Saturday, April 12, 2014

SHALAT ITU AKHLAQ ORANG BERIMAN



 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَعَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قاَلَ مَنْ حاَفَظَ عَلَى الصَّلاَةِ أَكْرَمَهُ اللهُ بِخَمْسِ خِصاَلٍ يَرْفَعُ عَنْهُ ضَيْقَ العَيْشِ وَعَذاَبَ القَبْرِ وَيُعْطِيْهِ كِتاَبَهُ بِيَمِيْنِهِ وَيَمُرُّ عَلَى الصِّراَطِ كاَلبَرْقِ وَيَدْخُلُ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِساَبٍ

Hadits ini disampaikan baginda Nabi Saw, bahwa Nabi berkata, barangsiapa memelihara shalat maka Allah memuliakannya dengan lima hal :
1.       Allah menghilangkan darinya kesulitan dalam hidup
2.       Allah menghilangkan darinya siksa kubur
3.       Allah memberikan buku amalnya dari sebelah kanan
4.       Allah melewatkan dia di atas jembatan Shirotol mustaqim secepat kilat yang menyambar
5.       Masuk ke sorga tanpa hisab

وَمَنْ تَهاَوَنَ بِالصَّلاَةِ عاَقَبَهُ اللهُ بِخَمْسَ عَشَرَةَ عُقُوْبَةً سِتٍّ فىِ الدُّنْياَ وَثَلاَثٍ عِنْدَ المَوْتِ وَثَلاَثٍ عِنْدَ دُخُوْلِهِ فىِ القَبْرِ وَثَلاَثٍ عِنْدَ لِقاَءِ رَبِّهِ أَىْ مَوْقِفِ القِياَمَةِ

Barang siapa menyia-nyiakan shalat maka Allah menyiksanya dengan lima belas macam siksa, enam diantaranya di dunia, tiga diantaranya di saat kematian, tiga diantaranya di saat masuk ke kubur, tiga diantaranya di saat bertemu tuhannya yaitu di mauqif qiyamah.

فَأَمَّا للِّواَتىِ فىِ الدُّنْياَ فَالأُوْلىَ تُنْزِعُ البَرَكَةُ مِنْ عُمْرِهِ وَالثَّانِيَّةُ تُمْحَى سِيْماَالصَّالِحِيْنَ مِنْ وَجْهِهِ وَالثَّالِثَةُ كُلُّ عَمَلٍ يَعْمَلُهُ لاَيُؤَجِرُهُ اللهُ عَلَيْهِ وَالرَّابِعَةُ لاَيُرْفَعُ لَهُ دُعاَءٌ إِلىَ السَّماَءِ وَالخاَمِسَةُ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ فىِ دُعاَءِ الصَّالِحِيْنَ وَالسَّادِسَةُ تَخْرُجُ رُوْحُهُ بِغَيْرِ إِيْماَنٍ

Adapun enam macam siksa yang terdapat di dunia adalah :
1.       Di angkat keberkahan dari umurnya
2.       Di hapus tanda kesholehan dari mukanya
3.       Setiap amal yang di lakukannya tidak di balas Allah
4.       Doánya tidak di angkat ke langit atau tidak di terima
5.       Tidak mendapatkan bagian dari doánya orang-orang soleh
6.       Ruhnya keluar tidak membawa Iman.

وَأَمَّاالَّتِى تُصِيْبُهُ عِنْدَ المَوْتِ فَالأُوْلىَ أَنْ يَمُوْتَ ذَلِيْلاً وَالثَّانِيَّةُ أَنْ يَمُوْتَ جاَئِعاً وَالثَّالِثَةُ أَنْ يَمُوْتَ عَطْشاَنَ وَلَوْ سُقِىَ بِحاَرَ الدُّنْياَ ماَرَوِىَ

Adapun tiga macam siksa yang mengenainya ketika mengalami kematian adalah ;
1.       Dia mati dalam keadaan hina
2.       Mati dalam keadaan sangat lapar
3.       Mati dalam keadaan sangat dahaga, apa bila dia meminum air laut maka tidak membuatnya segar.

وَأَمَّاالَّتِى تُصِيْبُهُ فىِ القَبْرِ فاَلأُوْلىَ يُضَيِّقُ اللهُ عَلَيْهِ القَبْرَ حَتَّى تَخْتَلِفَ أَضْلاَعُهُ وَالثَّانِيَّةُ يُوْقَدُ عَلَيْهِ فىِ قَبْرِهِ يَتَقَلَّبُ عَلَى الجَمْرِ لَيْلاً وَنَهاَراً وَالثَّالِثَةُ يُسَلِّطُ عَلَيْهِ فىِ قَبْرِهِ ثُعْباَنٌ إِسْمُهُ الشُّجاَعُ الأَقْرَعُ يَضْرِبُهُ عَلَى تَضْيِيْعِ الصَّلَواَتِ وَيَسْتَغْرِقُ تَعْذِيْبَهُ بِمِقْداَرِ أَوْقاَتِ الصَّلَواَتِ

Adapun tiga macam siksa yang mengenainya ketika di alam kubur adalah ;
1.       Allah menyempitkan kuburnya sehingga tulang-tulang tubuhnya menyatu
2.       Di nyalakan api dalam kuburnya dia di bakar di atas bara api siang dan malam tanpa henti
3.       Allah kirim ke kuburnya Ular besar namanya Syuja’ulaqro ( Kuku yang perkasa ), Ular ini memukulnya karena dia menyia-nyiakan shalat seta menunda siksa kira-kira waktu shalat.

وَأَمَّالَّتِى تُصِيْبُهُ عِنْدَ لِقاَءِ رَبِّهِ إِذاَ انْشَقَّتِ السَّماَءُ يَأْتِيْهِ مَلَكٌ وَبِيَدِهِ سِلْسِلَةٌ ذَرْعُهاَ سَبْعُوْنَ ذِراَعاً فَيُعَلِّقُهاَ فىِ عُنُقِهِ ثُمَّ يُدْخِلُهاَ فىِ فِيْهِ وَيُخْرِجُهاَ مِنْ دُبُرْهِ وَهُوَ يُناَدِى هَذاَ جَزاَءٌ مَنْ يُضَيِّعُ فَراَئِضِ اللهِ , قاَلَ ابْنُ عَبَّاسَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُماَ لَوْ أَنَّ حَلْقَةً مِنْ سِلْسِلَةٍ وَقَعَتْ عَلَى الأَرْضِ َلأَحْرَقَتْهاَ , الثَّانِيَّةُ لاَيَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِ وَالثَّالِثَةُ لاَيُزَكِّيْهِ وَلَهُ عَذاَبٌ أَلِيْمٌ

Adapun siksa yang mengenainya ketika bertemu tuhannya adalah ; Apabila matahari terbelah maka datang malaikat kepadanya, di tangan malaikat itu ada rantai yang panjangnya kira-kira 35 meter ( 1 Diro’= ½  meter ), kemudian malaikat itu membelenggukannya dalam pundaknya, lalu memasukannya pada mulutnya dan mengeluarkan rantai itu dari duburnya seraya malaikat itu berkata, Inilah balasan orang yang menyia-nyiakan kewajiban Allah Swt. Al-Imam Ibnu Abbas ra berkata, Apabila salah satu ikatan dari rantai tersebut jatuh ke bumi maka bumi akan terbakar habis.

Kedua Allah tidak melihatnya dengan rahmat dan ketiga Alah tidak mensucikannya serta dia akan mendapatkan siksa  pedih

وَيُرْوَى أَنَّهُ أَوَّلُ ماَيَسْوَدُّ يَوْمَ القِياَمَةِ وُجُوْهُ تاَرِكِى الصَّلاَةِ وَأَنَّ فىِ جَهَنَّمَ واَدِياً يُقاَلُ لَهُ لَمْلَمٌ فِيْهِ حَيَّاتٌ كُلُّ حَيَّةٍ بِثِخَنِ رَقَبَةِ البَعِيْرِ طُوْلُهاَ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ تَلْسَعُ تاَرِكَ الصَّلاَةِ فَيَغْلِى سُمُّهاَ فىِ جَسَدِهِ سَبْعِيْنَ سَنَةً ثُمَّ يَتَهَرَّى لَحْمُهُ

Diriwayatkan, bahwasanya awal mula sesuatu yang berubah menjadi hitam di hari qiyamah adalah muka orang yang meninggalkan shalat. Dan di neraka Jahannam terdapat jurang namanya Lamlam, didalam Lamlam terdapat banyak ular, setiap ular kepalanya seperti sebesar kepala unta, panjangnya jarak satu bulan, dia mengigit orang yang suka meninggalkan shalat hingga bergolak bisa ular tersebut dalam jasadnya selama tujuh puluh tahun, kemudian daging dan kulitnya mengelupas.

وَفىِ حَدِيْثٍ آخَرَ مَنْ دَواَمَ عَلَى الصَّلَولَتِ الخَمْسِ فىِ جَماَعَةٍ أَعْطاَهُ اللهُ تَعاَلىَ خَمْسَ خِصاَلٍ يَرْفَعُ اللهُ عَنْهُ ضَيْقَ العَيْشِ وَيَرْفَعُ عَنْهُ عَذاَبَ القَبْرِ وَيُعْطَى كِتاَبَهُ بِيَمِيْنِهِ وَيَمُرُّ عَلَى الصِّراَطِ كاَلبَرْقِ الخاَطِفِ وَيَدْخُلُ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِساَبٍ

Dalam hadits lain diterangkan, Barangsiapa merutinkan shalat yang lima waktu berjamaáh maka Allah memberikannya lima hal ;
1.       Allah menghilangkan darinya kesulitan dalam hidup
2.       Allah menghapuskan darinya siksa kubur
3.       Allah memberikan buku amalnya di sebelah kanan
4.       Dia melewati jembatan dengan cepat seperti kilat menyambar
5.       Dia memasuki sorga tanpa hisab

وَمَنْ تَهاَوَنَ بِالصَّلاَةِ فىِ الجَماَعَةِ رَفَعَ اللهُ البَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِ وَرِزْقِهِ وَلاَيَقْبَلُ مِنْهُ ساَئِرَ عَمَلِهِ وَيَنْزِعُ مِنْهُ سِيْماَالخَيْرِ مِنْ وَجْهِهِ وَيَكُوْنُ بَغِيْضاً فىِ قُلُوْبِ النَّاسِ وَتُقْبَضُ رُوْحُهُ وَهُوَ جاَئِعٌ عَطْشاَنُ وَيُشَدِّدُ عَلَيْهِ فىِ سُؤاَلِ القَبْرِ وَيَكُوْنُ قَبْرُهُ ضَيْقاً مُظْلِماً وَيُشَدِّدُ عَلَيْهِ فىِ الحِساَبِ يَوْمَ القِياَمَةِ وَيَغْضَبُ عَلَيْهِ الرَّبُّ وَيُعاَقِبَهُ بِدُخُوْلِ النَّارِ

Barangsiapa menyia-nyiakan shalat berjamaáh maka ;
1.       Allah mengangkat keberkahan dari usaha dan rezekinya
2.       Allah tidak menerima segala amal kebaikannya
3.       Allah hilangkan tanda kebaikan dari mukanya
4.       Dia di benci oleh setiap hati manusia
5.       Ruhnya di cabut dalam keadaan sangat lapar dan haus
6.       Di beratkan dalam pertanyaan kubur
7.       Kuburnya sempit dan gelap
8.       Di beratkan dalam hisabnya di hari qiyamah
9.       Allah membencinya
10.    Akibatnya dia memasuki neraka

وَقاَلَ قَتاَدَةُ عَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فَإِنَّهاَ خُلُقُ المُؤْمِنِيْنَ

Imam Qotadah berkata, berpegang teguhlah untuk mendirikan shalat karena mendirikan shalat adalah budi pekerti orang-orang yang beriman…

Allah Mengetahui segalanya…

Pustaka : Majmu’ Ala Arba’i-Rasail Syekh Ibnu Hajar Al-Haetami

Sunday, March 30, 2014

TUJUH SIASAT SYETAN MEMPERDAYA MANUSIA



بسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
( أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ ) أي أَلَمْ أُوْصِ إِلَيْكُمْ ( يَا بَنِيْ آَدَمَ ) عَلَى لِسَانِ رُسُلِىْ (أَنْ لاَ تَعْبُدُوْا الشَّيْطَانَ ) أَيْ لاَ تُطِيْعُوْهُ ( إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ) أَيْ ظَاهِرُ العَدَاوَةِ
Apakah Aku tidak memberi pesan kepada kalian wahai keturunan Nabi Adam melalui utusan-utusanKu
Agar kalian tidak mengikuti syetan, karena syetan bagi kalian ialah musuh yang nyata
(QS. Yasin 60, Tafsir Lubed Al-Munir Syekh Nawawi)

( وَأَمَّا فَصْلُ الحِيَلِ وَالمُخَادَعاَتِ مِنَ الشَّيْطاَنِ ) فَمَجْرَى ذَلِكَ وَمِثاَلُهُ ؛ أَنَّ مَكاَيِدَ الشَّيْطَانِ مَعَ ابْنِ آَدَمَ فىِ الطَّاعَةِ فىِ سَبْعَةِ أَوْجُهٍ :
(Adapun fasal siasat dan tipu daya dari syetan ) maka hal ini terjadi dalam realita : Bahwa tipu daya syetan terhadap kita anak Adam (manusia) dikala taat melakukan amal ibadah, terangkum pada tujuh macam :

أَحَدُهَا أَنْ يَنْهاَهُ عَنْهَا , فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ رَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ إِنِّى لَمُحْتاَجٌ إِلىَ ذَلِكَ جِدًّا إِذْ لاَبُدَّ لىِ مِنَ التَّزَوُّدِ مِنْ هَذِهِ الدُّنْيَا الفَانِيَةِ لِلأَخِرَةِ الَّتِى لاَ انْقِضاَءَ لَهاَ
Pertama : Syetan melarang langsung kita untuk taat melakukan amal ibadah. Apabila Allah melindungi kita dan bisa menghadang godaan itu, diantara menghadang godaan syetan itu ialah seperti dengan berkata “Aku sangat membutuhkan amal ibadah, karena aku mau tidak mau harus mengumpulkan bekal di dunia fana ini untuk kehidupan kelak di akhirat yang abadi”.

ثُمَّ يَأْمُرُهُ بِالتَّسْوِيْفِ , فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَرَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ لَيْسَ أَجَلِيْ بِيَدِى , عَلَى أَنِّى إِنْ سَوَّفْتُ عَمَلَ اليَوْمِ إِلىَ غَدٍ فَعَمَلُ غَدٍ مَتَى أَعْمَلُهُ ؟ فَإِنَّ لِكُلِّ يَوْمٍ عَمَلاً
Kedua : Kemudian syetan memperdaya kita denagn menunda melakukan amal ibadah. Apabila Allah melindungi dan bisa menghadang tipu daya itu, diantara menghadang tipu daya syetan itu ialah seperti dengan berkata “Ajal kematian-ku bukan berada di tanganku, seandainya aku menunda amal ibadah hari ini sampai besok, lalu amal ibadah yang harus dilakukan besok mau dilakukan kapan? Karena di setiap hari itu memiliki ruang amal ibadah masing-masing.”

ثُمَّ يَأْمُرُهُ بِالعَجَلَةٍ فَيَقُوْلُ لَهُ عَجِّلْ عَجِّلْ لِتَتَفَرَّغَ لِكََذَا وَكَذَا , فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَرَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ قَلِيْلُ العَمَلِ مَعَ التَّمَامِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيْرِهِ مَعَ النُّقْصَانِ
Ketiga : Kemudian syetan memperdaya kita untuk cepat-cepat melakukan amal ibadah. Syetan berkata pada kita “Cepat-cepatlah kau melakukan amal ibadah itu, agar kau memiliki banyak waktu luang untuk melakukan anu dan anu.” Apabila Allah melindungi kita dan bisa menghadangnya, diantara menghadang tipu daya syetan itu ialah seperti dengan berkata “Amal ibadah sedikit namun sempurna ialah lebih baik daripada amal ibadah banyak namun kurang sempurna.”

ثُمَّ يَأْمُرُهُ بِإِتْماَمِ العَمَلِ مُرَاآَةً لِلنَّاسِ , فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَرَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ ماَ الَّذِى أَعْمَلُ بِمُرَاآَةِ النَّاسِ ؟ أَفَلاَتَكْفِيْنِى رُؤْيَةُ اللهِ تَعاَلىَ
Keempat: Kemudian syetan memperdaya kita untuk menyempurnakan melakukan amal ibadah namun di iringi riya, ingin dipandang orang lain. Apabila Allah melindungi kita dan bisa menghadangnya, diantara menghadang tipu daya syetan itu ialah seperti dengan berkata “Apa yang aku inginkan apabila melakukan amal ibadah di iringi riya, ingin dipandang orang lain, apakah tidak cukup seandainya hanya Allah saja yang memandang?”

ثُمَّ يُرِيْدُ أَنْ يُوَقِعَهُ فىِ العُجْبِ , فَيَقُوْلُ ماَأَعْظَمَكَ وَمَاأَيْقَظَكَ وَمَاأَفْضَلَكَ ! فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَرَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ المِنَّةُ ِللهِ تَعَالىَ فىِ ذَلِكَ دُوْنِى فَهُوَ الَّذِى خَصَّنِى بِتَوْفِيْقِهِ وَجَعَلَ لِعَمَلِى قِيْمَةً عَظِيْمَةً بِفَضْلِهِ , وَلَوْلاَ فَضْلُهُ فَمَاذَا قِيْمَةُ هَذَا العَمَلِ فىِ جَنْبِ نِعْمَةِ اللهِ تَعَالىَ عَلَىَّ وَجَنْبِ مَعْصِيَّتِى لَهُ ؟
Kelima : Kemudian syetan ingin menjerumuskan kita dengan merasa besar atau bangga diri saat telah melakukan amal ibadah yang sempurna. Syetan berkata pada kita “Hebatlah kau bisa melakukan amal ibadah yang membuatmu besar dan terpandang, hebatlah kau bisa bangkit untuk melakukan amal ibadah, hebatlah kau bisa melakukan amal ibadah yang mengantarkan pada tingkat kemuliaan.” Apabila Allah melindungi kita dan bisa menghadangnya, diantara menghadang tipu daya syetan itu ialah seperti dengan berkata “Semua karunia itu, termasuk kehebatan bisa rajin melakukan amal ibadah adalah milik Allah, semata-mata kemurahanNya. Karena Dialah yang memberikan taufiq pada kita, Dia juga yang menjadikan amal ibadah itu memiliki nilai yang tinggi, semua karena kemurahanNya. Seandainya tidak ada kemurahan dariNya, maka apalah nilainya melakukan amal ibadah ini dibandingkan dengan nikmat Allah kepada kita, a[alagi dibandingkan dengan perbuatan maksiat yang kita lakukan?”
ثُمَّ يَأْتِيْهِ مِنْ وَجْهٍ ساَدِسٍ وَهُوَ أَعْظَمُهَا وَلاَيَقِفُ عَلَيْهِ إِلاَّ مُتَيَقِّظٌ وَهُوَ أَنْ يَقُوْلَ إِجْتَهِدْ أَنْتَ فىِ السِّرِّ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ سَيُظْهِرُهُ عَلَيْكَ وَيَلْبِسُ كُلَّ عَامِلٍ عَمَلَهُ , وَأَرَادَ لِذَلِكَ ضَرْبًا مِنَ الرِّياَءِ , فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَرَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ ياَمَلْعُوْنُ إِلىَ الآَنَ كُنْتَ تَأْتِيْنِى مِنْ وَجْهِ إِفْسَادِ عَمَلِى وَالآَنَ تَأْتِيْنِى مِنْ وَجْهِ إِصْلاَحِهِ لِتُفْسِدَهُ , إِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللهِ تَعَالىَ وَهُوَ سَيِّدِى إِنْ شاَءَ أَظْهَرَ وَإِنْ شاَءَ أَخْفَى وَإِنْ شاَءَ جَعَلَنِى خَطِيْرًا وَإِنْ شاَءَ جَعَلَنِى حَقِيْرًا , وَذَلِكَ إِلَيْهِ مَا أُباَلىِ إِنْ أَظْهَرَ ذَلِكَ لِلنَّاسِ أَوْ لَمْ يُظْهِرْهُ فَلَيْسَ بِأَيْدِيْهِمْ شَيْءٌ
Keenam : Kemudian syetan memperdaya kita kali keenam, siasat syetan ini paling dahsyat, tidak akan bisa terlepas dari tipu daya ini melainkan orang yang benar-benar mewaspadai diri. Syetan berkata pada kita “Sebaiknya kamu bersungguh-sungguh melakukan amal ibadah dengan tersembunyi, sehingga lebih menjaga ketulusan, karena dari situ Allah akan megangkatmu menjadi orang terkenal, Allah akan membalas amal ibadah terhadap orang yang memang mengamalkannya.” Tujuan syetan di sini ialah memperdaya kita dengan subtansi dari riya. Apabila Allah melindungi kita dan bisa menghadangnya, diantara menghadang tipu daya syetan itu ialah seperti dengan berkata “Hai syetan laknat..!! semanjak tadi kau terus menjumpai aku, memperdayai aku, untuk merusak amal ibadah yang telah aku lakukan, sekarang kau datang lagi dengan menganjurkan melakukan amal ibadah dengan baik, padahal kau bertujuan mau merusaknya. Aku adalah budak/hamba Allah dan Allah adalah tuan/majikanku, Apabila mau Allah bisa membuatku terkenal, juga bisa membuatku tersembunyi, Allah bisa membuat aku mulia, juga bisa membuat aku nista. Aku tidak peduli, Allah mau melakukan apa untuk diriku, apakah membuat aku terkenal ataupun tidak (yang penting amal ibadah saja), semua makhluq tidak memiliki kekuatan apa-apa”

ثُمَّ يَأْتِيْهِ مِنْ وَجْهٍ سَابِعٍ وَيَقُوْلُ لاَحاَجَةَ لَكَ إِلىَ هَذَا العَمَلِ ِلأَنَّكَ إِنْ خُلِقْتَ سَعِيْدًا لَمْ يَضُرُّكَ تَرْكُ العَمَلِ وَإِنَ خُلِقْتَ شَقِيًّا لَمْ يَنْفَعُكَ فَعْلُهُ , فَإِنْ عَصَمَهُ اللهُ تَعَالىَ وَرَدَّهُ بِأَنْ قاَلَ إِنَّمَا أَناَ عَبْدٌ وَعَلَى العَبْدِ إِمْتِثاَلُ الأَمْرِ لِعُبُوْدِيَّتِهِ وَالرَّبُّ أَعْلَمُ بِرُبُوْبِيَّتِهِ يَحْكُمُ ماَيَشاَءُ وَيَفْعَلُ ماَيُرِيْدُ وَِلأَنَّهُ يَنْفَعُنِى العَمَلُ كَيْفَمَا كُنْتُ ِلأَنِّى إِنْ كُنْتُ سَعِيْدًا إِحْتَجْتُ إِلَيْهِ لِزِباَدَةِ الثَّواَبِ , وَإِنْ كُنْتُ شَقِيًّا فَأَناَ مُحْتاَجٌ إِلَيْهِ كَىْ لاَ أَلُوْمُ نَفْسِى عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَيُعاَقِبُنِى عَلَى الطَّاعَةِ بِكُلِّ حاَلٍ وَلاَيَضُرُّنِى عَلَى أَنِّى إِنْ دَخَلْتُ النَّارَ وَأَناَ مُطِيْعٌ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أَدْخُلُهاَ وَأَناَ عَاصٍ فَكَيْفَ وَوَعْدُهُ حَقٌّ وَقَوْلهُ صِدْقٌ ؟ وَقَدْ وَعَدَ عَلَى الطَّاعاَتِ بِالثَّوَابِ فَمَنْ لَقِىَ اللهَ تَعَالىَ عَلَى الإِيْماَنِ وَالطَّاعَةِ لَمْ يَدْخُلِ النَّارَ أَلْبَتَّةَ , وَدَخَلَ الجَنَّةَ لاَ ِلإِسْتِقاَقِهِ بِعَمَلِهِ الجَنَّةَ وَلَكِنْ لِوَعْدِ اللهِ الصَّادِقِ تَعَالىَ وَتَقَدَّسَ , وَلِهَذَا المَعْنَى أَخْبَرَ اللهُ تَعَالىَ عَنِ السُّعَدَاءِ إِذْ قاَلُوْا الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُ
Ketujuh : Kemudian syetan memperdaya kita kali ketujuh. Syetan berkata pada kita “Kamu tidak perlu melakukan amal ibadah, karena jika kamu tercipta menjadi seorang selamat dan menjadi ahli sorga, tidak melakukan amal ibadah pun pasti akan tetap masuk ke sorga. Juga apabila kamu tercipta menjadi seorang celaka dan masuk neraka, kamu banyak melakukan amal ibadahpun akan tetap masuk neraka.” Apabila Allah melindungi kita dan bisa menghadangnya, diantara menghadang tipu daya syetan itu ialah seperti dengan berkata “Aku adalah hamba, seorang hamba itu di tuntut untuk memenuhi kewajiban seorang hamba, yaitu tetap menyembah kepada tuhanNya. Allah adalah Tuhan Yang maha tahu akan sifat dan sikap akan ketuhananNya, Dia maha tahu sikap seorang Tuhan, menetapkan sesuai yang Dia inginkan dan melakukan sesuai yang Dia kehendaki, Dia juga yang meanganggap amal ibadahku bernilai atau tidak, dimanapun dan kapanpun. Hanya saja seandainya aku seorang selamat dan calon penghuni sorga, aku sangat memerlukan amal ibadah sebagai argumen aku bisa menambah pahala. Seandainya aku seorang celaka dan binasa karena calon penghuni neraka, aku juga memerlukan amal ibadah agar aku tidak menyalahkan diriku sendiri. Karena Allah tidak akan pernah menyiksa orang yang taat melakukan amal ibadah, dengan siksa apapun, bahkan tidak merasakan pedih sekalipun aku masuk neraka. aku lebih suka, merasa terhormat masuk neraka dalam keadaan taat melakukan amal ibadah, daripada masuk neraka dalam keadaan bersenang-senang melakukan maksiat. Dimana letak janji Allah yang maha tepat dan firman-Nya yang maha benar itu?” Padahal, Allah menjanjikan pahala karena melakukan taat amal ibadah. Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan iman dan taat amal ibadah maka ia tidak akan masuk neraka sedkitpun. Masuk sorga bukan berarti karena melakukan amal ibadah wajib dibalas sorga, akan tetapi karena janji Allah yang maha tepat nan maha suci dari kecurangan. Karena makna inilah Allah mengabarkan cirri-ciri orang yang bahagia di akhirat, saat masuk sorga mereka mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang maha tepat dan maha benar akan janji-janjiNya kepada kita.”

فَتَيَقَّظْ رَحِمَكَ اللهُ فَإِنَّ الأَمْرَ كَماَتَرَى وَتَسْمَعُ قِسْ عَلَيْهِ ساَئِرَ الأَحْوَالِ وَالأَفْعاَلِ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ تَعَالىَ وَاسْتَعِذْ بِهِ فإِنَّ اللأَمْرَ بِيَدِهِ وَمِنْهُ التَّوْفِيْقُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
Bangkitlah kamu, semoga Allah mengasihi kamu. Sebagaimana kamu simak dan kamu dengar maka coba kamu terapkan pula pada keadaan dan perbuatan yang lain, mintalah pertolongan dan kemampuan kepada Allah, mohon pula perlindungan kepadaNya dari tipu daya syetan. Karena semua persoalan berada dalam kekuasaaNya, hanya dariNya mendapatlan taufiq. Tidak ada daya untuk berpaling dari maksiat dan tidak ada kekauatan untuk melaukan taat beribadah melainkan hanya dengan pertolongan Allah, Yang maha luhur dan maha agung..

Allah Mengetahui Segalanya.
Pustaka : Minhajul-Abidin Al-Imam Ghozali

WASPADALAH..., MENDAPATKAN ILMU TANPA GURU

وَمِنْ كَلاَمِ أَبِيْ يَزِيْدْ البُسْطاَمِيْ قُدِّسَ سِرُّهُ ؛ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطاَنُ

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy quddisa sirruh menyatakan ; Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.

Tafsir Ruhul-Bayan, Juz 5 hal. 203 Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60

Ketika tidak mendapatlan ilmu tanpa guru maka jelas dia gurunya syetan dan kesesatannya lebih terbuka lebar, maka waspadailah. Apakah anda punya guru agama? Datangilah beliau, jika anda ingin mendapatkan ilmunya dan bermanfaat..


Lihat LOKASI MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA di peta yang lebih besar

NASKAH POPULER