Saturday, October 30, 2010

15 MACAM PENGUNDANG MALAPETAKA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمّنِ الَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
 
A.     15 MACAM PERKARA YANG MENGUNDANG MALAPETAKA
Bilamana kita memperhatikan musibah demi musibah yang terjadi akhir-akhir ini menimpa bangsa Indonesia, dari musibah Gunung Merapi meletus memakan puluhan korban jiwa, di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, musibah  stunami yang melanda kepulauan Mentawai Sumatera Barat, Tanah Longsor Wasior papua, banjir tahunan di Ibu kota Jakarta dan daerah lainnya sampai musibah lumpur Lapindo di Sidoarjo yang tak pernah selesai.

Lalu mengapakah musibah itu bisa terjadi ? atau siapakah yang harus bertanggung jawab dan pantas disalahkan ? yang jelas siapapun tidak akan mau disalahkan. Akan tetapi coba perhatikan dan kembali kepada Allah, Tuhan yang mengetahui semua itu, bagaiman pendapat Allah dan Rasulnya..? mari kita kaji bersama disini..

Islam menjawab sejara jelas dan transparan. Jawaban ini berasal dari jawaban Allah Swt sendiri yang menghendaki semua itu terjadi, dan dipandang dari sisi kehambaan manusia di hadapan Allah Swt,karena memang kita semua adalah hamba tak berdaya, sehingga kita harus tunduk dan patuh atas keinginan Tuhan, Allah SWT.

Dari berbagai literatur Islam yang berhasil saya temukan, bahwa penyebab terjadinya musibah-musibah di muka bumi adalah sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Nabi Saw sebagai berikut :

عَنْ عَلِى رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ : قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ T ؛ إِذاَ فَعَلَتْ أُمَّتِى خَمْسَ عَشَرَةَ خَصْلَةً حَلَّ بِهاَ البَلاَءُ , قِيْلَ وَماَهِىَ ياَرَسُوْلَ اللهِ ؟ قاَلَ ؛ إِذاَ كاَنَ المُغْنِمُ دَوْلاً وَالأَماَنَةُ مُغْنِماً وَالزَّكاَةُ مُغْرَماً وَأَطاَعَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ وَعَقَّ أُمَّهُ وَجَفاَ أَباَهُ وَارْتَفَعَتْ الأَصْواَتُ فىِ المَسَاجِدِ وَكاَنَ زَعِيْمُ القَوْمِ أَرْذَلَهُمْ وَأَكْرَمَ الرَّجُلَ مَخاَفَةَ شَرِّهِ وَشُرِبَتْ الخُمُوْرُ وَلُبِسَ الحَرِيْرُ وَاتُّخِذَتْ القِياَناَتُ وَالمَعاَزِفُ وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَوَّلَهاَ فَلْيَرْتَقِبُوْا عِنْدَ ذَلِكَ رِيْحاً حَمَراَءَ أَوْ خَسَفاً أَوْ مَسَخاً ( رَواَهُ التُّرْمُذِى )
Artinya :
Hadits ini diterima dari baginda Ali ra. Beliau berkata : Baginda Rasulullah Saw bersabda ; 

Apabila ummatku telah melakukan 15 macam perkara maka semua itu akan mengundang musibah, kemudian para sahabat bertanya, apa yang dimaksud 15 macam perkara itu ya Rasulullah ? lalu Rasulullah Saw menjawab :

Pertama, apabila orang yang berprilaku buruk yaitu orang yang selalu mengambil keuntungan duniawi untuk kepentingan pribadinya (materialistis), dijadikan dan dipilih sebagai pemimpin masyarakat.

Kedua, apabila orang mengemban amanah atau ketika dia dipercayai orang lain, amanah dan kepercayaan dijadikannya sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan duniawi.

Ketiga, apabila dana zakat tidak segera dibayarkan atau tidak segera diberikan kepada orang yang berhak, bahkan dana zakat diolah dulu untuk mengambil keuntungan pribadinya.

Keempat, apabila seorang suami sudah tunduk kepada istrinya.

Kelima, apabila seorang manusia sudah berani menyakiti hati ibu kandungnya.

Keenam, apabila seorang manusia sudah berami menentang kepada bapak kandunganya.

Ketujuh, apabila telah terjadi mengeraskan suara di mesjid-mesjid. Artinya pertama ; orang sudah tidak mau datang lagi ke mesjid, sampai-sampai untuk melaksanakan ibadah dan sahalat berjama’ah pun harus dipanggil menggunakan pengeras suara, padahal dia tahu waktu ibadah melaksanakan shalat berjama’ah segera didirikan. Kedua ; orang menjadikan mesjid sebagai tempat hiburan dan sarana pada ajang perlombaan.

Kedelapan, apabila orang yang sangat dipercaya dan orang yang dijadikan tumpuan harapan oleh masyarakat adalah orang yang dianggap hina menurut pandangan agama Islam, seperti orang yang tidak melakukan shalat dan dukun paranormal.

Kesembilan, apabila memuliakan dan mengagung-kan seseorang disebabkan terdorong oleh rasa takut kepada orang tersebut.

Kesepuluh, apabila minuman keras, narkotika dan bahan-bahan psikitrofika lainnya sudah dikonsumsi oleh masyarakat.

Kesebelas, apabila kain-kain sutera sudah dikenakan oleh kaum lelaki, walaupun dengn alasan modis, padahal Islam melarangnya.

Keduabelas, apabila telah menghalalkan dan melegalkan segala macam bentuk hiburan sehingga melalaikan dzikir kepada Allah Swt.

Ketigabelas, apabila telah menghalalkan dan melegalkan alat-alat musik serta memainkannya sehingga melalaikan dzikir kepada Allah Swt.

Keempatbelas, apabila umat manusia di zaman sekarang mengutuk atau menyalahkan para pendahulunya, mereka merasa keterpurukan bangsa disebabkan para pendahulunya.

Kelimabelas, apabila sudah banyak orang menuntut ilmu, tapi bukan pada ilmu agama, mereka hanya mengejar ilmu untuk mendapatkan pekerjaan dan duniawi semata.

( nomor ke 15 ini teradapat pada riwayat lain dan Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya )

Dengan demikian, ketika kamu semua mendapati salah satu dari semua itu maka kamu semua akan tertimpa berbagai macam musibah, seperti hembusan angin merah yang membawa cuaca buruk, dilanda berbagai macam bencana alam sehingga musibah yang sangat menyedihkan yaitu merubah rupa kalian menjadi seekor kera atau babi. ( HR. Turmudzi)

Dari sabda baginda Nabi Saw tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa jalan yang harus ditempuh oleh kita adalah tidak cukup hanya dengan menggelar Istighosah dan dzikir akbar semata, akan tetapi semua bentuk maksiat dan munkarat di muka bumi hendaknya lebih dulu segera dihilangkan termasuk 15 macam perkara penyebab musibah tersebut, sebagaimana para Ulama Usul Fiqih menyebutkan :

إِنَّ دَفْعَ المَفاَسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصاَلِحِ
Artinya :
“Sesungguhnya menghilangkan segala macam bentuk maksiat dan munkarat adalah harus segera didahulukan dari pada melakukan hal-hal yang mengundang kebaikan seperti dzikir dan istighosah”.


ULAMA AKAN BERUBAH MENJADI MONYET
Peristiwa tragis yang akan terjadi di akhir zaman ini diantaranya adalah para Ulama, Kiayi atau para Ustadz berubah menjadi seekor monyet dan babi, siapakah mereka itu ?? mereka adalah para Ulama, Kiayi dan para Ustadz yang mengubah pandangan lingkungan masyarakatnya sehingga menjauh dari Allah Swt, artinya mereka berbuat menyimpang dari kebenaran yang sesungguhnya, bahkan mereka membolehkan serta menghalalkan larangan agama.

Diantara sikap mereka adalah menghalalkan bermain alat musik sambil bernyanyi, mereka menganggap sebuah budaya, bahasa universal, sebagai sarana dakwah atau alasan lainnya, padahal masih banyak cara lain yang bukan maksiat yang dapat dijadikan sarana dakwah, jangan menjadikan maksiat menjadi sarana dakwah, karena paling pertama yang harus dilakukan adalah agar lebih dulu meninggalkan maksiat dan munkarat dari pada mendapatkan manfaat dari dakwah itu sendiri.

Adapun larangan agama tentang bermain alat musik sambil bernyanyi adalah berdasarkan hadits sebagai berikut ;

قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ مَلْعُوْنٌ الزَّامِرُ وَالمُسْتَمِعُ فَمَنْ سَمِعَ المَطْرُباَتِ فىِ الدُّنْياَ لاَيَسْمَعُ مَطْرُباَتِ الجَنَّةِ أَبَداً إِلاَّ أَنْ يَتُوْبَ وَإِنَّ صَوْتَ داَوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَعْدِلُ تِسْعَمِائَةَ مِزْماَرٍ وَهُوَ المُقْرِئُ يَوْمَ مُشاَهِدَةِ الحَقِّ فاَتْرَكُوْا هَذاَ الطَّرْبِ لِذَلِكَ الطَّرْبِ
Artinya :
Baginda Rasulullah Saw bersabda ; Terkutuk dan dilaknat seorang pemain alat musik sambil bernyanyi dan juga orang yang mendengarkannya, barang siapa mendengar suara musik di dunia niscaya dia selamanya tidak akan dapat mendengar suara musik di sorga, kecuali apabila bertaubat. Sungguh merdunya suara Nabi Daud as itu hingga dapat mengimbangi 900 macam merdunya suara musik, dan Nabi Daud as akan membacakan ayat-ayat Qur’an di hari qiyamah nanti, oleh karena itu tinggalkanlah suara musik di dunia karena untuk mendengar merdunya suara Nabi Daud as. ( HR. Bukhori muslim )

Banyak para Ulama, Kiayi dan para Ustadz yang diam dan pura-pura tidak peduli sehingga tidak menjelaskan haramnya bermain musik, yang sikap seperti ini jelas membuat keliru pada pandangan masyarakat tentang musik, mereka tampil di radio, televisi, internet atau media elektronik lainnya sebagai panutan dakwah, akan tetapi mereka tidak menerangkan apa saja yang termasuk maksiat dan munkar termasuk bermain musik.

Para Ulama, Kiayi atau para Ustadz yang seperti ini adalah mereka akan diubah menjadi monyet dan babi, hal ini berdasarkan hadits sebagai berikut ;

قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ يَكُوْنُ فىِ أُمَّتِى فَزْعَةٌ فَتَصِيْرُ النَّاسُ إِلىَ عُلَماَئِهِمْ فَإِذاً هُمْ قِرَدَةً وَخَناَزِيْرَ .
Artinya :
Baginda Rasulullah Saw bersabda ; Akan datang nanti pada umatku kaget yang luar biasa, yaitu pada saat orang berbondong-bondong menemui Ulama mereka namun sayang Ulama mereka itu telah berubah menjadi monyet dan babi. ( HR. Bukhori Muslim )


C. DOA AGAR TERLINDUNG DARI BERBAGAI MUSIBAH ( dibaca satu kali setiap hari )

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمّنِ الَّحِيْمِ
لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَفْرِجُ بِهاَ كُلَّ كُرْبَةٍ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَحَلُّ بِهاَ كُلَّ عُقْدَةٍ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَجْلُوْ بِهاَ كُلَّ ظُلْمَةٍ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَفْتَحُ بِهاَ كُلَّ باَبٍ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَسْتَعِيْنُ بِهاَ عَلَى كُلِّ شِدَّةٍ وَمُصِيْبَةٍ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَسْتَعِيْنُ بِهاَ عَلَى كُلِّ أَمْرٍ يَنْزِلُ بِى , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَعْتَصِمُ بِهاَ مِنْ مَحْذُوْرٍ أُحاَذِرُهُ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ إِسْتَوْجِبُ بِهاَ العَفْوَ واَلعاَفِيَةَ وَالرِّضاَ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ تَفْرُقُ بِهاَ أَعْداَءُ الله وَغَلَبَتْ حُجَّةُ اللهِ وَبَقِىَ وَجْهُ اللهِ , لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَللَّــهُمَّ رَبَّ الأَرْواَحِ الفاَنِيَةِ وَرَبَّ الأَجْساَدِ الباَلِيَّةِ وَرَبَّ الشُّعُوْرِ المُتَمَعِّطَةِ وَرَبَّ الجُلُوْدِ المُتَمَزِّقَةِ وَرَبَّ العِظاَمِ النَّخْرَةِ وَرَبَّ السَّاعَةِ القاَئِمَةِ أَسْأَلُكَ ياَرَبِّ أَنْ تُصَلِّىَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَافْعَلْ بِى .... (سبُوْةْ حاَجَةْ ث) بِخَفِيِّ لُطْفِكَ ياَذاَ الجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ آمِيْنْ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Artinya :
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku memohon dilapangkan dari segala kesulitan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku memohon dilepaskan dari segala keresahan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku memohon diternagi dari segala kegelapan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku memohon dibukakan dari setiap pintu kebaikan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku mohon pertolongan dari segala kesulitan dan musibah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku mohon pertolongan atas segala perkara yang menimpaku. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku memohon perlindungan dari segala keresahan yang aku takuti. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini aku memohon ampunan, sejahtera dan ridlo-Mu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, melalui kalimat ini musuh-musuh Allah bercerai-berai karena dikalahkan hujjah Allah dan Allah adalah yang kekal. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, ya Allah Pengurus ruh-ruh yang binasa, Pengurus jasad-jasad yang membusuk, Pengurus rambut-rambut kepala yang acak-acakan, Pengurus kulit tubuh yang tercabik-cabik, Pengurus tulang belulang yang berserakan, Pengurus hari qiyamah, aku memohon kepada-Mu wahai Tuhanku hendaknya melimpahkan sholawat salam kepada baginda Muhammad Saw dan keluarganya, kemudian jadikanlah kepadaku ….. (sebut hajatnya) dengan segala rahasia kemurahan-Mu wahai Dzat Yang maha Agung dan maha Mulia, Amien.

Tammat
Disusun Oleh Ahmad Daerobiy

Daftar Pustaka
1. Kitab Tadzkirotul Qurtubiy – Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’roniy. Cet. Al-Haromaen Sinkofuroh Jeddah Indonesia.
2.  Kitab makarimul Akhlaq – Syekh Rodiuddin Ath-Thobrisiy. Cet. Ke tiga tahun 1978, Darul Fikri.

Friday, October 29, 2010

ENAM HAL, HAK DIANTARA SESAMA MUSLIM

 عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حَقُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ سِتٌّ ؛ إِذاَ لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ , وَإِذاَ دَعاَكَ فَأَجِبْهُ , وَإِذاَ اسْتَنْصَحَكَ فاَنْصَحْهُ , وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ (بِالسِّيْنِ المُهْمَلَةِ وَالشِّيْنِ) , وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ , وَإِذَا ماَتَ فاَتْبَعْهُ - رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya :
(Hadits ini) diterima dari Abu Hurairoh ra. Beliau berkata ; Rasulullah Saw bersabda -Hak muslim atas muslim lainnya ada enam ; 1) Jika kamu jumpa dengannya maka kamu beri salam padanya, 2) Jika ia mengundangmu maka kamu memenuhinya, 3) Jika ia minta nasihatmu maka kamu menasihatinya, 4) Jika ia bangkis dan memuji Allah maka kamu jawab bangkisnya, (dengan huruf sin & Syin) 5) Jika ia sakit maka kamu menengoknya, 6) Jika ia meninggal maka kamu mengiring-kan jenazahnya- (HR. Muslim)

Dalam riwayat Mulim lain ada lima, digugurkan yang termasuk makna ini  -Jika ia minta nasihatmu maka kamu menasihatinya-. Hadits ini sebagai dalil bahwa inilah hak-hak seorang muslim atas muslim lainnya.

Yang dimaksud HAK adalah sesuatu yang tidak layak ditinggalkan, seharusnya dilakukan, baik wajib atau sunnah, ini sunnah yang ditekankan dan menyerupai kewajiban, yaitu sesuatu yang tak layak ditinggalkan, harus dilakukan dari kedua makna, dilihat dari sisi memadukan kedua makna, karena hak-pun digunakan pada makna wajib, demikian kata Ibnu Al-‘Arobiy.

Pertama dari 6 ialah memberi salam jika berjumpa, ini berdasar sabda Nabi Saw -Jika kamu jumpa dengannya maka kamu beri salam padanya- perintah ini sebagai dalil akan wajibnya memulai memberi salam, hanya saja Ibnu Abdil-Bar dan lainnya mengutif, bahwa memulai memberi salam hukumnya sunnah dan menjawabnya fardu. 

Dalam Sohih Muslim terdapat hadits Marfu’, tentang menebar salam, sungguh itu penyebab ikatan saling mengasihi. Dalam sohih Bukhori Muslim –Bahwa amal paling utama ialah memberi makanan dan memberi salam kepada orang yang anda kenal atau tidak- Berkata Imar ; -Tiga hal, barangsiapa ketiganya ada di seseorang maka sungguh ia menghimpun keimanan. 1) Adil, memberikan hak pada pemiliknya. 2) Memberi salam pada muslim yang dijumpai. 3) Infaq harta saat kefaqiran-. Dan akan mengirinya kalimat-kalimat mengarah kebaikan.
 
Assalam ialah nama diantara nama-nama Allah Swt, maka “Assalamu’alaikum” artinya semoga kalian semua dalam lindungan Allah, sama seperti diucapkan “Allah bersama anda dan Allah menyertai anda”. Meurut suatu pendapat Assalam artinya “Keselamatan dari Allah selalu untuk anda”. Salam paling sedikit “Assalamu’alaikum” meskipun orang yang diberi salam hanya seorang diri, karena ditujukan juga malaikat yang bersamanya. Salam paling sempurna ditambahkan Warahmatullahi Wabaraokatuh. Boleh dengan kalimat Assalamu’alaika atau Salamun‘alaika, ia bentuk mufrad dan nakirah. Jika seorang yang diberi salam itu sendiri maka ia wajib jawab salam sendiri, wajib aen. Jika banyak maka di hak mereka menjawabnya fardu kifayah, berikut hadits cukup seorang dari jama’ah –Jika diantara kalian diberi salam maka menjawabnya cukup salah seorang diantara kalian- Disebutlah sunnah kifayah. Dan jawab salam harus saat itu juga, meski pada seorang gaib (jauh darinya) baik lewat tulisan (sms) atau utusan.

Tertuang dalam hadits - Bahwa beri salam agar lebih dulu pengendara pada pejalan kaki, pejalan kaki pada orang duduk dan orang sedikit pada orang banyak -. Dikutif dari faham hadits - Hak muslim atas sesama muslim – maka bahwa non muslim tidak berhak menjawab salam dan hal terkait dengannya, tertuang dalam hadist - Jangan kalian memulai salam pada yahudi dan nasrani - dalam hal ini terdapat bahasan. Kalimat - Jika kamu jumpa dengan-nya – adalah menandakan bahwa tidak dianjurkan memberi salam jika berpisah, tetapi ada ketetapan dalam hadits - Jika diantara kalian duduk hendaknya beri salam, jika berdiri beri salam, tapi yang pertama tidak lebih berhak dari yang berikutnya - . Faham beri salam ini tidak hanya jika bertemu, lalu yang dimaksud bertemu ini meski tidak lama ialah beri salam juga saat berpisah, ini berdasar hadits Abu Daud - Jika diantara kalian bertemu kawan hendaknya memberi salam, walau jika terhalang pohon atau tembok, lalu bertemu kembali maka hendaknya memberi salam kembali - Berkata Anas -Sahabat Rasulullah Saw sedang berjalan kaki, jika mereka bertemu pohon atau tembok, mereka terpisah sebentar, sebagian ke kanan dan sebagian ke kiri, ketika bertemu kembali mereka saling memberi salam

Kedua, - Jika ia mengundangmu maka kamu memenuhinya – Dohir hadits ini memberi makna umum yaitu hak penuhi tiap undangan, ulama memberi makna khusus yaitu penuhi undangan walimah atau sejenisnya. Yang paling utama diutarakan “penuhi undangan walimah itu wajib, selain itu sunnah”, karena ada sangsi pada orang yang tidak penuhi walimah, selain itu tidak.

Ketiga, - Jika ia minta nasihatmu maka kamu menasihati-nya – adalah dalil bahwa menasehati orang yang minta nasihat dan tidak memperdaya ialah wajib. Dohirnya tidak wajib memberi nasihat kecuali lalu diminta, hukum nasihat tanpa diminta ialah sunnah, karena itu petunjuk pada kebaikan dan kebajikan.

Keempat, - Jika ia bangkis dan memuji Allah maka kamu jawab bangkisnya – Berkata Tsalab ; dikatakan - jawablah seorang bersin – artinya dengan “Moga Allah mengasihi-mu” jika kamu balas lagi do’a petunjuk maka baiklah jawaban lurus itu. Penyusun berkata ; Asal kata Syamit ialah dengan huruf sin kecil, lalu diganti syin besar. Ini sebuah dalil wajibnya menjawab bersin yang memuji Allah. Adapun dalil memujinya seorang bersin adalah berdasar makna hadits, dalil wajib memuji. Imam An-Nawawi berkata memuji ini hukumnya disepakati sunnah. Cara memuji, cara jawab bersin dan cara jawab kembali, telah tertuang dalam hadits riwayat Bukhori, dari hadits Abu Hurairoh, dari Nabi Saw – Jika diantara kalian bersin memujilah kepada Allah, lalu do’akan ia oleh saudara atau sahabatnya “Semoga Allah mengasihimu” lalu jawab olehnya “Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki keadaanmu”. Juga dikeluarkan Abu Daud juga yang lain, dengan sanad yang sohih.

Dalam hadits ini terdapat tambahan dari hadits Abu Hurairoh, dari Nabi Saw beliau bersabda - Jika diantara kalian bersin maka bacalah “Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan” lalu jawablah oleh saudara atau kawannya “Semoga Allah mengasihimu” jawab lagi “Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki keadaaanmu” - sampai jawaban seperti ini para tokoh ulama memberlakukan, ulama Kaufiyun memberlakukan sampai dibalas lagi “Semoga Allah mengampuni kita dan kalian semua”

Mereka berdalil, bahwa hadits ini dikeluarkan Ath-Thabraniy dari Ibnu Mas’ud dan dikeluarkan Al-Bukhori di Adab Mufrad. Dikatakan, dipilih antara dua lafadz. Dikatakan, keduanya dipadukan sampai wajib menjawab bersin bagi orang telah disebutkan. Ad-Dohiriyah dan Ibnu ‘Arobiy menyatakan bahwa menjawab bersin itu wajib bagi tiap yang mendengar.

Ini berdasar dalil, hadits yang dikeluarkan Al-Bukhori dari Abu Hurairoh - Jika diantara kalian bersin dan memuji Allah maka ia berhak dijawab oleh setiap muslim yang mendengar dengan do’a “Semoga Allah mengasihimu” - Sama dengan madhab Abu Daud pemilik sunan, beliau mengeluarkan dari Ibnu Abdul Bar dengan sanad baik, saat dalam kapal ia mendengar seorang bersin di tepi, ia meminjam satu dirham pada orang didekatnya untuk menjumpai seorang bersin, ketika sampai, ia menjawab bersinnya, lalu ia kembali. Ia ditanya akan hal itu. Ia jawab, moga dia dikabulkan do’a. Ketika semua penumpang kapal istirahat, mereka mndengar suara “Wahai penumpang kapal sesungguhnya Abu daud telah membeli sorga dari Allah dengan uang satu dirham”. Ditangguhkan, bahwa maksud mencari do’a sebagaimana diungkap, bukanlah dipandang wajib.

Imam An-Nawawi berkata “Disunnahkan bagi seorang yang menyaksikan orang bersin yang tidak memuji Allah, agar mengingatkan dan menjawabnya, ini termasuk nasihat dan amar ma’ruf”. Diantara adab seorang bersin adalah sebagaimana riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Hurairoh, marfu’ – Jika diantara kalianbersin maka tutuplah muka dengan kedua telapak tangan dan pelankan suaranya – Hendaknya menambah kata Robbil’alamin setelah baca hamdallah, ini berdasar riwayat Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Abbas – Jika kalian bersin dan membaca Alhamdulillah, maka malaikat berkata Robbil’alamin, jika kalian menambah dengan Robbil’alamin maka malaikat membaca Rohima-kumullah) – hadits dlo’if. Diberlakukan, agar menjawab bersin tiga kali jika bersinnya berulang, tidak lebih dari tiga, karena berdasarkan hadits Abu Daud dari Abu Hurairoh, marfu’ – Jika diantara kalian bersin maka jawablah oleh kawan kalian, jika lebih dari tiga kali maka ia sedang pilek, jangan menjawab bersin lebih dari tiga -.
 
Ibnu Abi Jamroh berkata, dalam hadits ini terdapat dalil atas kebesaran nikmat Allah pada seorang bersin, demikian dikutif karena dari uraian kebaikannya. 

Didalamnya terdapat siyarat akan kebesaran karunia Allah pada hamba-Nya, karena sesungguhnya bahaya itu dapat hilang karena bersin yang nikmat. Kemudian diberlakukan membaca hamdallah yang memiliki nilai pahala, ketika saling mendo’akan baik antara seroang bersin dan yang menjawabnya. Ketika karena bersin seroang bersin mendapat nikmat dan manfaat yaitu keluar lendir kotor di kepalanya, yang jika masih tidak keluar akan menimbulkan penyakit-penyakit, maka diberlakukanlah membaca hamdallah atas nikmat ini, aggota badan tetap sehat normal setelah gerakan bersin, yang gerakan ini laksana gempa dalam bumi. Faham hadits ialah tidak menjawab bersin seorang non muslim, sebagaimana anda ketahui.

Abu Daud, Thurmudi dan yang lain mengeluarkan hadits dengan sanad yang sohih dari Abu Musa, beliau berkata – Kaum Yahudi bersin di hadapan Rasulu Saw mereka berharap dijawab oleh Rasulullah “Semoga Allah mengasihi kalian” namun Rasulullah hanya menjawab “Semoga Allah memberi petunjuk pada kalian dan memperbaiki keadaan kalian” - ini adalah dalil bahwa dapat dikatakan berdo’a demikian jika mereka memuji Allah. 

Kelima, kata “Jika ia sakit maka jenguklah” ini dalil atas wajibnya seorang muslim menjenguk muslim yang lain. Al-Bukhori memastikan menjenguk sakit itu wajib. Dikatakan, menjenguk itu ditangguhkan fardu kifayah. Tokoh Ulama menyatakan, menjenguk itu sunnah. Imam An-Nawawi mengutif sepakat, bahwa menjenguk itu tidak wajib.

Penyusun berkata, yakni sesuai lahiriyah hadits, jika seorang muslim berhak dijenguk muslim lain, maka dianggap sama antara musliam yang dikenal ataupun tidak, dianggap sama antara muslim yang dekat ataupun jauh, ini bersifat umum yaitu setiap sakit, ada pengecualian seperti sakit mata, akan tetapi Abu Daud mengeluarkan hadits dari Zaid bin Arqom, - Rasulullah menjengkku karena aku sakit mata -, ini disohihkan oleh Al-Hakim.

Al-Bukhori mengeluarkan hadits dalam Adab Mufrad, pernyataan jelasnya meskipun awal terjadi sakit, tetapi Ibnu Majah mengeluarkan hadits dari Anas - Nabi Saw tidak menjenguk seroang sakit kecuali setelah terjadi sakit berulang tiga kali – Dalam hadits ini terdapat riwayat dan faham yang tertinggal, sebagaiman anda ketahui, ini dalil bahwa seorang non muslim tidak harus dijenguk, tetapi ditetapkan - Bahwa Nabi Saw menjenguk pembantu beliau non muslim yang sedang sakit, bahkan ia masuk Islam karena keberkahan dijenguk oleh Nabi Saw – Nabi juga menjenguk paman beliau Abu Thalib ketika sakit wafat dan mengajarkan kalimat Islam kepadanya. 

Keenam, kata “Jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya (ke kubur)” ini dalil akan wajib mengurus jenazah yang muslim, baik kenal atau tidak.

Allah Mengetahui segalanya.  
Kitab Subulus-Salam Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Yamaniy Ash-Shon’aniy

Diterjemahkan Oleh :
Ahmad Daerobiy

BANTU KAMI BANGUN PESANTREN

BANTU KAMI BANGUN PESANTREN
Kami ingin Bangun Pesantren di wilayah Cibinong Bogor Jawa Barat atau sekitarnya, Namun belum punya Tanah Lokasi, Sementara ini Majelis menggunakan tempat masih bersifat pinjaman, Tabungan ini di mulai hari Jum'at 30 Sept 2016, kami Jama'ah Majelis Arbabul Hija, Menabung sampai hari ini Sabtu 15 April 2017 baru terkumpul 5,2 Juta (Lima Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah) BANTU KAMI YA..!! Cibinong, April 2017 - Ttd Ahmad Daerobiy HP.0813.1020.9384

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)