Wednesday, February 8, 2012

RINCIAN 27 PAHALA SHALAT BERJAMA’AH


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
صَلاَةُ الجَماَعَةِ أَفْضَلٌ مِنْ صَلاَةِ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً
Shalat berjama’ah adalah lebih uatama dari shalat sendiri dengan selisih dua puluh tujuh tingkat 
(HR. Bukhori Muslim)

الجَماَعَةُ فىِ الصَّلاَةِ هِىَ مِنْ خَصاَئِصِ هَذِهِ الأُمَّةِ , فَإِنَّ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى جَماَعَةً مِنَ البَشَرِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّماَ كاَنُوْا يُصَلُّوْنَ قَبْلَ ذَلِكَ فُرَادَى

Berjama’ah dalam shalat merupakan ajaran khusus umat Nabi Muhammad ini, karena awal mula melakukan shalat berjama’ah dari manusia adalah Rasulullah SAW, karena umat terdahulu termasuk para Nabinya melakukan shalat masing-masing sendirian.

وَمَعْناَهاَ الشَّرْعِىِّ رِبْطُ صَلاَةِ المَأْمُوْمِ بِصَلاَةِ الإِماَمِ , وَلَفْظُهاَ يَصْلُحُ لِكُلٍّ مِنَ الإِماَمِ وَالمَأْمُوْمِ وَيُتَعَيَّنُ ِلأَحَدِهِماَ بِالقَرِيْنَةِ وَهِىَ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَراَدِ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Pengertian berjama’ah shalat menurut pandangan agama ialah memiliki ikatan terhubung antara makmun dan imam, subsidi silang antara yang memimpin dan yang dipimpin juga sesama yang dipimpin. Ungkapan shalat berjama’ah adalah sangat baik dari imam dan makmum, dan ungkapan menyatakan berjama’ah itu ditentukan khusus untuk seorang imam dan makmum dengan adanya tanda berjama’ah. Dan shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendiri dengan selisih pahala dua puluh tujuh tingkat :

قَوْلُهُ بِسَبْعِ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً أَىْ أَوْ بِخَمْسِ وَعِشْرِيْنَ ؛ فاَلأُوْلىَ مَحْمُوْلَةٌ عَلَى الجَهْرِيَّةِ وَالثَّانِيَّةُ عَلَى السَّرِيَّةِ , هَذاَ فىِ الحَضَرِ

Pengertian dua puluh derajat atau dua puluh lima derajat adalah, yang pertama ini mengacu pada shalat yang bacaannya keras, sedang yang dua puluh lima derajat adalah mengacu pada shalat yang bacaannya pelan. hal ini berlaku pada shalat yang dilakukan di wilayah tempat tinggal.

وَأَمَّا فىِ السَّفَرِ فَصَلاَةُ الجَماَعَةِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَراَدِ بِخَمْسِيْنَ دَرَجَةً

Adapun di saat dalam perjalanan, shalat berjama’ah adalah lebih utama dari shalat sendirian dengan selisih pahala lima puluh tingkat.

Berikut rincian nilai pahala kebaikan yang terdapat shalat berjama’ah ;

وَذَلِكَ لِلأَسْباَبِ المُقْتَضِيَّةِ لِتِلْكَ الدَّرَجاَتِ كَإِجاَبَةِ المُؤَذِنِ , وَالتَّكْبِيْرِ إِلَيْهاَ , وَالمَشْىِ إِلىَ المَسْجِدِ بِسَكِيْنَةٍ , وَدُخُوْلِ المَسْجِدِ دَاعِياً , وَصَلاَةِ التَّحِيَّةِ , وَانْتِظاَرِ الجَماَعَةِ , وَصَلاَةِ المَلاَئِكَةِ عَلَيْهِ , وَشَهاَدَتِهِمْ لَهُ , وَإِجاَبَةِ الإِقاَمَةِ , وَالسَّلاَمَةِ مِنَ الشَّيْطاَنِ حِيْنَ يَفِرُّ عِنْدَ الإِقاَمَةِ , وَالوُقُوْفِ مُنْتَظِرًا إِحْراَمَ الإِماَمِ , وَإِدْراَكِ تَكْبِيْرِ الإِماَمِ , وَتَسْوِيَّةِ الصُّفُوْفِ , وَسَدِّ فَرْجِهاَ , وَجَواَبِ الإِماَمِ عِنْدَ قَوْلِهِ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ , وَالأَمْنِ مِنَ السَّهْوِ غاَلِباً , وَتَنْبِيْهِ الإِماَمِ إِذاَ سَهاَ , وَحُصُوْلِ الخُشُوْعِ , وَالسَّلاَمَةِ مِمَّايُلْهِى غاَلِباَ , وَتَحْسِيْنِ الهَيْئَةِ غاَلِباَ , وَاحْتِفاَفِ المَلاَئِكَةِ بِهِ , وَالتَّدَرُّبِ عَلَى تَجْوِيْدِ القِرَاءَةِ , وَتَعَلُّمِ الأَرْكاَنِ , وَالأَبْعاَضِ , وَإِظْهاَرِ شِعاَرِ الإِسْلاَمِ , وَإِرْغاَمِ الشَّيْطاَنِ بِالإِجْتِماَعِ عَلَى العِباَدَةِ , وَالتَّعاَوُنِ عَلَى الطَّاعَةِ , وَنَشاَطِ المُتَكاَسِلِ , وَالسَّلاَمَةِ مِنْ صِفَةِ النِّفاَقِ , وَمِنْ إِساَءَةِ الظَّنِّ بِهِ أَنَّهُ تَرَكَ الصَّلاَةَ , وَنِيَّةِ رَدِّ السَّلاَمِ عَلَى الإِماَمِ , وَالإِنْتِفاَعِ بِاجْتِماَعِهِمْ عَلَى الدُّعاَءِ , وَالذِّكْرِ , وَعَوْدِ البَرَكَةِ الكاَمِلِ عَلَى النَّاقِصِ , وَقِياَمِ نِظاَمِ الأُلْفَةِ بَيْنَ الجِيْراَنِ , وَحُصُوْلِ تَعاَهُدِهِمْ فىِ أَوْقاَتِ الصَّلَولَتِ , وَالإِنْصاَتِ عِنْدَ قِرَاءَةِ الإِماَمِ , وَالتَّأْمِيْنِ عِنْدَ تَأْمِيْنِهِ .

Shalat berjama’ah memiliki nilai pahala 25 tingkat, 27 tingkat, bahkan sampai 50 tingkat adalah disebabkan hal-hal kebaikan yang terdapat bersamanya, seperti :

NO.
KEBAIKAN SHALAT BERJAMA’AH
NO.
KEBAIKAN SHALAT BERJAMA’AH
(1)
Menjawab orang adzan
(19)
Biasanya aman dari hal-hal yang melalaikan dalam pelaksanaan shalat
(2)
Takbir untuk berjama’ah
(20)
Biasanya baik di gerakan dan bacaan shalat
(3)
Berjalan menuju mesjid dengan tenang
(21)
Dikelilingi oleh para malaikat
(4)
Masuk mesjid pertanda mengajak orang
(22)
Baik dalam mrengontrol bacaan qur’an
(5)
Shalat Tahiyyatul mesjid
(23)
Baik dalam mengontrol rukun-rukun shalat
(6)
Menunggu dilaksanakan berjama’ah
(24)
Baik daam mengontrol sunnah ab’ad shalat
(7)
Keikutsertaan malaikat di berjama’ah
(25)
Menampakkan syi’ar Islam
(8)
Kesaksian malaikat di berjama’ah
(26)
Membuat rugi syetan sebab kumpul ibadah
(9)
Menjawab Iqomah
(27)
Membangkitkan diri jauh dari rasa malas
(10)
Aman dari tipu daya syetan saat menyambut Iqomah
(28)
Selamat dari sifat sifat orang munafiq
(11)
Berdiri menanti Takbiratul Ihram Imam
(29)
Selamat dari membuat prasangka buruk orang kepada dirinya, bahwa dirinya sebagai orang yang meninggalkan shalat
(12)
Mengikuti Takbiratul Ihram Imam
(30)
Niat menjawab salam Imam
(13)
Meluruskan barisan shalat
(31)
Keuntungan berkumpul dalam berdo’a
(14)
Merapatkan barisan shalat
(32)
Saling memberikan berkah shalat, shalat yang kurang akan mendapatkan keberkahan dari shalat yang sempurna.
(15)
Menjawab Imam di saat imam berdo’a ruku’ “Semoga Allah mendengar orang yang memujiNya”
(33)
Menegakkan ikatan persaudaraan diantara para tetangga
(16)
Biasanya bisa bebas dari lupa dalam shalat
(34)
Mengontrol perhatian akan waktu shalat
(17)
Bisa mengingatkan Imam jika ia lupa
(35)
Menyimak bacaan qur’an Imam
(18)
Mencapai kekhusyuan dalam shalat
(36)
Membaca amin bersamaan dengan aminnya Imam
  
Dan lain sebagainya…
وَالحِكْمَةُ فِيْهاَ أَنَّ الصَّلاَةَ ضِياَفَةٌ وَماَئِدَةُ بِرٍّ وَالكَرِيْمُ لاَيُضِيْعُ ماَئِدَتَهُ إِلاَّ لِجِماَعَةٍ

Hikmah dalah melaksanakan shalat berjama’ah adalah bahwa shalat merupakan jamuan dan hidangan kebaikan, orang yang baik tidak akan menyia-nyiakan hidangan jamuan melainkan akan dilakukan dengan berjama’ah atau bersama-sama. Jamuan makanan saja yang di santap bersama-sama adalah sebuah sikap yang terpuji apalagi jamuan rahmat Allah SWT.

DO’A SELESAI IQOMAH
أَقاَمَهاَ اللهُ وَأَدَامَهاَ ماَدَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَجَعَلَنِي مِنْ صاَلِحِي أَهْلِهاَ

Semoga Allah tetap menegakkan shalat dan mengkekalkannya selama langit dan bumi masih berada, jan jadikanlah aku sebagai orang yang baik dan ahli dalam melakukan shalat, amien.

Allah mengetahui segalanya…

Pustaka : Nihayatuz-Zein, Syekh Nawawi Banten


Wednesday, February 1, 2012

MENGHIDUPKAN WAKTU ANTARA MAGRIB DAN ISYA


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
مَنْ صَلَّى بَعْدَ المَغْرِبِ سِتَّ رَكَعاَتٍ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِسُوْءٍ عَدَّلْنَ لَهُ بِعِباَدَةِ ثِنْتَيْ عَشَرَةَ سَنَةً - قَوْلَهُ عَدَّلْنَ لَهُ أَيْ ساَوِيْنَ مِنْ جِهَةِ الأَجْرِ لَهُ أَيْ لِلْمُصَلِّيْ
Barangsiapa melaksanakan shalat sunnah setelah magrib empat raka’at, tidak berbicara buruk diantara pelaksanaan shalat sunnah tersebut maka hal itu adalah mengimbangi ibadah dua belas tahun – Maksud mengimbangi ialah menyamai dari sisi pahala bagi orang yang melaksanakan shalat tersebut. (Dari Abu Hurairoh)


Shalat Hifdil Iman
Shalat Hifdil Iman artinya memohon perlindungan iman dari kemusyrikan, ia adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah shalat fardu maghrib setelah atau sebelum shalat Awwabin, jumlahnya dua raka’at.

Bacaan surat setiap dua raka’at shalat sunnah Hifdil Iman pada setiap raka’at setelah Fatihah Al-Qodar 1 kali, Al-Ikhlas 6 kali, Al-Falaq 1 kali dan An-nas 1 kali. Juga boleh setelah Fatihah raka’at pertama Al-Kafirun dan raka’at kedua Al-Ikhlas.

Setelah salam menyungkur sujud sambil baca do’a berikut :

أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْتَوْدِعُكَ دِيْنِى وَإِيْماَنِى فاَحْفَظْهُماَ عَلَىَّ فىِ حَياَتِى وَعِنْدَ مَماَتِى وَبَعْدَ وَفاَتِى 
Artinya :
Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan kepadaMu akan agamaku dan keimananku, jagalah keduanya untuk tetap pada diriku baik pada masa hidupku, matiku ataupun setelah kematianku

Setelah sujud hendaknya membaca do'a berikut :

أَللَّـهُمَّ سَدِّدْنِى بِالإِيْمَانِ وَاحْفَظْهُ عَلَيَّ فىِ حَياَتِى وَعِنْدَ وَفاَتِى وَبَعْدَ مَماَتِى
Artinya :
“Ya Allah kuatkan kepadaku keimanan, lindungi keimanan atas diriku pada saat hidupku, matiku dan setelah kematianku".

Niat shalat Hifdil Iman raka’at :

أُصَلِّى سُنَّةً لِحِفْظِ الإِيْماَنِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ أَداَءً ِللهِ تَعاَلىَ

“Saya niat shalat sunnah Menjaga Iman dua raka’at menghadap kiblat, 
tunai karena Allah”
  
Allah mengetahui Segalanya. 

WASPADAI GEJALA HASUD DALAM HATI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعُ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا , المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ, لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا (وَيُشِيْرُ إِلىَ صَدْرِهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ) بِحَسْبِ اِمْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ, كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ - أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

"Janganlah kalian saling hasut, saling najsy (memuji barang dagangan secara berlebihan), saling benci, saling berpaling, dan janganlah sebagian di antara kalian berjual beli kepada orang yang sedang berjual beli dengan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menganiaya, tidak mengecewakannya, dan tidak menghinanya. Takwa itu ada disini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali). Sudah termasuk kejahatan seseorang bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram baik darahnya, hartanya dan kehormatannya." (HR. Muslim)

وَمِنَ المُهْلِكاَتِ ؛ الحَسُدُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَحَبَّةُ الشَّرِّ ِلأَحَدٍ مِنْهُمْ وَإِضْمَارُ العَدَاوَةِ وَالغَشِّ وَالحَقْدِ لَهُمْ وَقِلَّةُ الرَّحْمَةِ بِهِمْ وَالشُّفْقَةِ عَلَيْهِمْ وَسُوْءُ الظَّنِّ بِهِمْ , فَكُلُّ ذَلِكَ مِنَ الصِّفاَتِ المُهْلِكَةِ

Diantara kebinasaan besar ; adalah berbuat hasud kepada orang Islam, senang jika ada hal buruk menimpa salah satu mereka, menyembunyikan permusuhan, mememperdaya, serta dendam kepada orang Islam. Kurang mengasihi orang Islam, kurang peduli pada mereka bahkan berburuk sangka kepada mereka. Itu semua adalah sifat-sifat tercela yang akan membinasakan diri sendiri..

أَمَّاالحَسُدُ فَحَسْبُكَ بِهِ ذَمّاً وَقَبْحاً , أَنَّ اللهَ تَعاَلىَ أَمَرَ رَسُوْلَ اللهِ T بِالإِسْتِعاَذَةِ مِنْ شَرِّ الحاَسِدِ كَماَ أَمَرَهُ بِالإِسْتِعاَذَةِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطاَنِ فَقاَلَ تَعاَلىَ مِنْ شَرِّ حاَسِدٍ إِذاَ حَسَدَ , وَقاَلَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ إِيَّاكُمْ وَالحَسَدَ فَإِنَّ الحَسَدَ يَأْكُلُ الحَسَناَتِ كَماَتَأْكُلُ النَّارُ الحَطَبَ , وَقاَلَ عَلَيْهِ وَالسَّلاَمُ لاَيَجْمَعُ فىِ جَوْفِ عَبْدٍ الإِيْماَنُ وَالحَسُدُ وَهَذاَ شَدْيْدٌ فَتَأَمَّلْهُ

Hasud, cukuplah bagimu celaan dan keburukan tentang hasud, bahwasanya Allah memerintahkan Rasul SAW untuk memohon perlindungan dari kejahatan orang hasud sama halnya memohon perlindungan dari kejahatan syetan. Firman Allah SWT, “Dari kejahatan orang hasud dikala dia hasud” (QS.Al-Palak 5). Rasul SAW bersabda, “Waspadilah kalian akan hasud, karena hasud akan melenyapkan kebaikan seperti api membakar kayu bakar”. (HR. Abu Daud). Rasul SAW kembali bersabda, “Di dalam diri seseorang tidak akan pernah berkumpul keimanan dan hasud”. (HR. Ibnu Hibban) dalam hadits ini lebih tegas, renungkanlah..?!

وَمَعْنَى الحَسُدُ أَنْ يَجِدَ الإِنْساَنُ فىِ صَدْرِهِ وَقَلْبِهِ ضَيْقًا وَحَرَجاً وَكَرَاهِيَّةً لِنِعْمَةٍ أَنْعَمَ اللهُ بِهاَ عَلَى عَبْدٍ مِنْ عِباَدِهِ فىِ دِيْنِهِ أَوْ دُنْياَهُ حَتَّى أَنَّهُ لَيُحِبَّ زَوَالَهاَ عَنْهُ وَرُبَّماَتَمَنَّى ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ تَضِرُّ إِلَيْهِ , وَذَلِكَ مُنْتَهَى الخَبَثِ

Makna hasud adalah, seseorang menemukan ekpresi di tubuhnya dan gejala perasaan di dalam hatinya, sikap menyempitkan, menyulitkan dan ketidaksukaan pada suatu nikmat yang Allah karuniakan kepada salah satu hambaNya, baik nikmat dalam hal agama atau hal dunaiwi, sehingga dari sikap itu akan menyukai pelenyapan nikmat dari orang lain, meskipun terkadang harapan pelenyapan nikmat itu sesuatu yang tidak mungkin, atau meskipun harapan pelenyapan nikmat itu tidak sampai mengancam orangnya. Semua hal itu adalah keburukan yang luar biasa.

SOLUSI MENGHADAPI HASUD…

فَمَنْ وَجَدَ شَيْئًا فىِ نَفْسِهِ مِنْ هَذاَ الحَسُدِ ِلأَحَدٍ مِنَ المُسْلِمِيْنَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُكْرِهَهُ وَيُخْفِيْهِ فىِ نَفْسِهِ وَلاَيُظْهِرَهُ بِقَوْلٍ وَلاَفَعْلٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَنْجُوَ بِذَلِكَ مِنْ شَرِّهِ , وَفىِ الحَدِيْثْ ؛ ثَلاَثٌ لاَيَخْلُوْ مِنْهُنَّ أَحَدٌ الحَسُدُ وَالظَّنُّ وَالطَّيْرَةُ أَفَلاَأُنَبِّئُكُمْ بِالمَخْرَجِ مِنْ ذَلِكَ إِذاَ حَسَدْتَ فَلاَتَبْغِ وَإِذاَ ظَنَنْتَ فَلاَتَحَقَّقْ وَإِذاَ تَطَيَّرْتَ فاَمْضِ , أَىْ لاَتَرْجِعُ بِسَبَبِ الطَّيْرَةِ عَنِ الأَمْرِ الَّذِى تُرِيْدُهُ

Barangsiapa menenukan dirinya suatu gejala hasud terhdap salah satu orang Islam, maka hendaknya ia tidak menyukai gejala hasud itu, namun sembunyikanlah, bahkan jangan pernah menampakkannya, baik dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan. Semoga saja dengan usaha seperti itu anda bisa menyelamatkan diri dari kejahatan hasud. Dalam hadits mursal, “Tiga hal sulit hilang dari seseorang, yaitu hasud, prasangka buruk dan khayal, apakah saya tidak memberitahukan jalan keluarnya? Apabila kamu menemukan gejala hasud dalam dirimu maka janganlah meluluskannya, apabila kamu menemukan gejala berprasangka buruk dalam dirimu maka janganlah menyatakannya, dan apabila kamu mengkhayal maka luluskanlah dengan bertawakal kepada Allah.” (Riwayat Abdurrahman Ibnu Umar Al-Ash-Bahaniy) artinya sebab dari khayalan janganlah kamu menjauh dari kenyataan harapan.

وَإِنَّ عَمَلَ الحاَسِدِ عَلَى ضِدِّ ماَيَتَقاَضاَهُ الحَسُدُ مِنَ الثَّناَءِ عَلَى المَحْسُوْدِ وَالسَّعْىِ فىِ إِكْراَمِهِ وَمُعَاوَنَتِهِ كاَنَ لَهُ فىِ ذَلِكَ فَضْلٌ , وَهَذاَ مِنْ أَنْفَعِ الأَدَوِيَّةِ فىِ إِزاَلَةِ الحَسُدِ أَوْتُضْعِيْفَهُ ...

Sungguh perbuatan orang hasud akan menyalahi hal-hal yang menandakan hasud, seperti pujian terhadap orang yang dihasudi, memuliakan atau menolongnya, maka hal itu sangat mulia, bahkan cara efektif dalam mengendalikan hasud atau paling tidak melemahkan gejala hasud…. 

Allah mengetahui segalanya..

Pustaka : Nashoihuddiniyah, Al-Habib Abdullah Al-Haddad

Wednesday, January 11, 2012

KENIKMATAN HAKIKI TERASA DI DUNIA HINGGA AKHIRAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

Allah Tidak akan menyiksa kalian, apabila kalian mau bersyukur dan beriman
Allah adalah Maha Mensyukuri[370] lagi Maha mengetahui. (QS. An-Nisa 147)
[370] Allah memberi pahala terhadap amal hamba-Nya, memaafkan kesalahan dan menambah nikmat-Nya.

إِعْلَمْ أَنَّ كُلَّ خَيْرٍ وَلَذَّةٍ وَسَعاَدَةٍ بَلْ كُلُّ مَطْلُوْبٍ وَمُؤَثَّرٍ فَإِنَّهُ يُسَمَّى نِعْمَةً وَلَكِنَ النِّعْمَةُ بِالحَقِيْقَةِ هِىَ السَّعاَدَةُ الآُخْرَوِيَّةِ وَتُسَمِّيْهِ ماَ سِوَاهاَ نِعْمَةً وَسَعاَدَةً إِمَّا غَلَطٌ وَإِمَّا مَجاَزٌ كَتَسْمِيَّةِ السَّعاَدَةِ الدُّنْيَوِيَّةِ الَّتِى لاَ تُعِيْنُ عَلَى الآَخِرَةِ نِعْمَةً فَإِنَّ ذَلِكَ غَلَطُ مَحْضٍ

Ketahuilah, bahwa setiap kebaikan, kenikmatan dan kesenangan bahkan semua yang diharapankan ataupun semua yang didapatkan, itulah yang paling sering dinamakan kenikmatan. Akan tetapi kenikmatan hakiki ialah kesenangan akhirat. Selain itu, bisa jadi kesalahan penamaan atau nama majaz (sindiran). Kesenangan dunia yang di dalamnya tidak bernilai akhirat, lalu dinyatakan sebuah kenikmatan, hal itu murni keliru besar.

وَقَدْ يَكُوْنُ اِسْمُ النِّعْمَةِ لِلشَّيْءِ صِدْقاً وَلَكِنْ يَكُوْنُ إِطْلاَقُهُ عَلَى السَّعَادَةِ الأُخْرَوِيَّةِ أَصْدَقُ فَكُلُّ سَبَبٍ يُوْصِلُ إِلىَ سَعاَدَةِ الآَخِرَةِ وَيُعِيْنُ عَلَيْهاَ إِمَّا بِوَسِطَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ بِوَسَائِطَ فَإِنَّ تَسْمِيَّتَهُ نِعْمَةً صَحِيْحَةٌ وَصِدْقٌ ِلأَجْلِ أَنَّهُ يُفْضِى إِلىَ النِّعْمَةِ الحَقِيْقِيَّةِ

Terkadang penamaan nikmat pada sesuatu itu hanya faktor kebetulan. Namun kenikmatan mutlak terdapat pada kesenangan akhirat, bukanlah suatu kebetulan. Oleh karena itu segala hal yang mengarah atau penyebab untuk mendapatkan kesenangan akhirat dan mendorongnya, melalui satu perantara atau beberapa perantara, itulah yang dinamakan nikmat yang benar dan sesungguhnya, karena hal itu mengarah kenikmatan hakiki.

Jujur saja, segala hal yang terjadi kepada kita terbagi empat bagian ;

إِلىَ ماَ هُوَ ناَفِعٌ فىِ الدُّنْياَ وَالآَخِرَةِ جَمِيْعاً كاَلعِلْمِ وَحُسْنِ الخُلُقِ > فاَلنَّافِعُ فىِ الحاَلِ وَالمَآَلِ هُوَ النِّعْمَةُ تَحْقِيْقاً

Pertama : Nyaman di dunia dan nyaman di akhirat, seperti memiliki ilmu agama dan akhlak baik. Ketika nyaman di dunia dan di akhirat, maka tiada lain itulah kenikmatan hakiki.

وَإِلىَ ماَ هُوَ ضاَرٌّ فِيْهِماِ جَمِيْعاً كاَلجَهْلِ وَسُوْءِ الخُلُقِ > فاَلضَّارُّ فِيْهِماَ هُوَ البَلاَءُ تَحْقِيْقاً وَهُوَ ضِدُّهُماَ  

Kedua : Tidak nyaman di dunia dan tidak nyaman di akhirat, seperti bodoh dalam agama dan buruk akhlak. Tidak nyaman di dunia dan di akhirat tiada lain itulah malapetaka yang nyata.

وَإِلىَ ماَ يَنْفَعُ فىِ الحاَلِ المُضِرُّ فىِ المَآَلِ كاَلتَّلَذُّذِ بِاتِّباَعِ الشَّهْوَةِ > فاَلنَّافِعُ فىِ الحاَلِ المُضِرُّ فىِ المَآَلِ بَلاَءٌ مَحْضٌ عِنْدَ ذَوِى البَصَائِرِ وَتَظُنُّهُ الجُهاَلُ نِعْمَةً , وَمِثاَلُهُ الجَائِعُ إِذاَ وَجَدَ عَسَلاً فِيْهِ سَمٌّ فَإِنَّهُ يَعِدُهُ نِعْمَةً إِنْ كاَنَ جاَهِلاً وَإِذَا عَلَّمَهُ عِلْمٌ أَنَّ ذَلِكَ بَلاَءٌ سِيْقَ إِلَيْهِ

Ketiga : Nyaman di dunia tapi tidak nyaman di akhirat, seperti bersenang-senang dengan mengikuti hawa nafsu. Menurut akal cerdas, ini nyata malapetaka juga. Orang awam menyebutnya kenikmatan. Umpamanya, seorang yang lapar menemukan madu yang mengandung racun, orang awam akan menyebutnya menemukan kenikmatan, akan tetapi apabila dibimbing ilmu, ia akan menyebutnya mengundang malapetaka.

وَإِلىَ ماَ يَضُرُّ فىِ الحاَلِ وَيَؤَلَّمُ وَلَكِنْ يَنْفَعُ فىِ المَآَلِ كَقَمْعِ الشَّهْوَاتِ وَمُخاَلِفَةِ النَّفْسِ > فاَلضَّارُّ فىِ الحَالِ النَّافِعُ فىِ المَآَلِ نِعْمَةٌ عِنْدَ ذَوِى الأَلْباَبِ بَلاَءٌ عِنْدَ الجُهاَلِ , وَمِثَالُهُ الدَّوَاءُ البِشْعِ فىِ الحاَلِ مِذَاقَةٌ إِلاَّ أَنَّهُ شاَفٍ مِنَ الأَمْرَاضِ وَالأَسْقاَمِ وَجاَلِبٌ لِلصِّحَةِ وَالسَّلاَمَةِ فاَلصَّبِىُّ الجاَهِلُ إِذَا كُلِّفَ شُرْبَهُ ظَنَّهُ بَلاَءً وَالعَاقِلُ يَعُدُّهُ نِعْمَةً

Keempat : Tidak nyaman di dunia bahkan menyakitkan tetapi nyaman di akhirat, seperti menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Menurut akal sehat, ini merupakan kenikmatan besar, tetapi malapetaka menurut awam. Umpamanya, jamu ialah obat pahit dan tidak nyaman saat di minum, tetapi kemudian ia akan nyaman, sembuh dari penyakit, bugar, sehat dan selamat. Seorang anak kecil yang awam, apabila diminta meminum jamu, ia akan mengira malapetaka. Sedang orang yang berakal akan menyebutnya sebuah kenikmatan.

Amal ibadah memang tidak nyaman serta tidak sesuai keinginan, namun orang yang berakal cerdas dan sehat, akan menyatakan itu adalah kenikmatan hakiki, menikmatinya dengan nyaman di dunia, apalagi kelak di akhirat. “Masalahnya apakah amal ibadah kita sudah dirasa nikmat nan lezat ?!” tanyakan itu pada nurani kita !....

Allah mengetahui segalanya…...


ADAB BUANG HAJAT


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قاَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ إِسْتَنْزِهُوا مِنْ البَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ القَبْرِ مِنْهُ

Waspadailah pada saat buang hajat, karena siksa kubur banyak terjadi disebabkan buang hajat. (HR. Daruqutni)

فَإِذاَ قَصَدْتَ بَيْتَ الماَءِ لِقَضاَءِ الحاَجَةِ فَقَدِّمْ فىِ الدُّخُوْلِ رِجْلَكَ اليُسْرَى وَفىِ الخُرُوْجِ رِجْلَكَ اليُمْنَى وَلاَتَسْتَصْحِبْ شَيْئاً عَلَيْهِ إِسْمُ اللهِ تَعاَلىَ وَرَسُوْلُهُ وَلاَتَدْخُلُ حاَسِرَ الرَّأْسِ وَلاَحاَفِىَ القَدَمَيْنِ وَقُلْ عِنْدَ الدُّخُوْلِ ؛

Apabila anda masuk kamar mandi untuk buang hajat hendaknya ; (1) Saat masuk dahulukan kaki kiri dan saat keluar dahulukan kaki kanan. (2) Tidak membawa sesuatu yang mengandung nama Allah dan RasulNya. (3) Tidak masuk tanpa menutupi kepala, handuk atau peci. (4) Tidak melepas alas kaki. (5) Saat masuk baca do’a ;

بِاسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ النَّجْسِ المُخْبِيْثِ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari noda najis yang mengotori, syetan yang terkutuk.

(6) Saat keluar baca do’a ;

غُفْراَنَكَ الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنِّى ماَيُؤْذِيْنِى وَأَبْقَى فىِ ماَيَنْفَعُنِى

Aku memohon ampunanMu, segala pujian ialah milik Allah Yang menghilangkan sesuatu yang menyakiti aku dan Yang menetapkan sesuatu yang bermanfaat untukku.

وَيَنْبَغِى أَنْ تَعِدَّ النُّبَلَ قَبْلَ قَضاَءِ الحاَجَةِ وَأَنْ لاَتَسْتَنْجِىَ بِالماَءِ فىِ مَوْضِعِ قَضاَءِ الحاَجَةِ وَأَنْ تَسْتَبْرِئَ مِنَ البَوْلِ بِالتَّنَحْنُحِ وَالنَّتْرِ ثَلاَثاً وَبِامْراَرِ اليَدِ اليُسْرَى عَلَى أَسْفَلِ القَضِيْبِ

(7) Hendaknya mempersiapkan dahulu batu (ketika bersuci dengan batu). (8) Tidak mengarahkan kencing lurus ke tempat hajat (supaya tidak kembali nembak) (9) Melepas kencing hingga habis dengan “dehem”, sentil pelan 3 kali atau dengan mengurutkan jari tangan kiri dari arah bawah batang kelamin. 

وَإِنْ كُنْتَ فىِ الصَّحْراَءِ فاَبْعُدْ عَنْ عُيُوْنِ النَّاظِرِيْنَ وَاسْتَتِرْ بِشَيْءٍ إِنْ وَجَدْتَهُ وَلاَتَكْشِفُ عَوْرَتَكَ قَبْلَ الإِنْتِهاَءِ إِلىَ مَوْضِعِ الجُلُوْسِ وَلاَتَسْتَقْبِلُ الشَّمْسَ وَلاَ القَمَرَ وَلاَتَسْتَقْبِلُ القِبْلَةَ وَلاَتَسْتَدْبَرُهاَ وَلاَتَجْلُسُ فىِ مُتَحَدِّثِ النَّاسِ وَلاَتَبُلُ فىِ الماَءِ الرَّاكِدِ وَتَحْتَ الشَّجَرَةِ المُثْمِرَةِ وَلاَفىِ الجَحْرِ وَاحْدَرْ الأَرْضَ الصُلْبَةَ وَمُهِبَّ الرِّيْحِ إِحْتِراَزاً مِنَ الرَّشاَشِ لِقَوْلِهِ T ؛

(10) Apabila anda berada di luar ruangan, hindari buang hajat dari pandangan orang (11) Menutupi diri bila menemukan penutup (12) Tidak membuka aurat sebelum sampai duduk buang hajat (13) Tidak menghadap Matahari dan Bulan (14) Tidak menghadap kiblat dan membelakanginya (15) Tidak buang hajat di tempat orang kumpul (16) Tidak buang hajat di air tenang, Tidak dibawah pohon yang berbuah dan Tidak pada lubang bundar permukaan tanah (17) Waspadai buang hajat mengarah permukaan keras dan saat angin berhembus agar tidak terkena cipratan, karena berdasar hadits ;

إِسْتَنْزِهُوا مِنْ البَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ القَبْرِ مِنْهُ

Waspadailah pada saat buang hajat, karena siksa kubur banyak terjadi disebabkan buang hajat. (HR. Daruqutni)

وَاتِّكَئِ فىِ جُلُوْسِكَ عَلَى الرِجْلِ اليُسْرَى وَلاَتُبَلِ قاَئِماً إِلاَّعَنْ ضَرُرْرَةٍ وَاجْمَعْ فىِ الإِسْتِنْجاَءِ بَيْنَ إِسْتِعْماَلِ الحَجَرِ وَالماَءِ فَإِذاَ أَرَدْتَ الإِقْتِصاَرَ عَلَىَ أَحَدِهِماَ فاَلماَءُ أَفْضَلُ وَإِنِ اقْتَصَرْتَ عَلَى الحَجَرِ فَعَلَيْكَ أَنْ تَسْتَعْمِلَ ثَلاَثَةَ أَحْجاَرٍ طاَهِرَةٍ مُنْشِفَةٍ لِلْعَيْنِ تَمْسَحُ بِهاَ مَحَلَ النَّجْوَ بِحَيْثُ لاَتَنْتَقِلُ النَّجاَسَةُ عَنْ مَوْضِعِهاَ وَكَذَلِكَ تَمْسَحُ القَضِيْبَ فىِ ثَلاَثَةِ مَواَضِعَ مِنْ حَجَرٍ فَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ الإِنْتِقاَءُ بِثَلاَثَةٍ فَتَمِّمْ خَمْسَةً أَوْ سَبْعَةً إِلىَ أَنْ يُنْقِىَ بِالإِيْتاَرِ فاَلإِيْتاَرُ مُسْتَحَبٌ وَالإِنْقاَءُ واَجِبٌ وَلاَتَسْتَنْجِ إِلاَّ بِاليَدِ اليُسْرَى وَقُلْ عِنْدَ الفِراَغِ مِنَ الإِسْتِنْجاَءِ ؛

(18) Hendaklah dengan posisi duduk di atas kaki kiri (19) Tidak kencing sambil berdiri kecuali darurat (20) Dipadukan antara air dan batu, tapi apabila ingin singkat maka air lebih utama, dan apabila ingin pakai batu hendaklah dengan tiga butir batu suci yang dapat mengikis kotoran dengan mengusapkan ke anus dan tidak bercerai  atau “belepotan” . Saat kencing pun sama dengan buang air besar (BAB) yaitu memakai tiga butir batu (21) Apabila belum bersih dengan tiga batu maka tambah limat atau sampai tujuh batu sampai bersih, hitungan ganjil adalah sunnah sedang bersih itu wajib (22) Tidak istinja kecuali dengan tangan kiri, baca do’a setelah istinja ;

أَللَّـهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِى مِنَ النِّفاَقِ وَحَصِّنْ فَرْجِى مِنَ الفَواَحِشِ

Ya Allah sucikan hatiku dari munafiq, lindungi farjiku dari keburukan.

وَادْلُكْ يَدَكَ بَعْدَ تَماَمِ الإِسْتِنْجاَءِ بِالأَرْضِ أَوْ بِحاَئِطٍ ثُمَّ غَسَلَهاَ

(23) Setelah istinja, tangan bekas menyentuh kotoran gosok pada lantai atau dinding lalu cuci kembali, Tammat.

Allah mengetahui segalanya.

Daftar Pustaka :
Bidayatul Hidayah – Abu Hamid Al-Ghozali
Muroqil Ubudiyyah – Syekh Nawawi Al-Bantani

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)