Wednesday, February 8, 2012

EMPAT MACAM TINGKATAN HASUD


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فيِ اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ القُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آَنَاءَ اللَّيْلِ وَآَنَاءَ النَّهَارِ لَوْ أُتِيْتُ مِثْلَ مَا أُوْتِيَ هَذَا لَفَعَلْتُ كَمَا يفْعَلَ وَرَجُلٌ آَتَاهُ اللهُ مَالاً يُنْفِقُهُ فيِ حَقِّهِ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أُوتِيْتُ مِثْلَ مَا أُوْتِيَ هَذَا فَعَلْتُ كَمَا يفْعَلَ
Tidak ada bentuk hasud melainkan pada saat melihat dua macam orang. Pertama apabila melihat seseorang diakruniakan Qur’an kemudian ia bisa membacanya di penghujung malam atau penghujung siang. Dan anda berkata, “Seandainya aku dikaruniakan Qur’an sebagaimana orang ini maka aku akan melakukan hal yang sama”. Kedua, apabila melihat seseorang yang dikaruniakan harta dan digunakan dengan benar. Dan andapun berkata, “Seandainya aku dikaruniakan harta seperti dia maka akupun akan melakukan hal yang sama. (HR. Bukhori Muslim)

وَأَصْلُهُ فيِ الصَّحِيْحَيْنِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ , وَفيِ البُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ حَدِيثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ، وَالمُرَادُ بِالحَسَدِ هُنَا الغِبْطَةُ وَهُوَ تَمَنِّي مَا لِلْمَحْسُودِ ، لاَ تَمَنِّي زَوَالَ تِلْكَ النِّعْمَةِ عَنْهُ فَإِنَّ ذَلِكَ الحَسَدُ المَذْمُومُ

Dasar hadits ini pada sohih Imam Bukhori-Muslim adalah didapatkan dari Ibnu Umar, sedang Imam Bukhori dan yang lainnya mendapatkan dari Abu Hurairoh. Yang dimaksud dengan hasud di sini adalah ghibthoh yaitu mengharapkan sesuatu yang ada pada orang yang dihasudi, bukan mengharap hilang kenikmatan tersebut darinya, karena jenis hasud mengharapkan hilang kenikmatan orang lain adalah hasud tercela.

Tingkatan sifat Hasud ada empat, diantaranya :

Tingkat pertama
المَرْتَبَةُ الأُوْلىَ هُوَ الَّذِى يَشُقُّ عَلَى نَفْسِهِ إِنْعاَمُ اللهِ تَعاَلىَ مِنْ خَزاَئِنِ قُدْرَتِهِ عَلَى عَبْدٍ مِنْ عِباَدِهِ بِعِلْمٍ أَوْ ماَلٍ أَوْ مَحَبَّةٍ فىِ قُلُوْبِ النَّاسِ كَكَثْرَةِ الإِتِّباَعِ أَوْ حَظٍّ مِنَ الحُظُوْظِ كَحُصُوْلِ المَنْصَبِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَحِبُّ زَواَلَ تِلْكَ النِّعْمَةِ عَنْهُ وَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ لِلْحَسُوْدِ بِذَلِكَ أَىْ الحُبِّ وَالتَّمَنِى شَيْءٌ مِنْ تِلْكَ النِّعْمَةِ أَىْ لَمْ يَنْتَقِلْ إِلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ الحُبُوْبِ زَواَلُهُ وَالمُتَمَنِى حُصُوْلُهُ

Hasud adalah orang yang merasa berat pada dirinya Allah memberikan nikmat kepada salah satu hamba-Nya dari gudang kekuasaan Nya baik berupa ilmu, harta ataupun rasa cinta di hati manusia. Seperti banyak pengikut atau mendapatkan jabatan sehingga dia sangat menyukai melenyapkan nikmat tersebut dari orang lain. Meskipun dengan sifat hasud itu tidak terjadi lenyapnya nikmat orang itu dan dan dia sedikitpun tidak mendapatkan nikmat tersebut. Artinya sedikitpun kenikmatan orang lain itu tidak berpindah kepadanya dan juga sedikitpun dia tidak mendapatkan nikmat yang sulit didapatkan.

فَهَذاَ أَىْ حُبُّ زَواَلِ النِّعْمَةِ عَنِ العَبْدِ مُنْتَهَى الخَبَثِ أَىْ غاَيَةَ القَبْحِ

Hasud tingkat pertama ini yaitu gemar melenyapkan nikmat seseorang, sifat ini adalah sifat yang sangat tercela.

Tingkat kedua
 وَالمَرْتَبَةُ الثَّانِيَّةُ أَنْ يَحِبَّ زَواَلَ النِّعْمَةِ إِلَيْهِ لِرُغْبَتِهِ فىِ تِلْكَ النِّعْمَةِ مِثْلَ رُغْبَتِهِ فىِ داَرٍ حَسَنَةٍ أَوْ امْرَأَةٍ جَمِيْلَةٍ أَوْ وِلاَيَةٍ ناَفِدَةٍ أَوْ سِعَةٍ مِنَ الرِّزْقِ ناَلَهاَ غَيْرُهُ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ وَمَطْلُوْبُهُ تِلْكَ النِّعْمَةِ لاَزَواَلِهاَ عَنْهُ وَمَكْرُوْهُهُ فَقْدُ النِّعْمَةِ لاَتَنَعَمَ غَيْرِهِ بِهاَ

Menyukai lenyapnya nikmat yang ada pada dirinya karena dia menyenangi nikmat yang lain yang lebih baik, seperti dia menyenangi rumah yang lebih bagus dari yang dia punya, menyenangi istri cantik, menyenangi kekuasaan atau menyenangi rizki yang berlimpah dan semua itu di peroleh orang lain, dia sangat menyukai nikmat yang lebih dari itu dapat di miliki olehnya.

Dia berusaha mencari nikmat itu dan tidak berharap melenyapkan nikmat dari orang lain, akan tetapi dia benci apa bila tidak mendapatkan suatu nikmat yang tidak akan dapat dirasakan oleh orang lain.

Tingkat ketiga
وَالمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ لاَيَشْتَهِى عَيْنَ تِلْكَ النِّعْمَةِ لِنَفْسِهِ بَلْ يَشْتَهِى مِثْلَهاَ فَإِنْ عَجَزَ عَنْ مِثْلِهاَ أَحَبَّ زَواَلِهاَ عَنِ المُنْعِمِ عَلَيْهِ كَىْ لاَيَظْهَرُ التَّفاَوُتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ

Tidak mengharapkan suatu nikmat untuk dirinya akan tetapi dia mengharapkan nikmat yang lain, namun apa bila dia tidak mampu mendapatkan nikmat yang di harapkannya maka dia menyukai lenyapnya nikmat pada orang lain dari Allah Sang Maha pemberi nikmat, agar tidak nampak suatu perbedaan antara dirinya dan orang lain.

فاَلشَّقُّ الأَوَّلُ غَيْرُ مَذْمُوْمٌ وَهُوَ المُسَمَّى غَبْطَةً وَمُناَفِسَةً وَالشَّقُّ الثَّانِى مَذْمُوْمٌ

Sisi pertama tidaklah tercela, yaitu tidak mengharapkan suatu nikmat untuk dirinya akan tetapi dia mengharapkan nikmat yang lain dari Allah yang Maha pemberi. Ini namanya iri hati yang baik dan berlomba. Dan sisi kedua nya tercela, yaitu menyukai lenyapnya nikmat pada orang lain, agar tidak nampak suatu perbedaan antara dirinya dan orang lain.

Tingkat keempat
وَالمَرْتَبَةُ الراَّبِعَةُ أَنْ يَشْتَهِى لِنَفْسِهِ مَثْلَ تِلْكَ النِّعْمَةِ فَإِنْ لَمْ تَحْصُلْ فَلاَيَحِبُّ زَواَلَهاَ عَنِ المُنْعِمِ عَلَيْهِ

Mengharapkan pada dirinya suatu nikmat, namun apa bila tidak berhasil mendapatkannya dia tidak menyukai lenyapnya nikmat tersebut dari Allh Swt pada dirinya.

وَهَذاَ الأَخِيْرُ هُوَ المَعْفُوُ عَنْهُ إِنْ كاَنَ فىِ الدُّنْياَ وَالمَنْدُوْبُ إِلَيْهِ إِنْ كاَنَ فىِ الدِّيْنِ

Hasud tingkat terakhir ini sifat hati yang diampuni jika dalam hal duniawi dan disunnahkan jika dalam hal agama.

فَلِذَلِكَ أَىْ ِلأَجْلِ كَوْنِ الحَسُدِ غاَيَةَ الخَبَثِ قاَلَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَسُدُ يَأْكُلُ الحَسَناَتِ كَماَتَأْكُلُ النَّارُ الحَطَبُ رَواَهُ ابْنُ ماَجَهْ أَىْ لِماَفِيْهِ مِنْ نِسْبَةِ الرَّبِّ إِلىَ الجَهْلِ وَالسَّفِهِ وَوَضْعِ الشَّيْءِ فىِ غَيْرِ مَحَلِهِ

Karena keberadaan Hasud sangat tercela, maka Nabi Saw bersabda ; “Hasud dapat melenyapkan kebaikan sebagaimana api akan melenyapkan kayu bakar”. (HR. Ibnu Majah)

Karena dalam Hasud terkandung sikap yang menganggap bodoh dan dungu kepada Allah Swt, dan menyimpan sesuatu yang bukan pada tempatnya, maka sifta hasud ini sangat tercela.

وَالحَسُوْدُ هُوَ المُعَذَّبُ فىِ قَلْبِهِ الَّذِى لاَيَرْحَمُ وَلاَيَزاَلُ الحَسُوْدُ فىِ عَذاَبِ داَئِمٍ فىِ الدُّنْياَ

Orang yang berbuat hasud adalah orang yang di siksa dalam hatinya dengan tidak memiliki rasa kasih sayang, hasud tidak henti-hentinya berada dalam siksa yang kekal di dunia, apalagi di akhirat.

Allah mengetahui segalanya…

Pustaka : Muroqil Ubudiyah, Syekh Nawawi Banten


KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)