Saturday, February 8, 2014

BATASAN I'TIDAL DALAM SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
إِذَا قُمْتَ إِلىَ الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اجْلِسْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فىِ صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Apabila kamu berdiri untuk shalat bertakbirlah kemudian baca Qur’an yang mudah bagi kamu, Kemudian ruku’lah dengan Thumaninah, Kemudian bangun sampai berdiri tegak, Kemudian sujud dengan Thumaninah, Kemudian duduk dengan thumaninah, Kemudian lakukan semua itu di semua shalat kamu. (HR. Ibnu Hiban)

وَالإِعْتِدَالُ وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ ؛ الإِعْتِدَالُ رُكْنٌ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُسِيْءِ صَلاَتَهُ "ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا" وَأَمَّا وُجُوْبُ الطُّمَأْنِيْنَةِ فَلِحَدِيْثٍ صَحِيْحٍ رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدَ وَابْنُ حِبَّانِ فىِ صَحِيْحِهِ وَقِيَاسًا عَلَى الجُلُوْسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ

I’tidal dan Thumaninah dalam I’tidal ; Ialah salah satu rukun Shalat, berdasarkan sabda Nabi SAW kepada seseorang yang saat itu melakukan shalat dengan buruk “Kemudian bangun sampai berdiri tegak” (bacalah haditsnya..!) Adapun Kewajiban Thumaninah dalam I’tidal adalah berdasarkan hadits sohih yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Ibnu Hiban dalam sohih haditsnya, juga berdasarkan qiyas atau mengukurkan I’tidal dengan duduk diantara dua sujud, sama-sama termasuk rukun pendek.

ثُمَّ الإِعْتِدَالُ الوَاجِبُ أَنْ يَعُوْدَ بَعْدَ رُكُوْعِهِ إِلىَ الهَيْئَةِ الَّتِىْ كَانَ عَلَيْهَا قَبْلَ الرُّكُوْعِ سَوَاءٌ صَلاَّهَا قَائِمًا أَوْ قَاعِدًا وَلَوْ رَفَعَ الرَّاكِعُ رَأْسَهُ ثُمَّ سَجَدَ وَشَكَّ هَلْ أَتَمَّ اعْتِدَالُهُ وَجَبَ أَنْ يَعْتَدِلَ قَائِمًا وَيُعِيْدُ السُّجُوْدَ وَيَجِبُ أَنْ لاَ يَقْصِدَ بِرَفْعِهِ غَيْرَ الإِعْتِدَالِ فَلَوْ رَأَى فىِ رُكُوْعِهِ حَيَّةً فَرَفَعَ فَزْعًا مِنْهَا لَمْ يُعْتَدُّ بِهِ

Kemudian I’tidal yang diwajibkan dalah pelaksanaan shalat ialah kembali setelah ruku’ pada keadaan semula sebelum ruku’ baik shalat dalam keadaan berdiri ataupun shalat dalam keadaan duduk. Apabila seorang ruku’ mengangkatkan kepalanya kemudian ia melakukan sujud, namun ragu apakah ia melakukan I’tidal dengan sempurna atau tidak, maka ia wajib melakukan I’tidal dengan tegak serta mengulang kembali sujudnya. Juga diwajibkan, jangan bermaksud bangkit selain untuk I’tidal, artinya apabila seseorang melihat ular di saat melakukan ruku’ kemudian ia kaget dan spontan bangun dari ruku’ maka bangun dari ruku’ seperti itu tidak diperhitungkan sebagai bangun untuk I’tidal.

وَيَجِبُ أَنْ لاَ يُطَوِّلَ الإِعْتِدَالَ فَإِنْ طَوَّلَهُ عَمْدًا فَفِى بُطْلاَنِ صَلاَتِهِ ثَلاَثَةُ أَوْجُهٍ أَصَحُّهَا عِنْدَ إِمَامِ الحَرَمَيْنِ وَقَطَعَ بِهَ البَغَوِى تَبْطُلُ إِلاَّ مَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِتَطْوِيْلِهِ فىِ القُنُوْتِ أَوْ صَلاَةِ التَّسْبِيْحِ , وَالثَّانىِ لاَ تَبْطُلُ مُطْلَقًا , وَالثَّالِثُ إِنْ طَوَّلَ بِذِكْرٍ آَخَرٍ لاَ بِقَصْدِ القُنُوْتِ لَمْ تَبْطُلُ وَهَذَا مَا اخْتَارَهُ النَّوَوِى وَقاَلَ إِنَّهُ الأَرْجَحُ

Dan wajib untuk tidak memperlama melakukan I’tidal, karena apabila memperlama I’tidal dengan sengaja hukum batal shalatnya ada tiga sisi, dan yang paling sohih dan benar mnurut Imam Harmaen dan diputuskan oleh Imam Al-Bagowi adalah batal shalat. Terkecuali pada sesuatu yang agama menetapkannya untuk melakukan I’tidal lama, seperti pada saat melakukan qunut atau pelaksanaan shalat tasbih. Kedua, secara mutlak tidak membatalkan shalat. Ketiga, apabila memperlama I’tidal dengan bacaan dzikir lain dan bukan berkmaksud untuk qunut maka itu tidak membatalkan shalat, hal ini pendapat pilihan Al-Imam Nawawi, karena beliau menyatakan inilah pendapat yang paling unggul.

وَقاَلَ فىِ شَرْحِ المُهَذَّبِ إِنَّهُ الأَقْوَى إِلاَّ أَنَّهُ صَحَّحَ فىِ أَصْلِ المَنْهَاجِ أَنَّ تَطْوِيْلَهُ مُبْطِلٌ فىِ الأَصَحِّ فَعَلَى مَا صَحَّحَهُ فىِ المَنْهَاجِ حَدُّ التَّطْوِيْلٍ أَنْ يُلْحِقَ الإِعْتِدَالُ بِالقِيَامِ فىِ القِرَاءَةِ نَقَلَهُ الخَوْارْزَمِى عَنِ الأَصْحَابِ وَيُلْحَقُ الجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ بِالتَّشَهُّدِ إِذَا قُلْنَا إِنَّهُ قَصِيْرٌ , وَاللهُ أَعْلَمَ

Al-Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Al-Muhadzab, pendapat tersebut ialah lebih kuat. Akan tetapi beliau membenarkan dalam redaksi Asalkitab Al-Manhaj bahwa memperlama I’tidal membatalkan shalat adalah pendapat paling sohih, namun pendapat sohih dalam Ktab Al-Manhaj ini menyertakan batasan I’tidal lama dengan mempersamakan I’tidal dengan berdiri untuk membaca surat, demikian kutifan Ayekh Al-Khorzmi dari para Ashab (Para Ulama madhab Imam Syafe’i). Juga duduk diantara dua sujud adalah dipersamakan dengan tasyahud apabila kami katakan bahwa itu termasuk rukun pendek.

Allah Mengetahui Segalanya.
Pustaka :
-     Sohih Ibnu Hiban Al-Imam Muhammad bin Hiban
-     Kifayatul-Akhyar Fiqih Imam Syafe’i, Al-Imam Taqiuddin Abu Bakar Al-Hisni


Monday, February 3, 2014

ENAM POSISI JARI-JARI TANGAN SAAT SHALAT


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
ثُمَّ لِلأَصَابِعِ سِتُّ حَالاَتٍ ؛ إِحْدَاهَا حَالَةَ الرَّفْعِ فىِ تَحَرُّمٍ وَرُكُوْعٍ وَاعْتِدَالٍ وَقِيَامٍ مِنْ تَشَهُّدٍ أَوَّلٍ أَوْ مِنْ جَلْسَةِ إِسْتِرَاحَةٍ فَيُنْدَبُ تَفْرِيْقُهَا , ثَانِيَّتُهَا حَالَةَ قِيَامٍ مِنْ غَيْرِ تَشَهُّدٍ أَوَّلٍ وَمِنْ غَيْرِ جَلْسَةِ إِسْتِرَاحَةٍ فَلاَ تُفْرَقُ , ثَالِثَتُهَا حَالَةَ رُكُوْعٍ فَيُنْدَبُ تَفْرِيْقُهَا عَلَى الرُّكْبَتَيْنِ , رَابِعَتُهَا حَالَةَ سُجُوْدٍ فَتُضَمُّ وَتُوَجِّهُ لِلْقِبْلَةِ , خَامِسَتُهَا حَالَةَ جُلُوْسٍ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فَالأَصَحُّ أَنَّهُ كَالسُّجُوْدِ , سَادِسَتُهَا حَالَةَ الجُلُوْسِ لِلتَّشَهُّدِ فَاليَمِيْنُ مَقْبُوْضَةُ الأَصَابِعِ إِلاَّ
المُسْبِحَةُ وَاليُسْرَى مَبْسُوْطَةٌ وَالأَصَحُّ فِيْهَا الضَّمُّ 

Pustaka : Nihayatuz-Zen Syekh Nawawi, hal 58

By Kang Dae

Wednesday, January 15, 2014

MOHON INFAQ UNTUK MAJELIS ARBABUL HIJA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Assaluma'alikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam. Sholawat dan Salam semoga terlimpah kepada baginda Muhammad SAW, juga keluarga serta para sahabat semuanya amien.

MAJELIS : Bahasa Arab, artinya tempat, Penggunaan nama MAJELIS ini karena terinpirasi dari nama-nama pengajian, seperti nama Majelis Rasulullah, Majelis Taklim, juga nama-nama majelis lainnya, dengan harapan majelis ini pun semoga bisa menjadi majelis yang bisa melayani dakwah dengan baik, seperti majelis-majelis pengajian yang sudah sukses lebih dulu...

DZIKIR : Bahasa Arab, artinya ingat dan yang dimaksudkan ialah ingat Allah. Penggunaan nama DZIKIR ini terinspirasi dari nama majelis dzikir, seperti nurul-musthofa dan majelis dzikir lainnya. Karena setiap kegiatan yang ada di majelis ini ingin bernilai amal ibadah, ketika semua jenis kegiatan di majelis ini bernilai amal ibadah maka itulah yang di sebut dzikir, ingat selalu kepada Allah sebagai harapan besar majelis ini.

ARBABUL HIJA: Bahasa Arab, artinya orang berakal cerdas. Penggunaan nama ARBABUL HIJA ini terinspirasi dari sebuah nama kitab ilmu mantiq, yaitu Sulam Al-Munawaroq Syekh Ad-Damanhuri, saat itu saya menyusun sendiri terjemahnya. Dengan harapan ketika majelis ini di buka dan bisa melayani, semoga semua orang yang ikut bergabung, kecerdasannya akan bisa semakin bertambah. Berakal cerdas ialah bisa berpikir yang membuahkan kesimpulan yang benar, sesuai fakta dan dalil ilmiyah. Sehingga bisa membongkar hal-hal yang tersembunyi, berubah menjadi hal-hal yang jelas dan nyata, sehingga kita tidak ragu lagi dalam memberikan sikap.

MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA Insya Allah melayani Konsultasi Hukum Islam, Kajian Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, Ilmu Mantiq, Ilmu Wadlo', Ilmu Bilaghah (Ma'ani, Bayan & Bade'), Ilmu 'Urud Qowafi, Ilmu Bahsi Wal Munadloroh, Ilmu Tauhlid, Ilmu Fiqih, Ilmu Usul Fiqih, Ilmu Tasawuf, Ilmu Tafsir Qur'an, Ilmu Asbabun-Nuzul Ayat, Ilmu Hadits (riwyaat & diroyat), Ilmu Mustholah Hadits, Ilmu Tajwid, Ilmu Qiro'at 'Asyroh, Ilmu Hikmah, Ilmu Palak, dan lain yang lainnya.

Alamat MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA (Google Maps) :
Jl. Raya Jakarta-Bogor km 45, Kelurahan Cibinong Rt. 04/11 Kecamatan Cibinong, Gang Jembatan Barokah, Jawa Barat – Indonesa

Apabila saudara gemar berinfaq ke MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA bisa melalui :
1. BCA Rek. 869.063.4946 a/n Ahmad Daeroby
2. MANDIRI Rek. 132.00.1169.6771 a/n Habibah
3. BRI Rek. 4089.01.000.286.503 a/n Habibah

Pelayan & Penanggung Jawab
MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA
Ahmad Daerobiy (Kang Dae)
Mobile +62.857.1461.9749 & +62.896.0997.0258

Berikut photo-photo Pengajian di MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA














AKIBAT DOSA SATU KATA


SANG TERKASIH


TANDA MANUSIA PALING JAHAT


KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)