَا مَا إِذَا لَمْ يُوْجَدُ إِلاَّ ثَوْبٌ وَاحِدٌ فيِ رُفْقَةِ عُرَّاةٍ أَوْ ازْدَحَمُوْا عَلَى بِئْرٍ أَوْ مَكَانٍ لِلصَّلاَةِ فَلاَ يُقْضَى حَتَّى تَنْتَهِيَ النَّوْبَةُ إِلَيْهِ , وَمِنْهَا فاَقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ إِذَا صَلَّى لِحُرْمَةِ الوَقْتِ ثُمَّ وَجَدَ خَارِجَ الوَقْتِ تُرَابًا لاَ يَسْقُطُ بِهِ الفَرْضُ كَأَنْ كاَنَ بِمَحَلٍ يَغْلِبُ فِيْهِ وُجُوْدُ المَاءِ فَلاَ يُقْضَى بِهِ إِذْ لاَ فَائِدَةَ فِيْهِ , وَمِنْهَا ماَ إِذَا وَجَدَ غَرِيْقًا يَجِبُ إِنْقَاذُهُ فَيَحْرُمُ اِشْتِغَالُهُ بِالقَضَاءِ

Shalat yang dikecualikan dari kewajiban shalat tunai ialah ada bebarapa gambaran ;
1.    Gambaran pertama ; Apabila dikhawatirkan tertinggal shalat tunai, seperti diyakini bahwa apabila sibuk melakukan shalat qodlo yang tertinggal maka tidak dapat mengejar shalat tunai tepat di dalam waktunya, yaitu waktu yang cukup untuk melaksanakan satu raka'at. Maka dalam kondisi ini adalah wajib mendahulukan shalat tunai. Dan dikecuailkan dengan tertinggal shalat tunai ialah tertinggal berjama'ah untuk shalat tunai, artinya apabila dikhawatirkan tertinggal berjama'ah saja maka ia masih wajib mendahlukan shalat qodlo dari shalat yang tertinggal tanpa 'udzur. Lebih jelasnya ialah dalam kondisi seperti itu hendaknya mendahulukan shalat qodlo meskipun shalat qodlo tersebut dari shalat tertinggal karena adanya 'udzur.
2.    Gambaran kedua ; Apabila tidak ditemukan pakaian melainkan hanya satu pakaian dan pakaian itu digunakan dua orang atau lebih, atau mengantri masuk kamar kecil, atau mengantri mendapatkan tempat shalat maka jangan dulu melakukan shalat qodlo sehingga sudah selesai dari kembali semua itu (selesaikan dulu shalat tunai).
3.    Gambaran ketiga ; Apabila seorang yang tidak dapat melakukan dua cara bersuci (wudlu dan tayamum) apabila ia melakukan shalat karena menghormati waktu kemudian setelah keluar waktu shalat ia menemukan tanah untuk tayamum maka kewajiban shalat fardunya tersebut tidak gugur, artinya kewajiban shalat dinyatakan belum ditunaikan. Seperti seseorang berada di suatu empat yang biasanya mudah mendapatkan air maka ia tidak dapat mendahulukan shalat qodlo karena tidak ada manfaat untuk melaksanakan shalat menghormati waktu.
4.    Gamaran keempat ; Apabila menemukan orang yang tenggelam maka ia wajib menyelamatkannya dan haram baginya untuk sibuk melaksanakan qodlo.

SUNNAH SEGERA MELAKUKAN QODLO

وَيُبَادِرُ بِفَائِتٍ اِسْتِحْبَابًا مُسَارِعَةً لِبَرَاءَةِ ذِمَّتِهِ إِنْ فاَتَ بِعُذْرٍ فَإِنَّ وُجُوْبَ قَضَائِهِ عَلَى التَّرَاخِيْ وَالعُذْرُ كَنَوْمٍ لَمْ يَتَعَدَّ بِهِ بِأَنْ كاَنَ قَبْلَ دُخُوْلِ الوَقْتِ أَوْ فِيْهِ وَوَثَقَ بِيَقْظَتِهِ قَبْلَ خُرُوْجِهِ بِحَيْثُ يُدْرِكُ الصَّلاَةَ فِيْهِ فَإِنْ كاَنَ مُتَعَدِيًا بِهِ كَأَنْ نَامَ بَعْدَ دُخُوْلِهِ وَلَمْ يَثَقَ بِيَقْظَتِهِ فِيْهِ وَجَبَ القَضَاءُ فَوْرًا وَحَيْثُ لَمْ يَكُنْ مُتَعَدِيًا بِالنَّوْمِ وَاسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الفَرِيْضَةِ ماَ لاَ يَسَعُ إِلاَّ الوُضُوْءَ أَوْ بَعْضَهُ فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَافاَتَهُ بِعُذْرٍ فَلاَ يَجِبُ قَضَاؤُهَا فَوْرًا

Segera melaksanakan shalat qodlo. Segera qodlo ini hukumnya sunnah, karena untuk membebaskan kewajiban yang ditanggungnya. Sunnah segera ini apabila shalat tertinggal karena ada 'udzur. Karena kewajiban mengqodlonya di atas keleluasaan. Yang dimaksud 'udzur ini adalah seperti tidur yang tidak ada unsur sengaja. Umpamanya tidur sebelum masuk waktu shalat atau tidur di dalam waktu sahalat dan di duga kuat bisa bangun sebelum keluar waktu shalat, sekiranya dapat melakukan shalat masih di dalam waktunya. Apabila tidur ada unsure sengaja, maksudnya seperti tidur setelah masuk waktu shalat dan dugaan kuatnya tidak akan bisa bangun dalam waktu shalat maka dalam hal ini ia wajib qodlo saat itu juga. Sekiranya shalat tertinggal karena ada faktor sengaja sebab tidur, ketika bangun dari tidur masih ada tersisa waktu shalat fardu hanya sempat untuk melaksanakan wudlu saja atau hanya sempat untuk melaksanakan sebagian wudlu, maka hukum shalat ini adalah tertinggal sebab adanya 'udzur, maka tidak wajib mengqodlonya saat itu juga.

وَمِنَ الأَعْذَارِ نِسْيَانٌ لَمْ يَنْشَأُ عَنْ تَقْصِيْرِ فَإِنْ كَانَ عَنْ تَقْصِيْرِ كَاشْتِغاَلِ بِلَعْبٍ فَلَيْسَ عُذْرًا وَاشْتَغَالُ بِمَا يَلْزُمُهُ تَقْدِيْمُهُ عَلَى الصَّلاَةِ كَدَفْعٍ صَائِلٍ وَتُقْضَى الجُمْعَةُ ظَهْرًا

Diantara 'udzur dalam shalat ialah lupa yang timbul bukan dari kelalaian. Apabila lupa shalat sampai tertinggal karena ada unsur lalai seperti sibuk dalam permainan, maka tidak dinyatakan sebagai 'udzur. Dan yang termasuk 'udzur ialah sibuk melakukan sesuatu yang wajib didahulukan daripada pelaksanaan shalat, seperti menyelamatkan orang teraniaya. Dan teknis melaksanakan qodlo jum'at adalah dengan cara melaksanakan shalat dzuhur.

وَيُنْدَبُ قَضَاءُ النَّوَافِلِ المُؤَقَّتَةِ دُوْنَ النَّفْلِ المُطْلَقِ وَذِي السَّبَبِ وَلَوْ كَانَ عَلَيْهِ فَوَائِتٌ لاَيَعْلَمُ عَدَدَهَا قَضَى ماَتَحَقَّقَ تَرْكُهُ فَلاَ يُقْضَى المَشْكُوْكُ فِيْهِ عَلَى مَاقَالَهُ القَفَالُ وَالمُعْتَمَدُ مَاقاَلَهُ القَاضِى حُسَيْنِ أَنَّهُ يُقْضَى مَازَادَ عَلَى مَاتَحَقَّقَ فَعْلُهُ فَيُقْضَى مَاذُكِرَ

Disunnahkan melaksanakan qodlo shalat sunnah yang memaiki waktu, tapi tidak untuk shalat sunnah mutlaq (tidak memiliki waktu). Juga disunnahkan melaksanakan qodlo dari shalat sunnah yang memiliki sebab. Apabila seseorang mengaku memiliki shalat yang tertinggal dan belum di qodlo, dan tidak diketahui jumlahnya maka ia dapat mengqodlo hanya dari shalat yang diyakini tertinggal, artinya jangan mengqodlo shalat yang masih dalam keraguan, hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Syekh Al-Qofal. Dan pendapat yang kuat sebagaimana diungkakan oleh Al-Imam Al-Qodlo Husen adalah bahwa boleh mengqodlo shalat melebihi kenyataan yang biasa dilakukannya, silahkan mengqodlo shalat yang telah disebutkan (shalat yang tertinggal).

Contoh Niat Qodlo shalat fardu Dzuhur ;

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ قَضاَءً (مَأْمُوْماً/إِماَماً) ِللهِ تَعاَلىَ-أَللهُ أَكْبَرُ
“Saya melaksanakan shalat fardu Dzuhur empat raka’at menghadap kiblat qodlo (makmum/imam) karena Allah”

Contoh Niat Qodlo shalat sunnah Tahajud ;

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّهَجُدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ قَضاَءً ِللهِ تَعاَلىَ-أَللهُ أَكْبَرُ
“Saya melaksanakan shalat sunnah Tahajud dua raka’at menghadap kiblat qodlo karena Allah”

 By Ahmad Daerobiy Mobile +6285714619749
Pustaka : Fiqih Imam Syafe'i- Kitab Nihayatuz-Zein Syekh Nawawi

WASPADALAH..., MENDAPATKAN ILMU TANPA GURU

وَمِنْ كَلاَمِ أَبِيْ يَزِيْدْ البُسْطاَمِيْ قُدِّسَ سِرُّهُ ؛ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطاَنُ

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy quddisa sirruh menyatakan ; Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.

Tafsir Ruhul-Bayan, Juz 5 hal. 203 Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60

Ketika tidak mendapatlan ilmu tanpa guru maka jelas dia gurunya syetan dan kesesatannya lebih terbuka lebar, maka waspadailah. Apakah anda punya guru agama? Datangilah beliau, jika anda ingin mendapatkan ilmunya dan bermanfaat..



Lihat LOKASI MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA di peta yang lebih besar

JAMA'AH MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA