Sunday, September 2, 2012

MENGENAL IHWAL REZEKI



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
فَاعْلَمْ أَنَّ الرِّزْقَ أَرْبَعَةُ أَقْسـاَمٍ ؛ مَضْمُوْنٌ , وَمَقْسُوْمٌ , وَمَمْلُوْكٌ , وَمَوْعُوْدٌ
Ketahuilah bahwa rezeki itu terbagi 4 (empat) bagian, yaitu ; pertama Rezeki Madlmun (yang di jamin Allah), kedua Rezeki Maqsum (yang dibagikan Allah), ketiga Rezeki Mamluk (yang di miliki hamba atas karunia Allah) dan yang keempat Rezeki Mau’ud (yang dijanjikan Allah). Rincinanya sebagai berikut ;

A. REZEKI MADLMUN (Yang dijamin Allah)
فاَلمـَضْمُوْنُ ؛ هُوَ الغِدَاءُ وَماَ بِهِ قَوَامُ البِنْيَةِ دُوْنَ سَائِرِ الأَسْبَابِ , فَالضَّمَانُ مِنَ اللهِ تَعَالىَ لِهَذَا النَّوْعِ , وَالتَّوَكُلُ يَجِبُ بِإِزَائِهِ بِدَلِيْلِ العَقْلِ وَالشَّرْعِ , لأَنَّ اللهَ تَعَالىَ كَلَّفَنَا خِدْمَتَهُ وَطَاعَتَهُ بِأَبْدَانِنَا فَضَمِنَ مَايَسُدُّ خَلَلَ البِنْيَةِ لِنَقُوْمَ بِمَاكَلَّفَناَ
Rezeki Madlmun (yang di jamin) ialah rezeki berupa makanan pokok atau makanan lainnya yang bisa di dapat tanpa dengan mencarinya, karena Allah Swt menjamin rezeki macam ini, bertawakal adalah wajib berkenaan dengan rezeki macam ini berdasar logika dan dalil agama, yaitu karena sesungguhnya Allah Swt menyuruh kita untuk menyembahNya dengan anggota badan kita, oleh karena-nya Allah menjamin rezeki macam ini sekedar memulih-kan tenaga pada anggota tubuh agar dapat memenuhi perintah-Nya, yaitu beribadah.

Secara lahiriyah manusia tidak akan sanggup melaksanakan shalat jika tidak ada tenaga, dan tenaga ini disebabkan asupan makanan

وَقَالَ بَعْضُ مَشَايِخِ الكَرَّامِيَّةِ كَلاَمًا حَسَنًا عَلَى أَصْلِهِ ؛ ضَمَانُ أَرْزَاقِ العِبَادِ وَاجِبٌ فىِ حِكْمَةِ اللهِ تَعَالىَ لِثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ ؛
Sebagian para Ulama yang mulia telah berkata dengan bahasa yang baik sesuai asalnya ; Menjamin rezeki manusia adalah wajib dalam hikmah Allah Swt, dikarena-kan tiga hal ;

أَحَدُهَا أَنَّهُ السَّـيِّدُ وَنَحْنُ العَبِيْدُ وَعَلىَ السَّيِّدِ كِـفَايَةُ مُؤْنَةِ العَبِيْدِ , كَمَا أَنَّ العَبِيْدَ خَدَمَةُ السَّيِّدِ
Pertama ;
Allah Swt adalah majikan sedangkan kita semua adalah sahaya, seorang majikan sudah selayaknya harus memenuhi kebutuhan sahayanya sebagaimana sahaya itu sendiri harus melayani majikannya.

وَالثَّانىِ أَنَّهُ خَلَقَهُمْ مُحْتاَجِيْنَ إِلىَ الرِّزْقِ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُمْ سَبِيْلاً إِلىَ طَلَبِهِ مَاهُوَ رِزْقُهُمْ , وَأَيْنَ هُوَ , وَمَتَى هُوَ ؟ لِيَطْلُبُوْهُ بِعَيْنِهِ مِنْ مكَانِهِ , وَفىِ وَقْتِهِ لِيَصِلُوْا إِلَيْهِ , فَوَجَبَ أَنْ يَكْفِيَهُمْ أَمْرَ ذَلِكَ وَيُوَصِّلَهُمْ إِلَيْهِ
Kedua ;
Sesungguhnya Allah Swt menciptakan manusia dan tidak dipungkiri manusia memang membutuhkan rezeki sedang Allah Swt tidak menciptakan jalan atau cara pada mereka untuk mencarinya, apa rezeki mereka ? dimanakah rezeki itu berada ? dan kapankah mendapatkan rezeki itu ? agar mereka dapat mencari rezeki itu langsung dari tempatnya, termasuk juga kapan waktu mencarinya ? agar mereka mudah dalam mendapatkan-nya, namun Allah tidak menciptakan itu semua, semua hanya perkiraan manusia saja, oleh karena itu maka Allah Swt wajib mencukupkan rezeki mereka serta Allah Swt wajib mendapatkan mereka akan rezekinya.

وَالثَّالِثُ أَنَّهُ كَلَّفَهُمْ الخِدْمَةَ وَطَلَبُ الرِّزْقِ شَاغِلٌ عَنْهَا أَنْ يَكْفِيَهُمْ المُؤْنَةَ لِيَتَفَرَّغُوْا لِلْخِدْمَةِ , وَهَذَا كَلاَمُ مَنْ لَمْ يُحِطْ بِأَسْرَارِ الرُّبُوْبِيَّةِ , وَالقَائِلُ بِأَنَّ الرِّزْقَ عَلىَ اللهِ وَاجِبٌ تَائِهٌ , وَقَدْأَوْضَحْنَا فىِ فَنِّ الكَلاَمِ فَسَادَهُ , وَلْنَرْجِعْ إِلىَ المَقْصُوْدِ مِنْ غَرْضِناَ
Ketiga ;
Sesungguhnya Allah Swt membebankan hamba-Nya untuk selalu menyembah-Nya sedang mencari rezeki akan menyita waktu sang hamba bahkan akan menjauhkannya dari menyembah Allah, oleh karena itu layaklah ketika Allah Swt mencukupkan kebutuhan hamba-Nya itu agar dia dapat leluasa menyembah atau melayani Allah Swt.

Pernyataan “Allah wajib mencukupkan rezeki hambaNya” adalah keliru karena hal ini sepintas mengandung makna ada kekuasan tertinggi selian Allah Swt, ketika dicerna mentah pernyataan ini adalah pernyataan orang yang belum mengenal rahasia ketuhanan, karena tidak ada kekuasaan tertinggi dari kekuasaan Allah, mutlak, sebagaimana dijelaskan dalam llmu tauhid.

Wal hasil, Allah Swt wajib mencukupkan rezeki hambaNya, maksudnya ialah berada dalam ruang rahasia dan hikmah dari Allah Swt, artinya dikembalikan kepada kehendak dan kekuasaanNya dan tidak dalam kandungan makna yang mentah.
B. REZEKI MAQSUM (Yang dibagikan Allah)
وَأَمَّاالرِّزْقُ المـَقْسُوْمُ ؛ فَهُوَ مَاقَسَمَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَكَتَبَهُ فىِ اللَّوْحِ المَحْفُوْظِ مِمَّايَأْكُلُهُ وَيَشْرَبُهُ وَيَلْبَسُهُ كُلُّ وَاحِدٍ بِمِقْدَارٍ مُقَدَّرٍ وَوَقْتٍ مُؤَقَّتٍ لاَيَزِيْدُ وَلاَيَنْقُصُ وَلاَيَتَقَدَّمُ وَلاَيَتَأَخَرُ عَمَّاكُتِبَ بِعَيْنِهِ
Rezeki Maqsum (yang dibagikan) ialah rezeki yang Allah bagikan dan Allah catat dalam Lauhil-mahfudz, yaitu berupa makanan, minuman dan pakaian. Masing-masing mendapatkan bagian yang telah ditentukan selama hidup dan pada waktu yang ditentukan, rezeki ini tidak akan bertambah ataupun berkurang, mendapat-kannya tidak akan maju ataupun tertunda, ini karena melalui rincian catatan di Lauhil-Mahfudz

كَمَاقَالَ النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرِّزْقُ مَقْسُوْمٌ مَفْرُوْغٌ مِنْهُ لَيْسَ تَقْوَى تَقِىٍّ بِزَائِدِهِ وَلاَفُجُوْرٌ فَاجِرٌ بِنَاقِصِهِ
Rezeki ini berdasarkan hadits baginda Nabi saw ; Rezeki Maqsum ialah rezeki yang tanpa terpengaruh apapun, ia tidak akan bertambah karena ketaqwaan di orang yang bertaqwa, ia juga tidak akan berkurang karena kejahatan di orang yang jahat.

C. REZEKI MAMLUK (Yang dimiliki hamba atas karunia Allah)
وَأمَّا المـَمْلُوْكُ ؛ فَمَايَمْلِكُهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ أَمْوَالِ الدُّنْيَا عَلَى حَسَبِ مَاقَدَّرَ اللهُ تَعَالىَ وقَسَمَ لَهُ أَنْ يَمْلِكَهُ وَهُوَ مِنْ رِزْقِ اللهِ تَعَالىَ
Rezeki mamluk (yang dimiliki hamba) ialah mencakup semua harta dunia yang dimiliki seseorang sesuai rezeki yang telah ditentukan dan dibagikan oleh Allah kepadanya, semua rezeki yang dimiliki ialah karunia dari Allah, hal ini berdasar-kan firman Allah ;

أَنْفِقُوْا مِمَّارَزَقْنَاكُمْ أَىْ مِمَّامَلَّكْنَاكُمْ
Artinya :
“Belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqoroh 254) artinya rezeki yang kalian miliki

D. REZEKI MAU’UD (Yang dijanjikan Allah)
وَأَمَّاالمـَوْعُوْدُ ؛ فَهُوَ مَاوَعَدَ اللهُ بِهِ عِبَادَهُ المُتَّقِيْنَ بِشَرْطِ التَّقْوَى حَلاَلاً مِنْ غَيْرِ كَدٍّ
Rezeki Mau’ud (yang dijanjikan Allah) ialah rezeki yang dijanjikan kepada hamba-hambaNya yang bertaqwa, mereka akan diberikan rezeki oleh Allah, halal dan tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapat-kannya, jika bertaqwa. Hal ini berdasar firman Allah Swt ;

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya :
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq 2-3)

فَهَذِهِ أَقْسَامُ الرِّزْقِ , وَالتَّوَكُّلَ إِنَّمَايَجِبُ بِإِزَاءِ المَضْمُوْنِ مِنْهَا , فَاعْلَمْ ذَلِك
Demikianlah uraian singkat tentang bagian rezeki, perlu diingat kewajiban bertawakal akan rezeki ialah ketika mengimbangi rezeki Madlmun, artinya kita hanya wajib untuk bertawakal pada rezeki Madlmun (yang dijamin), ketahuilah itu !!

KESIMPULAN
Islam menganjurkan kita untuk mencari rezeki yang halal sesuai kemampuan, boleh dengan menggunakan manajemen yang tangguh atau hal lainnya, karena mencari rezeki halal itu sebuah kewajiban setingkat di bawah kewajiban shalat fardu.

Jangan lupa setelah anda berusaha iringilah dengan tawakal karena manusia hanya berusaha dan keberhasilan itu hanya Allah Swt yang menentukan.

Yang lebih penting lagi ketika mencari rezeki, niatkanlah memenuhi perintah Allah Swt karena memang hal itu diperintahkan, niatkan untuk bekal ibadah, niatkan pula ketika ada lebihnya akan disalurkan pada hal-hal yang baik, seperti zakat, infaq atau sedekah, juga niatkan pada niat baik yang lainnya, ketika niat seperti itu saja dilakukan maka di akhirat mukanya bercahaya, ia termasuk orang selamat, aman sejahtera dan berkedudukan tinggi.

Tammat
Allah mengetahu segalanya

Pustaka : Sirajuth-Thalibin Syekh Ihsan Jampes Kediri

Thursday, August 9, 2012

FIQIH MEMBAHAS TENTANG ZAKAT


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَمَا آُتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيْدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُولَئِكَ هُمُ المُضْعِفُونَ
Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS. Ar-Ruum 39)

Pengertian zakat
الزَّكاَةُ فيِ اللُّغَةِ النَّمْوُ وَالبَرْكَةُ وَكَثْرَةُ الخَيْرِ , وَفيِ الشَّرْعِ إِِسْمٌ لِقَدْرٍ مِنَ ماَلِ مَخْصُوْصٍ يُصَرَّفُ ِلأَصْناَفٍ مَخْصُوْصَةٍ بِشَرَائِطَ
Artinya :
Zakat menurut bahasa adalah bersih, berkah atau kebaikan yang banyak. Sedangkan zakat menurut  istilah agama adalah nama harta tertentu yang diambil dari harta tertentu melalui ketentuan tertentu dan diberikan kepada kelompok tertentu yang memenuhi syarat.

Harta wajib zakat
Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya ada lima macam, yaitu hewan ternak, emas perak, makanan pokok, buah-buahan dan harta niaga.

Adapun zakat propesi atau zakat dari penghasilan tetap sama dengan zakat emas-perak atau zakat Maal, karena termasuk kategori harta dan wajib dizakati, zakat profeasi yang berpenghasilan tetap ialah kandungan makna dari zakat emas-perak atau zakat Maal.

Zakat hewan ternak
Hewan ternak yang wajib zakat ada 3 jenis, yaitu unta, sapi atau kerbau dan kambing atau domba.
Syarat wajib zakat hewan ternak ada 6, yaitu Islam, merdeka, milik sempurna, nishab, haul dan dilepas liar. Nishab zakat hewan ternak Awal mula nishab unta adalah 5 ekor, dan wajib zakatnya  1 ekor kambing Jada’ah. Awal mula nishab sapi adalah 30 ekor, dan wajib zakatnya 1 ekor sapi Tabi’ yaitu sapi usia satu tahun. Awal mula nishab kambing adalah 40 ekor, dan wajib zakatnya  1 ekor kambing Jada’ah.

Zakat Emas perak
Syarat wajib zakat emas perak ada 5, yaitu Islam, merdeka, milik sempurna, nishab dan haul.
Nishab emas adalah 20 mitsqol (93,6 gram) dan wajib zakatnya 2,5% sedangkan nishab perak adalah 200 dirham (624 gram) dan wajib zakatnya 2,5%.

Zakat makanan pokok
Syarat wajib zakat makanan pokok ada 3, yaitu ditanam sendiri, sebagai makanan pokok setempat dan nishab. Nishab makanan pokok seperti padi adalah 5 Ausuq (kira-kira 700 kg) wajib zakatnya 5%.

Zakat Buah-buahan
Buah-buahan yang wajib dikeluarkan zakatnya ada dua yaitu buah kurma dan anggur. Syarat wajib zakat buah-buahan ada 4, yaitu Islam, merdeka, milik sempurna dan nishab. Nishab buah-buahan sama dengan nishab makanan pokok yaitu 5 Ausuq, wajib zakatnya 5%.

Zakat harta niaga
Syarat wajib zakat harta niaga sama dengan syarat wajib zakat emas perak yaitu 5 macam, diantaranya Islam, merdeka, milik sempurna, nishab dan haul. Harta niaga dihitung di akhir tahun dengan nilai harga, apabila dia mencapai sampai pada nishab yaitu sebesar 20 mitsqol emas (93,6 gram) atau 200 dirham perak (624 gram), zakatnya sebesar 2,5%.

Zakat Fitrah
وَتَجِبُ زَكاَةُ الفِطْرِ بِثَلاَثَةِ أَشْياَءَ ؛ الإِسْلاَمُ , وَغُرُوْبُ الشَّمْسِ مِنْ آَخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ , وَوُجُوْدُ الفَضْلِ عَنْ قُوْتِهِ وَقُوْتِ عِياَلِهِ فيِ ذَلِكَ اليَوْمِ , وَيُزَكِّيْ عَنْ نَفْسِهِ وَعَمَّنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ مِنَ المُسْلِمِيْنَ  
Artinya :
Wajib zakat Fitrah disebabkan 3 hal, yaitu Islam, terbenam matahari pada hari terakhir bulan Ramadlan dan memiliki harta lebih dari kebutuhan pokok dirinya dan keluarga. Ketika memenuhi tiga hal tersebut maka wajib mengeluarkan zakat fitrah dirinya dan zakat fitrah anggota keluarga yang menjadi tanggungannya yang muslim.

Besar zakat fitrah adalah 3,25 liter beras tiap orang, termasuk bayi yang baru lahir, zakat fitrah ini bisa diuangkan sesuai dengan harga beras yang layak.

Mustahiq (orang yang berhak menerima zakat)
وَتُدْفَعُ الزَّكاَةُ إِلىَ الأَصْناَفِ الثَّماَنِيَّةِ الَّذِيْنَ ذَكَرَهُمُ اللهُ تَعاَلىَ فيِ كِتاَبِهِ بِقَوْلِهِ سُبْحاَنَهُ - إِنَّماَ الصَّدَقاَتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَساَكِيْنِ وَالعاَمِلِيْنَ عَلَيْهاَ وَالمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفيِ الرِّقاَبِ وَالغاَرِمِيْنَ وَفيِ سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ - أَوْ إِلىَ مَنْ يُوْجَدُ مِنْهُمْ
Artinya :
Zakat disalurkan kepada delapan kelompok yang berhak menerima zakat, sebagaimana diabadian Allah dalam Al-Qur’an - Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan. - (QS. At-taubah 60) Atau disalurkan terhadap orang-orang yang ditemukan diantara semuanya.

Catatan :
Harta zakat harus diberikan kepada mustahiqnya dulu, tidak boleh disalurkan atau digunakan kepada yang lain yang tidak termasuk Mustahiq sesuai defnisi mustahiq zakat, artinya zakat tidak boleh disalurkan seperti untuk pembangunan mesjid, kecuali ada persetujuan mustahiq-mustahiq itu sendiri.

Niat mengeluarkan Zakat

a. Niat zakat Fithrah dari diri sendiri
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الفِطْرِ عَنْ نَفْسِى فَرْضاً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat mengeluarkan zakat Fitrah dari diri saya sendiri fardu karena Allah Sw”

b. Niat zakat Fithrah dari diri sendiri dan keluarga

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الفِطْرِ عَنْ نَفْسِى وَعَمَّنْ تَلْزَمُنِى نَفَقَتُهُمْ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat mengeluarkan zakat Fitrah diri saya dan keluarga tanggungan saya, fardu karena Allah Sw”

c. Niat zakat harta (emas perak)
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الماَلِ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat mengeluarkan zakat harta fardu karena Allah Sw”

d. Niat zakat niaga
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ التِّجاَرَةِ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat mengeluarkan zakat niaga fardu karena Allah Sw”

e. Do’a ketika menerima zakat

آَجَرَكَ اللهُ فِيْماَأَعْطَيْتَ وَباَرَكَ فِيْماَأَبْقَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْراً
“Semoga Allah Swt memberi pahala kepada anda akan zakat yang telah anda keluarkan dan memberkahkan harta yang masih tersisa sekaligus menjadi harta yang suci bagi anda”

Allah mengetahui segalanya..

Saturday, August 4, 2012

SEPULUH SUNNAH DALAM BERPUASA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqoroh 183)
  
Sepuluh yang disunnahkan puasa ialah : 1. Makan sahur, 2. Segera berbuka puasa jika tiba waktunya, 3. Berdoa buka puasa, 4. Mandi wajib sebelum waktu subuh, 5. Menjaga lisan dari berkata yang tidak pantas apalagi yang diharamkan, 6. Menjaga diri agar tidak menuruti hawa nafsu berlebihan, 7. Perbanyak sedekah dan membaca qur'an, 8. Perbanyak i'tikaf terlebih sepuluh hari akhir, 9. Mengkhatamkan qur'an di ramadhan dan 10. Segera qodlo jika ada puasa yang harus di qodlo.

(وَ) سُنَنُ الصَّوْمِ عَشَرَةٌ ؛ الأَوَّلُ مَذْكُوْرٌ بِقَوْلِهِ (سُنَّ تَسَحُرٌ) لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فيِ السُّحُوْرِ بَرَكَةٌ وَيَحْصُلُ السَّحُوْرُ عَلَى شَيْءٍ وَإِنْ قَلَّ وَلَوْ جُرْعَةَ مَاءٍ وَيَدْخُلُ وَقْتُهُ بِنِصْفِ اللَّيْلِ وَالأَفْضَلُ تَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ ماَ لَمْ يَقَعُ فيِ شَكٍّ لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ لاَ تَزَالُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ ماَ عَجِّلُوْا الفِطْرَ وَأَخِّرُوا السَّحُوْرَ , (وَ) الثّاَنِيْ (تَعْجِيْلُ الفِطْرِ) بَعْدَ تَحَقُّقِ الغُرُوْبِ وَقَبْلَ الصَّلاَةِ لِلْخَبَرِ السَّابِقِ وَسُنَّ ذَلِكَ وَلَوْ مَارًّا بِالطَّرِيْقِ وَلاَ تَنْخَرِمُ مُرُوْءَتُهُ بِهِ كَطَلَبِ الأَكْلِ يَوْمَ عِيْدِ الفِطْرِ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَلَوْ مَارًّا بِالطَّرِيْقِ , وَالمُعْتَمَدُ عَدَمُ حُصُوْلِ سُنَّةِ التَّعْجِيْلِ بِالجِمَاعِ لِمَا فِيْهِ مِنْ إِضْعَافِ القُوَّةِ

(وَ) سُنَّ أَنْ يَكُوْنَ الفِطْرُ (بِتَمَرٍ فَمَاءٍ) لِخَبَرٍ صَحَّحَهُ التُّرْمُذِيْ وَابْنُ حِبَّانَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلَى التَّمَرِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ التَّمَرَ فَعَلَى المَاءِ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ , وَتَرْتِيْبُهُ فيِ الأَفْضَلِيَّةِ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى رُطَبٍ فَتَمَرٍ فَمَاءٍ فَحُلُوٍ فَحَلَوَاءٍ لِمَا وَرَدَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطُباَتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حِسَّا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ , وَقَضِيَّةُ هَذَا الخَبَرِ أَنَّ السُّنَّةَ تَثْلِيْثُ مَا يُفْطَرُ عَلَيْهِ مِنْ رُطَبٍ وَغَيْرِهِ وَيُقَدَّمُ العَسَلُ عَلَى اللَّبَنِ ِلأَنَّهُمْ نَظَرُوْا لِلْحُلُوِّ فيِ هَذَا المَحَلِ بَعْدَ فَقْدِ التَّمَرِ وَالمَاءِ وَنَحْوِهِمَا مِمَّا وَرَدَ تَفَاؤُلاً بِالحَلاَوَةِ أَوْ لِنَفْعِ البَصَرِ

وَالثَّالِثُ الدُّعَاءُ المَأْثُوْرُ عَقِبَ فِطْرِهِ وَهُوَ – أَللَّـهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَبِكَ آَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ العُرُوْقُ وَثَبَّتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعاَلىَ ياَوَاسِعُ الفَضْلِ إِغْفِرْ ليِ أَلحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ هَدَانِيْ فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ , (وَ) الرَّابِعُ (غَسْلٌ عَنِ) الحَدَثِ الأَكْبَرِ مِنْ (جِنَابَةٍ) وَحَيْضٍ وَنِفَاسٍ (قَبْلَ فَجْرٍ) لِيُؤْدِيَ العِبَادَةَ عَلَى الطَّهَارَةِ وَلِلْخَشْيَةِ مِنْ وُصُوْلِ المَاءِ إِلىَ بَاطِنِ الأُذُنِ أَوْ الدُّبُرِ أَوْ غَيْرِهِمَا وَيَنْبَغِي أَنْ يَغْسِلَ هَذِهِ المَوَاضِعَ قَبْلَ الفَجْرِ بِنِيَّةِ رَفْعِ الجِنَابَةِ إِنْ لَمْ يَتَهَيَّأَ لَهُ الغَسْلُ الكَامِلُ ,

وَالخَامِسُ كَفُّ اللِّسَانِ عَمَّا لاَ يَعْنِي سِيْمَا كُلُّ مُحَرَّمٍ كَكَذْبٍ وَغَيْبَةٍ ِلأَنَّهُ مُحْبِطٌ لِلثَّوَابِ , (وَ) السَّادِسُ (كَفُّ) النَّفْسِ عَنْ (شَهْوَةٍ) مُبَاحَةٍ لاَ تَبْطُلُ الصَّوْمُ مِنْ تَوَسُعِ طَعَامٍ وَشَرَابٍ وَتَلَذُّذٍ بِنَحْوِ مَسْمُوْعٍ وَمَبْصَرٍ وَمَلْمُوْسٍ وَمَشْمُوْمٍ كَشَمِّ رَيْحَانٍ وَنَظْرٍ إِلَيْهِ وَلَمْسِهِ ِلأَنَّ فِيْهِ تَرَفُهًا لاَ يُنَاسِبُ حِكْمَةَ الصَّوْمِ

(وَ) السَّابِعُ مَذْكُوْرٌ بِقَوْلِهِ (بِرَمَضَانَ إِكْثَارُ صَدَقَةٍ) وَجُوْدٌ وَزِيَادَةُ تَوْسِعِهِ عَلَى العِيَالِ وَإِحْسِانٍ إِلىَ ذَوِي الأَرْحَامِ وَالجَيْرَانِ وَمِنْ ثَمَّ سُنَّ أَنْ يُفْطِرَهُمْ بِأَنْ يُعْشِيَهُمْ فَإِنْ عَجَزَ عَنْ عَشَائِهِمْ فَطَرَهُمْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ أَوْ بِتَمَرَةٍ أَوْ غَيْرِهِمَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَنَ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ (وَ) إِكْثاَرُ (تِلاَوَةٍ) وَأَذْكَارٍ وَفَعْلِ الخَيْرَاتِ فيِ كُلِّ مَكاَنٍ حَتَّى الحَمَامَ وَالطَّرِيْقَ فَمِنَ التِّلاَوَةِ المُدَارَسَةِ المُعَبَّرِ عَنْهَا بِالإِدَارَةَ وَهِيَ أَنْ يَقْرَأَ عَلَى غَيْرِهِ وَيَقْرَأَ غَيْرُهُ عَلَيْهِ وَلَوْ غَيْرَ مَاقَرَأَهُ الأَوَّلُ لِخَبَرٍ إِنَّ جِبْرِيْلَ كَانَ يُلْقِى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيِ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

(وَ) الثَّامِنُ إِكْثَارُ (اعْتِكَافٍ) بِأَنْ يَعْتَكِفَ فيِ جَمِيْعِ الشَّهْرِ وَهُوَ فيِ العُشْرِ الآَخِرِ آَكَّدُ وَلِذَا قاَلَ (سِيَّمَا) بِالتَّشْدِيْدِ وَالتَّخْفِيْفِ وَهِيَ دَالَةٌ ِلأُوْلُوِيَّةِ مَابَعْدَهَا بِالحُكْمِ مِمَّا قَبْلَهَا لاَ مُسْتَثْنَى بِهَا وَالأَفْصَحُ جَرُّ مَابَعْدَهَا عَلَى الإِضَافَةِ وَتَقْدِيْمِ لاَ عَلَيْهَا بَلْ قاَلَ بَعْضُ المُحَقِّقِيْنَ إِنَّ حَذْفَهَا لَحْنٌ وَمَا زَائِدَةٌ وَيَجُوْزُ رَفْعُ مَا بَعْدَ لاَ سِيَّمَا عَلَى أَنَّهُ خَبَرُ مُبْتَدَأٍ مَحْذُوْفٍ وَمَا حِيْنَئِذٍ مَوْصُوْلَةٌ وَيَجُوْزُ نَصْبُهُ عَلَى أَنَّهُ مَفْعُوْلٌ لِفِعْلٍ مَحْذُوْفٍ وَهُوَ صِلَّةٌ لِمَا أَيْ لاَ شَيْءَ الَّذِيْ أُرِيْدُ (عَشْرَ آَخِرِهِ) فَهِيَ أَوْلىَ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ غَيْرِهِ ِللاِتِّبَاعِ وَِلأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ إِذَا دَخَلَ العُشْرُ الأَخِيْرُ أَحْياَ اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ المِئْزَرَ وَهَذَا كِنَايَةٌ عَنِ الإِقْبَالِ عَلَى العِبَادَةِ بِهِمَّةٍ وَنَشَاطٍ

وَالتَّاسِعُ خَتْمُ القُرْآَنِ فيِ جَمِيْعِ رَمَضَانَ , وَالعَاشِرُ التَّتَابُعُ فيِ قَضَاءِ رَمَضَانَ

Pustaka : Fiqih Imam Syafe’i, Nihayatuz-Zein, Syekh Nawawi

Monday, July 2, 2012

MENYAMBUT MALAM NISFU SYA'BAN


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
حم , وَالكِتَابِ المُبِيْنِ , إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فيِ لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّاكُنَّا مُنْذِرِيْنَ , فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ , أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ , رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ ؛
Haa miim. Demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (Malam qodar) dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul. Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Ad-Dukhon 1-6, Pustaka : Tafsir Ibnu Kastir)

يَمْحُوا اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. Ar-Ra'du 39, Pustaka : Tafsir Ibnu Kastir)

قاَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ إِذَاكاَنَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ اطَّلَعَ اللهُ إِلىَ خَلْقِهِ فيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيُمْلِي لِلْكاَفِرِيْنَ وَيَدْعُ أَهْلَ الحِقْدِ لِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدْعُوْهُ
Rasulullah SAW bersabda ; Apabila tiba malam nisfu Sya'ban maka Allah memandang (menurunkan kasih sayang) kepada semua makhluq-Nya, sehingga Allah mengampuni orang-orang yang beriman, merendahkan orang-orang kafir dan membiarkan orang-orang pendendam karena dendamnya kecuali mereka melepaskan sifat dendam tersebut. (HR. Al-Baehaqiy, Pustaka : Sunan Ash-Shugra Al-Baehaqiy)

( قَوْلُهُ وَالمُرَادُ عِرْضُهاَ عَلَى اللهِ تَعاَلىَ ) أَيْ إِجْمَالاً وَكَانَ المُناَسِبُ زِياَدَتُهُ ِلأَنَّ العِرْضَ إِنَّماَ يَكُوْنُ عَلَى اللهِ تَعاَلىَ مُطْلَقاً سَوَاءٌ كاَنَ عِرْضُ الاِثْنَيْنِ وَالخَمِيْسِ أَوْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْباَنَ أَوْ لَيْلَةُ القَدَرِ فاَلفَرْقُ إِنَّماَ هُوَ فيِ الإِجْماَلِ وَالتَّفْصِيْلِ فَعِرْضُ الإِثْنَيْنِ وَالخَمِيْسِ عَلَى اللهِ تَعاَلىَ إِجْمَاِليٌّ وَكَذَا عِرْضُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةَ القَدْرِ وَالعِرْضُ التَّفْصِيْلِيْ هُوَ فيِ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ فيِ التُّحْفَةِ وَعِبَارَتُهاَ أَيْ تُعْرَضُ عَلَى اللهِ تَعاَلىَ وَكَذَا تُعْرَضُ فيِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْباَنَ وَفيِ لَيْلَةِ القَدَرِ فاَلأَوَّلُ أَيْ عِرْضُهاَ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالخَمِيْسِ إِجْمَاِليٌّ بِاعْتِباَرِ الأُسْبُوْعِ وَالثّاَنِيْ بِاعْتِباَرِ السَّنَةِ وَكَذَا الثّاَلِثُ وَفاَئِدَةُ تَكْرِيْرِ ذَلِكَ إِظْهَارُ شَرْفِ العَامِلِيْنَ بَيْنَ المَلاَئِكَةِ وَأَمّاَ عِرْضُهاَ تَفْصِيْلاً فَهُوَ رَفْعُ المَلاَئِكَةِ لَهاَ بِاللَّيْلِ مَرَّةً وَبِالنَّهاَرِ مَرَّةً اهـ

Semua amal perbuatan manusia diperlihatkan kepada Allah SWT, pelaporan amal ini ada yang bersifat tahunan yaitu setiap malam nisfu sya'ban atau malam qodar, ada yang bersifat mingguan, seminggu dua kali yaitu setiap hari senin dan hari kamis, dan ada yang bersifat harian yaitu setiap pagi dan sore. Mofit pelaporan amal ini karena untuk memuliakan pelaku amal kebaikan di hadapan para malaikat. ( Pustaka : I'anathu-Thalibin )

Dalam menyambut nisfu sya'ban selayaknya kita bermohon agar senantiasa diberkahkan umur, diselamatkan sehingga terlindung dari marabahaya serta mampu tidak berharap kepada sesama makhluq. Diantaranya diirngi dengan membaca surat Yasin bersama-sama.

قاَلَ بَعْضُهُمْ أَنْ تَقْرَأَ يس لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْباَنَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ؛ الأُوَلىَ بِنِيَّةِ طُوْلِ العُمْرِ . وَالثَّانِيَّةُ بِنِيَّةِ دَفْعِ البَلاَءِ . وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ الإِسْتِغْناَءِ عَنِ النَّاسِ

Para Ulama menyatakan, dalam menyambut nisfu Sya'ban diantaranya diirngi dengan membaca surat Yasin tiga kali dengan tiga pokok permohonan. Pertama bermohon dipanjangkan umur dalam taat ibadah kepada Allah Swt. Kedua bermohon agar di terlindung dari segala macam bencana. Ketiga bermohon agar tidak bergantung pada sesama makhluq.

DO'A NISFU SYA'BAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
إِلَهَناَ جُوْدُكَ دَلَّناَ عَلَيْكَ , وَإِحْساَنُكَ أَوْصِلَناَ إِلَيْكَ , وَكَرَمُكَ قَرَّبَناَ لَدَيْكَ , نَسْكُوْا إِلَيْكَ ماَلاَ يَخْفىَ عَلَيْكَ , وَنَسْأَلُكَ ماَ لاَ يُعْسِرُ عَلَيْكَ , إِذْ عِلْمُكَ بِأَحْوَلِناَ يَكْفِى عَنْ سُؤَالَناَ , ياَ مُفْرِجاً كَرْبَ المَكْرُوْبِيْنَ فَرِّجْ عَنّاَ ماَ نَحْنُ فِيْهِ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحاَنَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ , فاَسْتَجَبْناَ لَهُ وَنَجَّيْناَهُ مِنَ الغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنَجِّى المُؤْمِنِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ياَ ذاَالمَنِّ وَلاَ يَمُنُّ عَلَيْهِ ياَ ذاَالجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ ياَ ذاَ الطُّوْلِ وَالإِنْعاَمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَهْرُ اللاَّجِيْنَ وَجاَرُ المُسْتَجِرِيْنَ وَمَأْمَنُ الخاَئِفِيْنَ , أَللَّـهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَناَ عِنْدَكَ فىِ أُمِّ الكِتاَبِ شَقِياًّ أَوْ مَحْرُوْماً أَوْ مَطْرُوْداً أَوْ مُقْتَراً عَلَيْناَ فىِ الرِّزْقِ فاَمْحُ اللَّـهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقاَوَتَناَ وَحِرْماَناَ وَطَرَدِناَ وَاقْتاَرِ رِزْقِناَ , وَأَثْبِتْناَ عِنْدَكَ فىِ أُمَّ الكِتاَبِ سَعِيْداً مَرْزُوْقاً مُوْقِفاً لِلْخَيْراَتِ , فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ فىِ كِتاَبِكَ المُنَزَّلِ عَلَى لِساَنِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ يَمْحُ اللهُ ماَ يَشاَءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتاَبِ إِلَهَناَ بِالتَّجَلِّى الأَعْظَمِ , فىِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْباَنَ المُكَرَّمِ , الَّتِى يُفْرَقُ فِيْهاَ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ , أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ البَلاَءِ ماَنَعْلَمُ وَماَ لاَ نَعْلَمُ وَماَ أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ النِّبِىِّ الأُمِىِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ .

Artinya ;
Ya Allah Ya Tuhan kami, kemurahan-Mu telah menunjukan kami dapat menghadap-Mu, kebaikan-Mu telah menghubungkan kami kepada-Mu, kemuliaan-Mu telah mendekatkan kami di hadapan-Mu, kepada-Mu kami memanjatkan sesuatu yang tidak akan pernah samar pada diri-Mu, kepada-Mu kami memohon sesuatu yang tidak akan pernah menyulitkan diri-Mu, karena pengetahun Engkau akan keadaan diri kami cukuplah itu sebagai permohonan kami, Ya Allah, Yang membebaskan kesulitan orang-orang yang sulit, bebaskan pula kami dari kesulitan yang kami alami, tiada Tuhan melainkan Engkau, maha suci Engkau sesungguhnya hanya kami sendirilah yang selalu berbuat dlolim, (ayat "maka kami mengabulkan permohonan dia (Nabi Yunus) dan kami menyelamatkan dia dari kesulitan (berada dalam perut ikan) demikian pula kami akan menyelamatkan orang-orang mukmin". Ya Allah Yang memiliki karunia besar dan tiada hal lain yang menandingi kepemilikan Engkau, Ya Allah Rahman, Yang Maha Agung nan Maha Mulia, Ya Allah Ya Rahiim, Yang memiliki karunia dan kenikmatan, tiada Tuhan melainkan Engkau, Sinar terang dari-Mu yang memancar pada orang-orang baik laksana mutiara, sinar terang dari-Mu yang mempesona pada orang-orang yang sungguh terpesona, dan sonar kedamaian dari-Mu jelas akan melindungi orang-orang yang takut. Ya Allah seandainya Engkau mencatat kami dalam buku induk-Mu sebagai orang yang celaka, orang yang terhalangi rahmat, orang yang terusir atau orang yang sangat kekurangan dalam harta, maka hapuskanlah kami dari semua itu Ya Allah.., dan tetapkan kami dalam buku induk-Mu sebagai orang yang selamat, sebagai orang mendapatkan karunia sesuai pada kebenaran. Sesungguhnya Engkau berfirman dan firman-Mu maha benar dalam kutab-Mu yang diturunkan kepada lisan Nabi-Mu yang di utus.."Allah bisa menghapus pada sesuatu yang dikehendaki dan bisa juga menetapkannya, di sisi-Nya ada bukum induk catatan manusia". Ya Allah Tuhan kami, berkat karunia besar-Mu di malam separuh sya'ban yang mulia ini, yang dimana akan segera ditetapkan setiap keputusan kebijakan-Mu dan setiap keputusan sanksi-Mu, agar senantiasa melepaskan segala malapetaka baik dari sesuatu yang kami ketahui ataupun dari sesuatu yang tidak kami ketahui, dan pada apa yang Engkau lebih mengetahuinya, sesungguhnya Engkau maha Agung nan Maha Pemurah. Semoga Allah sampaikan kasih sayang dan keselamatan kepada penghulu kami, yaitu Nabi Muhammad yang tidak bisa baca dan menulis (ini karena untuk menyatakan qur'an itu firman Allah SWT), juga kepada keluarga beliau serta para sahabat. Amien. (Pustaka : Fathul Muluk Al-Majid)

Catatan :
Susunan membaca Yasin adalah sebagai berikut : Setelah membaca Yasin pertama, kemudian do’a bersama-sama. Setelah membaca Yasin kedua, kemudian do’a bersama-sama dan setelah membaca Yasin ketiga, kemudian do’a bersama-sama. Jika mungkin setiap kali berdoa sebanyak 10 kali :


Allah mengetahui segalanya…
By Ahmad Daerobiy

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)