Tuesday, May 10, 2011

PEMBAHASAN SHALAT SUNNAH


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
 
Sunnah menurut bahasa ialah tambahan sedangkan menurut istilah ialah perintah selain fardu, baik shalat ataupun hal lainnya, sesuatu yang diperintahkan agama dan bukan merupakan kewajiban. sunnah ini disebut juga mandub, Hasan, Margub fih, Mustahab, Tathowu’ dan Ihsan. Sunnah ini lebih baik dilakukan daripada tidak. Pahala fardu melebihi diatas pahala sunnah dengan tujuh puluh derajat. Sunnah shalat ada empat macam, yaitu ; Pertama, Shalat Sunnah terikat waktu. Kedua, Shalat Sunnah terikat penyebab di awal. Ketiga, Shalat Sunnah terikat Penyebab di akhir. Keempat, Shalat Sunnah Mutlak yaitu tidak terikat waktu dan sebab.

1.  Shalat Sunnah terikat waktu ada dua bagian. Pertama, disunnahkan berjama’ah. Kedua, tidak disunnahkan berjama’ah.
Shalat Sunnah terikat waktu yang disunnahkan berjama’ah, ialah :
-    Shalat Sunnah Iedul-Adha ; 2 raka’at, disertai khutbah.
-    Shalat Sunnah Iedul-Fitri ; 2 raka’at, disertai khutbah.
-    Shalat Sunnah Tarawih ; 20 raka’at. Dilakukan selama bulan Ramadlan.

Shalat Sunnah terikat waktu yang tidak disunnahkan berjama’ah, ialah :
-    Shalat Sunnah Rowatib ; 4 raka’at sebelum Asar, 4 raka’at sebelum dan sesudah Dzuhur, 2 raka’at sebelum dan sesudah Magrib, 2 raka’at sebelum dan sesudah Isya dan 2 raka’at sebelum Subuh.
-    Shalat Sunnah Witir ; Minimal 1 raka’at, optimal 3 raka’at dan maksimal 11 raka’at, masing-masing dua raka’at dan diakhiri satu raka’at. Dilakukan setelah fardu Isya.
-    Shalat Sunnah Dluha ; Minimal 2 raka’at, optimal 4 raka’at dan maksimal 8 raka’at, bisa masing-masing dua raka’at atau empat raka’at. Dilakukan setelah tergelincir Matahari.
-    Shalat Sunnah Zawal ; Minimal 2 dua raka’at, maksimal 4 raka’a. Dilakukan setelah tergelincir Matahari.
-    Shalat Sunnah Awwabin ; Minimal 2 raka’at, optimal 6 raka’at dan maksimal 20 raka’at. Dilakukan setelah fardu Magrib.
-    Shalat Sunnah Tahajud ; 2 raka’at. Dilakuakan malam hari.

2.  Shalat Sunnah terikat penyebab di awal ada dua bagian. Pertama, disunnahkan berjama’ah. Kedua, tidak disunnahkan berjama’ah.
Shalat Sunnah terikat penyebab di awal yang disunnahkan berjama’ah, ialah :
-    Shalat Sunnah Kusufusy-Syamsi ; 2 raka’at, disertai khutbah. Dilakukan pada saat terjadi gerhana Matahari.
-    Shalat Sunnah Khusuful-Qomar ; 2 raka’at, disertai khutbah. Dilakukan pada saat terjadi gerhana Bulan.
-    Shalat Sunnah Istisqo ; 2 raka’at, disertai khutbah. Dilakukan pada saat memohon hujan.

Shalat Sunnah terikat penyebab di awal yang tidak disunnahkan berjama’ah, ialah :
-    Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid ; 2 raka’at. Dilakukan setiap masuk mesjid.
-    Shalat Sunnah Adzan ; 2 raka’at. Dilakukan setelah kumandang Adzan.
-    Shalat Sunnah Khuruj Minal-Hamam ; 2 raka’at. Dilakukan setelah keluar dari kamar mandi.
-    Shalat Sunnah Zapaf ; 2 raka’at. Dilakukan suami-istri sebelum berhubungan.
-    Shalat Sunnah Khuruj Minal-Ka’bah ;  2 raka’at. Dilakukan setelah keluar dari dalam Ka’bah.
-    Shalat Sunnah Hifdzil-Qur’an ; 2 raka’at. Dilakukan setelah hafal atau tammat Al-Qur’an.
-    Shalat Sunnah Natful-Ibthi ; 2 raka’at. Dilakukan setelah mencabut bulu ketiak.
-    Shalat Sunnah Qoshu-Syarib ; 2 raka’at. Dilakukan setelah mencukur kumis.
-    Shalat Sunnah Halqul-‘Anah ; 2 raka’at. Dilakukan setelah mencukur bulu kemaluan.
-    Shalat Sunnah Halqur-Ro’si ; 2 raka’at. Dilakukan setelah mencukur rambut kepala.
-    Shalat Sunnah Mutlak ; 2 raka’at. Dilakukan setelah tiba di suatu tempat asing.
-    Shalat Sunnah Hajat ; 2 raka’at. Dilakukan ketika mengalami kesulitan dan ada hajat.

3.  Shalat Sunnah terikat penyebab di akhir ada dua bagian. Pertama, disunnahkan berjama’ah. Kedua, tidak disunnahkan berjama’ah.
Shalat Sunnah terikat penyebabnya di akhir yang tidak disunnahkan berjama’ah, ialah :
-    Shalat Sunnah Istikhoroh ; 2 raka’at. Dilakukan setiap memohon kebaikan sesuatu yang dihadapinya.
-    Shalat Sunnah Taubat ; 2 raka’at. Dilakukan sebelum pelaksanaan Taubat.
-    Shalat Sunnah Ihram ; 2 raka’at. Dilakukan sebelum pelaksanaan Ihram.
-    Shalat Sunnah Qotli ; 2 raka’at. Dilakukan ketika terjadi peperangan jika mungkin.
-    Shalat Sunnah Khuruj Minal-Manjal ; 2 raka’at. Dilakukan setiap kali keluar dari rumah.
-    Shalat Sunnah ‘Aqdun-Nikah ; 2 raka’at. Dilakukan sebelum calon pengantin melaksanakan Aqad Nikah.
-    Shalat Sunnah Lailatul-Jum’ah ; 2 raka’at. Dilakukan setelah magrib malam jum’at, motifnya agar dimudahkan dan diselamatkan dalam sakarut maut dan alam kubur.
-    Shalat Sunnah Hifdil-Iman ; 2 raka’at. Dilakukan setelah fardu Magrib, bisa digabung ke shalat Awwabin.
-    Shalat Sunnah Lil-Unsi ; 2 raka’at. Dilakukan di malam pertama dari seorang yang meninggal, dan pahalanya dikirim buat orang yang meninggal tersebut.
-    Shalat Sunnah Isti’adzah ; 2 raka’at. Dilakukan setelah shalat sunnah Dluha, memohon perlindungan.
-    Shalat Sunnah Safar ; 2 raka’at. Dilakukan ketika hendak bepergian.

4. Shalat Sunnah Mutlak yaitu tidak terikat waktu dan sebab, ialah ;
-    Shalat sunnah Tasbih ; 4 raka’at, 4 raka’at satu salam di siang hari dan dua salam di malam hari.

Allah mengetahui segalanya.

Pustaka : Nihayatuz-Zein Syekh, Muhammad Nawawi

Thursday, May 5, 2011

22 HAL MAKRUH DALAM SHALAT


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى اَلقَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنْ اَلمَسْجِدِ - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Pahala ummatku diperlihatkan kepadaku, termasuk ketika seseorang membersihkan mesjid 
dari setitik noda. (HR Abu Daud)

وَالمَكْرُوْهاَتُ فىِ الصَّلاَةِ إِثْنَى وَعِشْرُوْنَ ؛
Hal makruh dalam melaksanakan shalat ada 22 macam :

أَحَدُهاَ جَعْلُ يَدَيْهِ فىِ كَمَّيْهِ فىِ خَمْسَةِ أَشْياَءَ عِنْدَ تَحَرُمِهِ وَرُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ وَقِياَمِهِ مِنْ تَشَهُدِهِ وَجُلُوْسِهِ لَهُ
Pertama ; Kedua tangan masuk semua ke dalam lengan tangan di lima posisi, yaitu saat Takbiratul Ikhram, Ruku’, Sujud, Berdiri dari Tasyshud dan saat Duduk Tasyahud.

وَثاَنِيْهاَ إِلْتِفتَاتٌ بِوَجْهِهِ بِلاَ حاَجَةٍ أَماَّ إِذاَ كاَنَ لَهاَ كَحِفْظِ مَتاَعٍ فَلاَيُكْرَهُ
Kedua ; Memalingkan muka tanpa hajat, adapun ketika ada hajat seperti menjaga harta maka itu tidak makruh.

وَثاَلِثُهاَ إِشاَرَةٌ بِنَحْوِ عَيْنٍ أَوْحاَجِبٍ أَوْشَفَةٍ بِلاَحاَجَةٍ , •وَلَوْ مِنْ أَخْرَسَ وَلاَ تَبْطُلُ بِهاَ الصَّلاَةُ ماَ لَمْ تَكُنْ عَلَى وَجْهِ اللَّعْبِ وَإِلاَّ أَبْطَلَتْ , أَمَّا إِذاَ كاَنَتْ لِلْحاَجَةِ كَرَدِّ السَّلاَمِ وَنَحْوِهِ فَلاَيُكْرَهُ
Ketiga ; Memberi isyarat, seperti dengan mata, alis mata atau bibir dan tanpa hajat. Ini meskipun dari seorang bisu. Ini tidak membatalkan shalat sebatas tidak ada unsur bercanda, bila ada unsur bercanda maka shalat batal. Adapun isyarat itu diperlukan seperti karena menjawab salam maka membri isyarat itu tidak makruh.

وَراَبُِهاَ جَهْرُ بِمَحَلِ إِسْراَرٍ وَعَكْسِهِ حَيْثُ لاَ عُذْرَ فَإِنْ حَصَلَ عُذْرٌ كَأَنْ كَثُرَ اللَّغْطُ عِنْدَهُ فاَحْتاَجَ لِلْجَهْرِ لِيَأْتِىَ بِالقِرَاءَةِ عَلَى وَجْهِهاَ فَلاَكَراَهَةَ
Keempat ; Mengeraskan suara di saat harus bersuara pelan, juga sebaliknya, ini apabila tidak ada udzur (kendala). Tapi apabila ada uzdur, seperti gaduh atau berisik, maka ia perlu untuk mengeraskan suara karena memenuhi hak bacaan sesuai keharusan, ini ini tidak makruh.

وَخاَمِسُهاَ إِخْتِصاَرٌ بِأَنْ يَجْعَلَ يَدَهُ أَوْ يَدَيْهِ عَلَى خاَصِرَتِهِ ماَ لَمْ يَكُنْ لِحاَجَةٍ كَعِلَّةٍ بِجَنْبِهِ وَإِلاَّ فَلاَ كَراَهَةَ , لِخَبَرِ أَبىِ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ T نَهَى أَنْ يُصَلِّى الرَّجُلُ •مُخْتَصِراً رَواَهُ الشَّيْخاَنِ , وَالمَرْأَةُكاَلرَّجُلِ وَمِثْلُهاَ الخُنْثَى وَيُكْرَهُ ذَلِكَ الإِخْتِصاَرُ خاَرِجَ الصَّلاَةِ أَيْضاً , ِلأَنَّهُ فَعْلُ الكُفاَرِ بِالنِّسْبَةِ لِلصَّلاَةِ وَفَعْلُ المُتَكَبِّرِيْنَ خاَرِجَهاَ وَفَعْلُ المُخْنِثِيْنَ وَالنِّساَءِ لِلْعُجْبِ وَأَنَّ الإِبْلِيْسَ لَماَّ أُهْبِطَ مِنَ الجَنَّةِ فَعَلَ كَذَلِكَ وتَفْسِيْرُ الإِخْتِصاَرِ بِذَلِكَ هُوَ المَشْهُوْرُ وَقَدْ يُفَسِّرُ بِاخْتِصاَرٍ السَّجَدَةُ ِلأَنَّهُ مَنْهِىٌ عَنْهُ أَيْضاً
Kelima ; Kelima, Ikhtishor (mengerutkan diri) yaitu menjadikan salah satu atau kedua tangannya di atas lambung atau pinggangnya, selagi hal itu tidak diperlukan, seperti ada rasa sakit di lambungnya, namun apabila sangat diperlukan maka hal itu tidak makruh.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairoh, bahwa Rasulullah Saw melarang shalat dari seorang lelaki sambil Ikhtishor mengerutkan diri (mendekap perut dengan satu atau dua tangan). HR Bukhori - Muslim.

Perempuan dengan lelaki dalam hal ini sama, termasuk juga waria. Mengerutkan diri seperti ini juga makruh dilakukan di luar shalat. Karena hal semacam itu adalah salah satu perlakuan orang-orang kafir, ini nisbat dalam keadaan shalat, dan termasuk perlakuan orang-orang takabur adalah nisbat di luar shalat, serta salah satu perlakuan waria dan wanita dalam keadaan Ujubnya (angkuh).

Dan sesungguhnya, Iblis ketika terusir dan turun dari sorga, ia melakukan hal semacam itu. Ikhshor ditafsirkan dengan mengerutkan diri (menjadikan salah satu atau kedua tangannya di atas lambung atau pinggang) adalah tafsiran yang masyhur para Ulama. Penafsiran Ikhshor terkadang makna dari sujud, karena sujud semacam itu juga di larang.

قاَلَ الأَزْهَرِى يَحْتَمِلُ وَجْهَيْنِ أَحَدُهُماَ أَنْ يَخْتَصِرَ الآيَةَ الَّتِى فِيْهاَ السُّجُوْدُ فَيَسْجُدُ لَهاَ • , وَالثَّانىِ أَنْ يَقْرَأَ السُّوْرَةَ فَإِذاَ انْتَهِىَ إِلىَ السَّجْدَةِ جاَوَزَهاَ وَلَمْ يَسْجُدْ لَهاَ
Syekh Al-Azhari berkata ; Ikhshor mengandung dua sisi makna :
Pertama, mempersingkat (tidak membaca) ayat yang terdapat sujud (ayat sajadah) dan dapat melakukan sujud karenanya. Kedua, membaca salah satu surat, dan ketika sampai pada ayat sajadah dia melewatinya dan tidak melakukan sujud.

وَساَدِسُهاَ إِسْراَعُ الصَّلاَةِ أَىْ عَدَمُ التَّأَنِى فىِ أَفْعاَلِهاَ وَأَقْواَلِهاَ وَكَذاَ إِسْراَعٌ لِحُضُوْرِهاَ ِلأَنَّهُ يُسَنُّ المَشْىُ إِلىَ المَسْجِدِ عَلَى تَأَنٍ وَسَكِيْنَةٍ وَإِسْراَعٌ ِلإِدْراَكِ التَّحَرُمِ أَوْ غَيْرِهِ مَعَ الإِماَمِ , نَعَمْ إِنْ تَوَقَفَ إِدْراَكَ الجَماَعَةِ عَلَيْهِ يُسَنُّ أَوْ إِدْراَكَ الجُمْعَةِ وَجَبَ
Keenam ; Mempercepat gerakan shalat, yaitu tidak secara perlahan dalam perbuatan dan bacaan shalat.  Demikian pula, makruh cepat-cepat berjalan untuk mendirikan shalat, seperti berlarian, karena sesungguhnya disunnahkan berjalan menuju ke mesjid dengan perlahan dan tenang.

Namun disunnahkan dengan segera untuk mengejar Takbiratul Ikhram atau mengejar yang lainnya agar dapat bersama Imam. Betul harus dengan segera, apabila memang dibutuhkan untuk mengejar berjama’ah bersama Imam maka mempercepat adalah sunnah. Untuk mengejar shalat Jum’at maka mempercepat itu adalah wajib.

وَساَبِعُهاَ تَغْمِيْضُ جَفْنِهِ إِنْ خاَفَ ضَرَراً •وَإِلاَّ فَلاَكَراَهَةَ سَواَءٌ الأَعْمَى وَالبَصِيْرُ ِلأَنَّ الجَفْنَ يَسْجُدُ مَعَهُ وَقَدْ يَجِبُ إِذاَ كاَنَ العُرَّاةُ صُفُوْفاً وَقَدْ يُسَنُّ كَأَنْ صَلَّى إِلىَ حاَئِطٍ مُزَوَّقٍ أَىْ مُنْقَسٌ وَمُزَيِّنٌ بِماَيُشَوِّشُ الفِكْرَ أَىْ يَخْلَطُهُ
Ketujuh ; Memejamkan kelopak mata apabila tidak mengundang takut, apabila karena takut maka tidak dimaruhkan, ini bagi orang buta ataupun orang melihat, karena dia akan bersujud bersamaan dengan memejamkan kelopak mata.

Terkadang memejamkan kelopak mata itu wajib, ketika melihat barisan orang-orang telanjang.  Terkadang memejamkan kelopak mata itu sunnah, seperti shalat di samping dinding yang banyak hiasan gambar hingga dapat menimbulkan kebimbangan dalam pikiran, atau mengganggu kekhusyuan.

وَثاَمِنُهاَ إِلْصلَقُ عَضُدَيْهِ بِجَنْبِهِ فىِ رُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ
Kedelapan ; Menyentuhkan kedua lengan atas pada lambungnya ketika ruku’ dan sujud.

وَتاَسِعُهاَ إِلْصاَقُ بَطْنِهِ بِفَخْذَيْهِ فىِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ
Kesembilan ; Menyentuhkan perut pada kedua pahanya ketika ruku’ dan sujud.

وَعاَشِرُهاَ إِقْعاَءُ الكَلْبِ وَهُوَ إِلْصاَقُ أَلِيَيْهِ بِالأَرْضِ وَنَصْبُ ساَقَيْهِ وَوَضْعُ يَدَيْهِ عَلَى الأَرْضِ , وَهَذاَ أَحَدُ نَوْعَى الإِقْعاَءِ •وووَالنَّوْعُ الآخَرِ هُوَ أَنْ يَضَعَ أَطْـراَفَ أَصاَبِعِ رِجْـلَيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ عَلَى الأَرْضِ وَأَلِيَيْهِ عَلَى عَقِبَيْهِ وَهَذاَ سُنَةُ فىِ كُلِّ جُلُوْسٍ يُعَقِبُهُ حَرْكَةٌ , لِماَصَحَّ فَعْلُهُ عَنِ النَّبِىِّ T لَكِنْ الإِفْتِراَشُ أَفْضَلٌ مِنْهُ ِلأَنَّهُ الأَكْثَرُ الأَشْهَرُ
Kesepuluh ; Duduk anjing, yaitu menyentuhkan bokong ke lantai, dengan menegakkan kedua betis serta meletakkan kedua lengan tangan di atas lantai.

Dan ini adalah salah satu dari dua macam duduk, cara duduk yang lain adalah meletakkan ujung-ujung jari kedua kaki dan kedua lutut di atas lantai dan meletakkan bokong di atas kedua tumit. Dan cara ini adalah disunnahkan setiap kali duduk yang diiringi gerakan. Karena perbuatan itu diajarkan dari Nabi SAW, akan tetapi duduk Iftirosy itu adalah lebih utama daripada cara duduk di atas, karena duduk Iftirosy lebih banyak dan masyhur. ( Iftirosy adalah duduk Tasyahud awal )

وَحاَدِى عَشَرَهاَ نَقْرَةُ الغُرَبِ أَىْ ضَرْبُ الأَرْضِ بِجَبْهَتِهِ عِنْدَ السُّجُوْدِ مَعَ الطُّمَأْنِيْنَةِ وَإِلاَّ لَمْ يَكْفِ
Kesebelas ; Mematuk seperti burung gagak, artinya memukulkan dahi ke lantai saat sujud serta tumaninah, apabila tanpa tumaninah maka tidaklah cukup (tidak sah).

وَثاَنىِ عَشَرَهاَ إِفْتَراَشٌ السَّبُعِ فىِ سُجُوْدِهِ بِأَنْ يَضَعَ ذِراَعَيْهِ عَلَى الأَرْضِ كَماَيَفْعَلُ السَّبُعُ

Keduabelas ; Duduk Iftirosy seperti macan, di saat sujud, yaitu dengan meletakkan kedua lengan atau siku di atas lantai, sebagaimana hal itu sering dilakukan hewan buas, misalnya macan.

•ككوَثاَلِثُ عَشَرَهاَ المُباَلَغَةُ فىِ خَفْضِ الرَّأْسِ فىِ الرُّكُوْعِ
Ketigabelas ; Berlebihan merendahkan kepala di saat ruku’.

وَراَبِعُ عَشَرَهاَ إِطاَلَةُ التَّشَهُدِ الأَوَّلِ فىِ غَيْرِ المَأْمُوْمِ بِحَيْثُ زاَدَهُ وَلَوْ بِالصَّلاَةِ عَلَى الآلِ أَوْ الدُّعاَءِ أَمَّا إِذاَ لَمْ يَزِدْهُ فَلاَكَراَهَةَ
Keempatbelas ; Memperpanjang Tasyahud awal, hal ini bagi selain makmum, sekiranya hingga melebihi batas, meskipun dengan menambah bacaan sholawat atas keluarga Nabi atau menambah bacaan do’a, dan apabila tidak menambahnya maka tidaklah makruh.

وَخاَمِسُ عَشَرَهاَ الإِضْطِباَعُ وَلَوْ لِغَيْرِ الرَّجُلِ وَهُوَ أَنْ يَجْعَلَ وَسَطَ رِداَئِهِ تَحْتَ مَنْكَبِهِ الأَيْمَنِ وَطَرْفَيْهِ عَلَى الأَيْسَرِ
Kelimabelas ; Melakukan Idltiba’ meskipun bukan kaum lelaki, yaitu menjadikan tengah-tengah selendang di bawah pundak sebelah kanan, lalu kedua ujung selendang itu dijadikan di atas pundak sebelah kiri.

وَساَدِسُ عَشَرَهاَ تَشْبِيْكُ الأَصاَبِعِ وَهُوَ إِدْخاَلُ بَعْضِهاَ فىِ بَعْضٍ , أَمَّا خاَرِجُ الصَّلاَةِ •فَإِنْ كاَنَ فىِ المَسْجِدِ مُنْتَظِراً لِلصَّلاَةِ وَلَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ فَهُوَ مَكْرُوْهٌ أَيْضاً وَإِلاَّ فَلاَ قاَلَ مُحَمَّدْ حِسْبُ اللهِ إِنَّ التَّشْبِيْكَ يُوْرِثُ النُّعاَسَ
Keenambelas ; Men-Tasybik-kan jari tangan, yaitu memasukkan jari-jari tangan ke sela-sela jari-jari tangan lainnya. Adapun Tasybik yang di lakukan di luar shalat, maka apabila di dalam mesjid untutk menunggu waktu shalat, meski tidak menghadap kiblat maka hal itu juga makruh, dan apabila tidak menunggu waktu shalat maka tidaklah makruh. Syekh Muhammad Hisbullah berkata ; Sesungguhnya Tasybik itu menimbulkan ngantuk.

وَساَبِعُ عَشَرَهاَ تَفَرْقَعُ الأَصاَبِعِ وَالتَّفَرْقَعُ هُو َمَصْدَرُ تَفَرْقَعَ عَلَى وَزْنِ تَدَخْرَجَ , قاَلَ فىِ القاَمُوْسِ فَرْقَعُ الأَصاَبْعِ أَىْ نَفْضِيُهاَ وَضَرْبٌ بِهاَ لِتَصَوُّتٍ
Ketujuhbelas ; Tafarqo’u yaitu menepukkan jari tangan. Lafadz Tafarqo’u adalah bentuk masdar Tafarqo’a sesuai dengan pedoman wajan lafadz Tadahroja.  Dalam kamus tertuang,  Farqo’u, artinya melemaskan jari tangan lalu menepukkannya agar bersuara.

وَثاَمِنُ عَشَرَهاَ الإِسْباَلُ وَهُوَ إِرْخاَءُ الإِزاَرِ عَلَى الأَرْضِ
Kedelapanbelas ; Isbaal, yaitu membiarkan ujung kain bagian bawah hingga menyentuh lantai.

وَتاَسِعُ عَشَرَهاَ بَصْقٌ أَماَماً وَيَمِيْناً لاَيَساَراً , لِخَبَرِ الشَّيْخاَنِ •إِذاَ كاَنَ أَحَدُكُمْ فىِ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ يُناَجِى رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلاَيَبْزُقُنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلاَعَنْ يَمِيْنِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَساَرِهِ , وَهَذاَ فىِ غَيْرِ المَسْجِدِ أَمَّا فِيْهِ فَيَحْرُمُ إِنْ اتَّصَلَ بِشَيْءٍ مِنْ أَجْزاَئِهِ بَلْ يَبْصِقُ فىِ طَرْفِ ثَوْبِهِ مِنْ جاَنِبِهِ الأَيْساَرِ وَيَلِفُ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ
Kesembilanbelas ; Meludah ke arah depan dan ke sebelah kanan, kecuali ke sebelah kiri. Hal ini karena berdasar hadits Bukhori - Muslim : “Apabila salah satu diantara kalian serdang dalam shalat, maka sungguh dia sedang bermunajat terhadap tuhannya yang Maha mulia nan Maha Agung, oleh karenanya janganl meludah ke depan dan ke sebelah kanan, akan tetapi boleh meludah ke sebelah kiri.”

Boleh meludah ke sebelah kiri ini ketika shalat yang bukan di mesjid, adapun ketika shalat di dalam mesjid maka meludah itu di haramkan, apabila sampai mengenai bagian mesjid. Akan tetapai boleh meludah pada ujung (saku) baju sebelah kiri lalu melipatkannya.

وَعَشِرُوْهاَ كَفُّ ثَوْبٍ أَوْ شَعْرٍ لِلرَّجُلِ أَىْ مَنْعِهِ مِنَ السُّجُوْدِ مَعَهُ دُوْنَ المَرْأَةِ وَالخُنْثَى بَلْ قَدْ يَجِبُ كَفُّ شَعْرِهِماَ
Keduapuluh ; Menahan baju atau menahan rambut bagi kaum lelaki, artinya menahan baju atau rambut agar tidak terbawa sujud. Kecuali bagi perempuan dan waria, bahkan bagi kaum perempuan dan waria wajib menahan atau menghalangi rambutnya, agar tidak ikut terbawa sujud.

وَلِذَلِكَ قاَلَ القَلْيُوْبىِ ؛ نَعَمْ يَجِبُ كَفُّ شَعْرِ امْرَأَةٍ وَخُنْثَى تَوَقَفَتْ صِحَّةُ الصَّلاَةِ عَلَيْهِ وَلاَيُكْرَهُ بَقاَؤُهُ مَكْفُوْفاً وَلاَفَرْقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ عَلَى الجِناَزَةِ وَغَيْرِهاَ وَلاَبَيْنَ القاَئِمِ وَالقاَعِدِ لِخَبَرٍ ؛ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍ وَلاَأَكِفُّ ثَوْباً وَلاَشِعْراً رَواَهُ الشَّيْخاَنِ
Oleh karena demikian itu, Syekh Al-Qolyubiy berkata ; Betul demikian di atas itu, wajib menahan atau menghalangi rambut perempuan dan kaum waria, karena sah shalat mereka membutuhkan gerakan semacam itu. Tidak makruh menngikat baju atau rambut tertahan. Tidak ada bedanya antara shalat jenazah dan shalat lainnya. Juga tidak ada bedanya antara shalat berdiri dan shalat sambil duduk.

Hal ini berdasarkan hadits : Aku (Nabi Saw) di perintahkan agar bersujud di atas tujuh pokok anggota badan, dan agar aku tidak menahan baju dan menahan rambut.” (HR. Bukhori-Muslim)

وَفىِ رِواَيَةٍ أُمِرْتُ أَنْ لاَأَكْفِتُ الشَّعْرَ أَوْ الثِّياَبَ وَأَكْفِتُ بِكَسْرِ الفاَءِ وَبِالتَّاءِ مِنْ باَبِ ضَرَبَ أَىْ أَجْمَعُ , وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يُصَلِّى وَشِعْرُهُ مَعْقُوْصٌ أَوْمَرْدُوْدٌ تَحْتَ •عَماَمَتِهِ أَوْثَوْبِهِ أَوْكَمِهِ مُشْمِرٌ أَىْ مَرْفُوْعٌ , وَيُسَنُّ لِمَنْ رَآهُ كَذَلِكَ وَلَوْ مُصَلِّياً آخَرَ أَنْ يَحِلَّهُ حَدِيْثَ لاَ فِتْنَةَ , نَعَمْ لَوْ باَدَرَ شَخْصٌ وَحَلَّ كَمَّهُ المُشْمِرَ وَكاَنَ فِيْهِ ماَلٌ وَتَلِفَ كاَنَ ضاَمِناً لَهُ , وَمِنْهُ شَدُّ الوَسَطِ فَيُكْرَهُ إِلاَّ لِحاَجَةٍ بِأَنْ كاَنَتْ تُرَى عَوْرَتُهُ بِدُوْنِ الحَزاَمِ
Dalam riwayat lain ; “Aku (Nabi Saw) di perintahkan agar aku tidak menyatukan rambut dan baju (saat sujud hingga sebagian terhalangi). Lafadz “Akfitu” dengan kasrah huruf Fa dan dengan menggunakan huruf Ta, lafadz ini termasuk bab “Dloroba” artinya aku menyatukan.

Dengan demikian, Ketika shalat hendaknya terlebih dahulu rambut di potong hingga di bawah sorban, atau sampai bawah baju,, dan juga lengan bajunya di lipat atau di angkat, (agar tidak terbawa sujud). Disunnahkan bagi orang yang melihatnya, meskipun dia sendiri dalam shalat agar memberi peringatan, ketika tidak menimbulkan fitnah.

Betul demikian, dan apabila seseorang segera dan membuka lengan bajunya yang terangkat, dan pada lengan baju itu terdapat suatu harta dan rusak karenanya, maka orang tersebut menanggung atas kerusakannya. Termasuk mengikat bagian pingggang, maka hal itu makruh kecuali karena dibutuhkan, seperti auratnya akan terlihat apabila tanpa memakai ikat pinggang.

أَمَّا العَذَبَةُ وَهِىَ طَرْفُ عَماَمَِهِ فَيُكْرَهُ غَرَزُهاَ فىِ عَماَمَتِهِ بَلْ يُسَنُّ إِرْخاَؤُهاَ وَيُكْرَهُ أَيْضاً خاَرِجَ الصَّلاَةِ •لَكِنَّهُ فىِ الصَّلاَةِ أَشَدَّ كَراَهَةٍ ِلأَنَّهُ T قاَلَ أَنَّ اللهَ يُكْرِهُ العَماَمَةَ الصَّماَءِ
Adapun ‘Adzabah  yaitu ujung atau ekor sorbannya maka makruh melipatkannya kebagian dalam sorbannya, bahkan di sunnahkan melepaskannya keluar. Dan makruh juga hal itu di lakukan di luar shalat.Akan tetapi hal itu di lakukan dalam shalat, sangat makruh, karena Baginda Nabi Saw berkata ; Sesunggunya Allah membenci sorban yang Shoma (memakai sorban tanpa mengeluarkan salah satu ujungnya )

وَحاَدِى عَشَرَيْهاَ وَضْعُ يَدِهِ عَلَى فَمِّهِ بِلاَحاَجَةٍ فَإِنْ كاَنَ لَهاَ كَماَ إِذاَ تَثاَءَبَ فَلاَكَراَهَةَ بَلْ يُسْتَحَبُ لَهُ ذَلِكَ , وَيُسَنُّ أَنْ يَكُوْنَ المَوْضُوْعُ اليَدُ اليُسْرَى وَالأَوْلىَ ظَهْرُهاَ كَماَ أَفْتَى بِذَلِكَ شَيْخُناَ عَبْدُ الغَنِى
Keduapuluh satu ; Meletakkan tangan di atas mulut tanpa ada kebutuhan, dan apa bila karena ada kebutuhan seperti menguap, maka hal itu tidak makruh, bahkan di sunnahkan menutup mulut ketika menguap.

Disunnahkan adanya tangan untuk menutup mulut adalah dengan menggunakan tangan kiri, dan yang paling utama adalah dengan punggung tangan kiri. Hal ini sebagaimana fatwa guru kita Syekh Abdul Gina.

وَثاَنىِ عَشَرَيْهاَ تَلْثِمٌ لِرَجُلٍ وَهُوَ تَغْطِيَّةُ الفَمِّ وَتَنْقِبُ لِغَيْرِهِ وَهُوَ تَغْطِيَّةُ ماَزاَدَ عَلَى الفَمِّ مِنَ الوَجْهِ لِلنَّهْىِ عَنِ الأَوَّلِ •, وَقِيْسَ بِهِ الثَّانىِ قاَلَهُ ابْنُ حَجَرٍ فىِ المِنْهَجِ القَوِيْمِ

Keduapuluh dua ; Taltsiam (menutup sebagian kepala) bagi lelaki, yaitu pertama menutup mulut dan membalut bagian kepala lainnya (kecuali kedua matanya) yaitu kedua menutup semua bagian muka kecuali mulut, karena hal ini ada larangan dari yang pertama, Yang kedua di ukurkan sama dengan yang pertama, demikian pendapat Ibnu Hajar dalam kitab Minhajul Qowiim.

Allah mengetahui segalanya.
•

Pustaka : Fiqih Imam Syafe'i, KASYIFATUS-SAJA-Syekh Nawawi Banten

Sunday, April 24, 2011

RANGKAIAN SHALAT SUNNAH SUBUH

أُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ أَداَءً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat shalat sunnah Subuh dua raka’at menghadap kiblat, tunai karena Allah”

Setiap raka’at setelah Fatihah : Surat Al-Kafirun, Surat Al-Ikhlas, Al-Baqoroh 136, Ali Imran 64, Surat Asy-Syarh (Alam Nasyroh) dan Surat Al-Fiil (Alam taro kaefa). Sebaiknya tambahkan ; Ali Imran ayat 53 dan Al-Baqoroh 119

Catatan :
Al-Baqoroh 136, yaitu ;
قُوْلُوْا آمَنَّا بِاللهِ وَمَاأُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَاأُوْتِيَ مُوسَى وَعِيْسَى وَمَاأُوتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ (البقرة ١٣٦)
Ali Imran 64, yaitu ;
قُلْ ياَأَهْلَ الكِتَابِ تَعَالَوْا إِلىَ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُناَ بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوْا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُوْنَ ( آل عمران ٦٤)
Ali Imran 53, yaitu ;
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَاأَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْناَ الرَّسُولَ فَاكْتُبْناَ مَعَ الشَّاهِدِيْنَ (آل عمران ٥٣)
Al-Baqoroh 119, yaitu ;
إِنَّا أَرْسَلْناَكَ بِالحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الجَحِيْمِ (البقرة ١١٩)

Setelah salam membaca ; Ya Hayyu Ya Qoyyum 40x, Al-Ikhlas 11x, Al-Falaq 1x, An-Naas, 1x dan Tasbih 100x
Catatan :
Ya Hayyu Ya Qoyyum 40x, bacaan selengkapnya yaitu ;
ياَحَيُّ ياَقَيُّوْمُ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Wahai Dzat Yang maha hidup, Wahai Dzat Yang maha berdiri, tiada tuhan yang disembah melainkan Engkau


Tasbih 100x, bacaan tasbihnya yaitu :
سُبْحاَنَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ العَظِيْمِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Maha suci Allah dan dengan memujiNya, Maha suci Allah yang maha Agung,  aku memohon ampunan pada Allah.

Kemudian membaca do’a setelah shalat sunnah Subuh ;
سُبْحاَنَ مَنْ تَعَزَّزَ بِالعُظْمَةِ سُبْحاَنَ مَنْ تَرَدَّى بِالكِبْرِياَءِ سُبْحاَنَ مَنْ تَفَرَّدَ بِالوَحْدَانِيَّةِ سُبْحاَنَ مَنْ احْتَجَبَ بِالنُّوْرِ سُبْحاَنَ مَنْ قَهَّرَ العِباَدَ بِالمَوْتِ سُبْحاَنَ مَنْ لاَيَفُوْتُهُ فَوْتٌ سُبْحاَنَ الأَوَّلُ المُبْدِئُ سُبْحاَنَ الآَخِرُ المُفْنِى سُبْحاَنَ مَنْ تُسَمَّى قَبْلَ أَنْ يُسَمَّى سُبْحاَنَ مَنْ عَلَّمَ آدَمَ الأَسْماَءَ سُبْحاَنَ مَنْ كاَنَ عَرْشُهُ عَلَى الماَءِ سُبْحاَنَ مَنْ لاَيَعْلَمُ قَدْرَهُ غَيْرُهُ (سُبْحاَنَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ العَظِيْمِ 3×) سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ
Maha suci Allah Yang mulia dengan keagungan, Maha suci Allah Yang selalu perkasa dalam kesombongan, Maha suci Allah Yang selalu tunggal dengan keesaan, Maha suci Allah Yang tersembunyi dengan cahaya, Maha suci Allah Yang menguasai hambaNya dengan kematian, Maha suci Allah Yang tidak akan pernah tidak mampu berbuat apapun, Maha suci Allah Yang maha awal dan maha memulai, Maha suci Allah Yang maha akhir dan maha membinasakan, Maha suci Allah Yang diberi nama sebelum Dia dinamai, Maha suci Allah Yang mengajarkan Adam beberapa nama, Maha suci Allah Yang keberadaan ‘ArasyaNya di atas air, Maha suci Allah Yang tidak tahu kekuasaan Allah selain diriNya, ( Maha suci Allah dan dengan segala pujian kepadaNya, Maha suci Allah yang maha agung, 3 kali ) Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang jauh dari dugaan orang-orang kafir, keselamatan semoga terlimpah kepada para utusan Allah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Kemudian sebelum melakukan shalat fardu Subuh, sunnah berbaring dulu sebentar ke kanan menghadap kiblat seperti jenazah di kubur,  sambil membaca do’a berikut 3 kali ;

أَللَّـهُمَّ رَبَّ جِبْرِيْلَ وَمِيْكاَئِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ وَعِزْرَائِيْلَ وَرَبَّ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجِرْنِى مِنَ النَّارِ
Ya Allah Pengurus Jibril, Mikail, Israfil, Izroil dan Pengurus baginda Muhammad Saw lindungilah aku dari api neraka

Barulah melaksanakan shalat fardu Subuh. Allah mengetahui segalanya.
(Sumber ; Kitab Nihayatuz-zein Syekh Nawawi hal. 100)

Saturday, April 9, 2011

MUKJIZAT SHALAT BERJAMA’AH

مَنْ مَشَى إِلىَ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فيِ الجَماَعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَمَنْ مَشَى إِلىَ صَلاَةِ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ تاَمَّةٍ
Barangsiapa melangkahkan kaki untuk melaksanakan shalat fardu berjama’ah maka itu laksana melaksanakan ibadah Haji. Barangsiapa melangkahkan kaki untuk melaksanakan shalat sunnah maka itu laksana melaksanakan ibadah Umrah sempurna. (HR. Thabraniy)

وَحَقِيْقَةُ الجَماَعَةِ هُناَ الاِرْتِباَطُ الحاَصِلِ بَيْنَ الإِماَمِ وَالمَأْمُوْمِ وَلَوْ وَاحِدًا وَهِيَ مِنْ خَصاَئِصِ هَذِهِ الأُمَّةِ كاَلجُمْعَةِ وَالعِيْدَيْنِ وَالكُسُوْفَيْنِ وَالاِسْتِسْقاَءِ

Hakikat shalat berjama’ah di sini ialah kesinambungan yang didapatkan antara imam dan makmum, meskipun satu orang makmum. Shalat berjama’ah ini ialah ketentuan khusus ummat ini, seperti shalat jum’at, shalat hari raya, shalat gerhana dan shalat Istisqo.

قاَلَ المَناَوِيْ وَحِكْمَةُ مَشْرُوْعِيَّتِهاَ قِياَمُ نِظاَمِ الأُلْفَةِ بَيْنَ المُصَلِّيْنَ , وَلِذَا شُرِعَتْ المَساَجِدُ فيِ المَحاَلِ لِيَحْصُلَ التَّعَاهُدُ بِاللِّقاَءِ فيِ أَوْقاَتِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الجِيْرَانِ وَِلأَنَّهُ قَدْ يُعْلَمُ الجاَهِلُ مِنَ العَالِمِ ماَ يَجْهَلُهُ مِنْ أَحْكاَمِهَا وَِلأَنَّ مَرَاتِبَ النَّاسِ مُتَفَاوِتَةٌ فيِ العِباَدَةِ فَتَعُوْدُ بَرْكَةُ الكَامِلِ عَلَى النَّاقِصِ فَتَكْمُلُ صَلاَةُ الجَمِيْعِ اهـ  

Imam Al-Manawiy berkata : Hikmah diberlakukan shalat berjama’ah ialah mempererat hubungan sosial antara orang-orang shalat. Oleh karenanya, diberlakukan juga mendirikan mesjid di suatu tempat, agar bisa lebih memperhatikan waktu shalat berjama’ah antara masyarakat, juga agar bisa menyempurnakan shalat orang-orang awam, karena martabat ibadah manusia itu beragam, dengan demikian keberkahan yang sempurna akan menutupi shalat yang kurang, yang pada akhirnya shalat yang dilakukan semuanya akan menjadi sempurna. SHALAT SEMPURNA MERUPAKAN MUKJIZAT TIDAK TERNILAI.

وَقَدْ وَرَدَ فيِ فَضْلِهاَ أَحاَدِيْثٌ كَثِيْرَةٌ مِنْهاَ ؛ ماَرَوَاهُ التُّرْمُذِي عَنْ أَنَسَ أَيْضًا - مَنْ صَلَّى أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فيِ جَماَعَةٍ يَدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ الأُوْلىَ كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتاَنِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ -

Mukjizat shalat berjamah banyak tertuang dalam hadits-hadits, diantaranya riwayat Turmudzi dari Anas berikut - “Barangsiapa shalat berjama’ah selama empat puluh hari berjama’ah, dengan mengejar Takbiratul-Ihram bersama Imam, maka baginya dicatat dua poin titik aman, bebas api neraka dan bebas kemunafikan”-.

وَفيِ المَنْحِ السَّنِيَّةِ عَلَى الوَصِيَّةِ المَتْبُوْلِيَّةِ لِلْقُطُبْ الشَّعْرَانِي ماَ نَصَّهُ - وَقَدْ كاَنَ السَّلَفُ يَعِدُوْنَ فَوَاتَ صَلاَةِ الجَماَعَةِ مُصِيْبَةً وَقَدْ وَقَع أَنَّ بَعْضَهُمْ خَرَجَ إِلىَ حَائٍطٍ لَهُ يَعْنِي حَدِيْقَةَ نَخْلٍ فَرَجَعَ وَقَدْ صَلَّى النَّاسُ صَلاَةَ العَصْرِ فَقاَلَ إِنَّا ِللهِ فَاتَتْنِي صَلاَةُ الجَماَعَةِ أُشْهِدُكُمْ عَلَيَّ أَنَّ حاَئِطِيْ عَلَى المَساَكِيْنَ صَدَقَةً -

Dalam pustaka Al-Manhu Saniyyah (Wasiat Nabi SAW) disusun oleh Al-Qutub Asya’roniy ada catatan berikut – “Para Ulama salaf (sahabat) meyakini bahwa tertinggal shalat berjama’ah adalah musibah. Suatu hari salah seorang sahabat pernah pergi keluar rumah menuju kebun kurma, ketika kembali ternyata orang-orang sudah melaksanakan shalat Asar berjama’ah, ia tertinggal shalat berjama’ah. Dan ia pun berkata ; “Inna Lillah, saya tertinggal shalat berjama’ah, saksikan kepada kalian semua, bahwa saya nadzar (memberi wajib) kebun kurma saya disedekahkan untuk orang-orang miskin (sebagai kifarat dosa yang berakibat tertinggal shalat berjama’ah)” -.

وَفاَتَتْ عَبْدُ اللهِ بِنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ صَلاَةَ العِشاَءِ فيِ الجَمَاعَةِ فَصَلَّى تِلْكَ اللَّيْلَةِ حَتَّى طَلَعَ الفَجْرُ جَبْرًا لِماَ فاَتَهُ مِنْ صَلاَةِ العِشاَءِ فيِ الجَمَاعَةِ

Abdullah bin Umar ra suatu saat pernah tertinggal shalat berjama’ah Isya karena sesuatu, kemudian beliau melaksanakan shalat Isya tersebut berulang-ulang sampai terbit fajar, untuk menambal martabat berjama’ah shalat Isya yang tertinggal.

وَعَنْ عُبَيْدِ اللهِ بِنْ عُمَرْ القَوَارِيْرِيْ رَحِمَهُ اللهُ تَعاَلىَ قاَلَ ؛ لَمْ تَكُنْ تَفُوْتَنِي صَلاَةٌ فيِ الجَماَعَةِ فَنَزَلَ بِي ضَيْفٌ فَشَغَلْتُ بِسَبِبِهِ عَنْ صَلاَةِ العِشَاءِ فيِ المَسْجِدِ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُ المَسْجِدَ ِلأُصَلِّيْ فِيْهِ مَعَ النَّاسِ فَإِذاً المَسَاجِدُ كُلُّهاَ قَدْ صَلَّى أَهْلُهَا وَغُلِقَتْ فَرَجَعْتُ إِلىَ بَيْتِي وَأَناَ حَزِيْنٌ عَلَى فَوَاتِ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ فَقُلْتُ وَرَدَ فيِ الحَدِيْثِ إِنَّ صَلاَةَ الجَمَاعَةِ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَةِ الفَذِّ سَبْعًا وَعِشْرِيْنَ فَصَلَيْتُ العِشَاءَ سَبْعًا وَعِشْرِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ نُمْتُ فَرَأَيْتُنِي فيِ المَناَمِ عَلَى فَرْسٍ مَعَ قَوْمٍ عَلَى خَيْلٍ وَهُمْ أَمَامِيْ وَأَناَ أَرْكِضُ فَرْسِي خَلْفَهُمْ فَلاَ أَلْحِقُهُمْ فاَلْتَفَتُ إِليَ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَقاَلَ تَتْعَبُ فَرْسَكَ فَلَسْتَ تَلْحَقُناَ فَقُلْتُ وَلِمَ ياَ أَخِيْ قَالَ ِلأَنَّا صَلَّيْناَ العِشاَءَ فيِ الجَماَعَةِ وَأَنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَحْدَكَ فاَسْتَيْقَظْتُ وَأَناَ مَهْمُوْمٌ حَزِيْنٌ

Syekh Ubaedillah bin Umar Al-Qowaririy rhm bercerita ; Saya memang tidak pernah tertinggal shalat berjama’ah, suatu saat saya kedatangan tamu dan tentunya saya sibuk melayani tamu itu sehigga saya tertinggal shalat berjama’ah Isya di mesjid tepat awal waktu. Setelah tamu pulang kemudian saya langsung pergi ke mesjid agar bisa shalat Isya berjama’ah meskipun tidak awal waktu, ketika sampai mesjid, ternyata semua orang sudah melaksanakan shalat Isya, bahkan pintu mesjid sudah terkunci. Akhirnya saya pulang ke rumah dengan penuh penyesalan. Sebelum masuk rumah, tiba-tiba teringat dalam benak saya sebuah hadits “Sesungguhnya shalat berjama’ah itu melebihi shalat 27 kali sendirian” kemudian saya melaksanakan shalat Isya 27 kali dengan harapan dapat mengimbangi martabat shalat berjama’ah, setelah shalat saya pun tidur.

Dalam tidur saya bermimpi, saya mengendarai kuda beserta orang-orang, saya berada di belakang sedangkan orang-orang berada jauh di depan, saya memacu kuda agar bisa seiring bersama mereka, namun sayang saya tidak sanggup mengejarnya. Kemudian saya memandang salah satu dari mereka.

“Kamu menyusahkan kuda mu, meskipun memacu dengan kecepatan tinggi kamu tidak akan sanggup mengejar kami”. Begitu ia berkata kepada saya. “Mengapa hai kawan?”  Saya bertanya kepadanya. “Karena kami melaksanakan shalat Isya berjama’ah sedangkan kamu melaksanakan shalat Isya sendirian meskipun dilakukan sampai 27 kali”. Jawabnya. Mendangar jawaban itu, saya pun terbangun, sedih bercampur penyesalan.

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ ماَ فاَتَتْ أَحَدًا صَلاَةُ الجَمَاعَةِ إِلاَّ بِذَنْبٍ أَصَابَهُ وَقَدْ كاَنُوْا يَعِزُوْنَ أَنْفُسَهُمْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ إِذَا فَاتَتْ أَحَدُهُمْ صَلاَةَ الجَمَاعَةِ وَقِيْلَ رَكْعَةً وَيَعِزُوْنَ أَنْفُسَهُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِذَا فاَتَتْهُمُ التَّكْبِيْرَةُ الأُوْلىَ مَعَ الإِماَمِ فاَعْلَمْ ذَلِكَ ياَ أَخِيْ اهـ  

Sebagian Ulama Salaf (Sahabat) berkata ; Tidak semata-mata mengalami tertinggal shalat berjama’ah melainkan hal itu hanya disebabkan suatu dosa yang telah di perbuat. Diantara mereka sering mengkarantina diri selama satu minggu untuk proses rehabilitasi apabila salah seorang dari mereka tertinggal shalat berjama’ah bahkan sekalipun hanya tertinggal satu raka’at. Mereka juga melakukan rehabilitasi diri mereka selama tiga hari apabila dalam shalat berjama’ah itu tertinggal Takbiratul-Ikhram bersama imam, renungkanlah hal ini wahai sahabatku..?!

Allah mengetahui segalanya

Pustaka : Kitab I’anathuth-Thalibin Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad-Dimyatiy

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)