Sunday, June 9, 2013

PAHALA MENGURUS RUMAH TANGGA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
روي عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَات يَوْمٍ عَلَى ابْنَتِهِ فَطِمَةَ الزَّهْرَاء رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا، فَوَجَدَهَا تَطْحَنُ شَعِيْرًا عَلَى الرَّحَا وَهِيَ تَبْكِىْ، فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُبْكِيْكِ يَا فَاطِمَةُ ؟ لاَ أَبْكَى اللهُ لَكِ عَيْناً فَقَالَتْ يَا أَبَتِ أَبْكَانِيْ حَجَرُ الرَّحَا وَشُغْلُ البَيْتِ، فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا، فَقَالَتْ يَا أَبَتِ، مِنْ فَضْلِكَ تَسْأَلُ عَلِيًّا أَنْ يَشْتَرِيَ لِيْ جَارِيَةً لِتُعِيْنَنِيْ عَلَي الطَّحِيْنِ وَعَلَى شُغْلِ البَيْتِ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh RA beliau berkata : Suatu hari Rasulullah SAW masuk menemui putrinya baginda Fatimah Az-Zahra RA, Rasulullah SAW mendapati putrinya sedang menumbuk biji gandum di atas lesung batu, ia dalam keadaan menangis. Kemudian Rasulullah bertanya kepada putrinya ; “Apa yang membuat kamu menangis, hai Fatimah anakku sayang? Semoga Allah tidak membuat kamu menangis sedih”. Baginda Fatimah menjawab; “Wahai ayahku, saya menangis karena lesung batu ini dan menangis karena lelahnya mengurus pekerjaan rumah tangga”. Mendengar jawaban sang anak kesayangan, maka Rasulullah menghampiri lebih dekat dan duduk tepat di samping putinya Fatimah Az-Zahra. Bersamaan dengan itu Baginda Fatimah memelas; “Hai ayahku tercinta, dengan kemurahan ayah, aku minta agar ayah memintakan kepada bang Ali suami saya, untuk membelikan saya pembantu agar bisa menolong aku menumbuk biji gandum dan mengurus semua pekerjaan rumah tangga.

Lalu apa jawaban Rasulullah saat itu? Mari kita lanjutkan…

فَلَمَّا سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَمَهَا قَامَ وَجَاءَ إِلَى الرَّحَا وَأَخَذَ الشَّعِيْرَ بِيَدِهِ المُبَارَكَةِ الشَّرِيْفَةِ وَوَضَعَهُ فِيْ الرَّحَا، وَقَالَ بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم فَدَارَتْ وَحْدَهَا بِإِذْنِ اللهِ تَعَالىَ، فَصَارَ يَحْبِطُ لَهَا الشَعِيْرَ بِيَدِهِ المُبَارَكَةِ وَهِيَ تَدُوْرُ وَحْدَهَا، وتُسَبِّحُ اللهَ تَعَالَىْ بِلُغَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ حَتَّى فَرَغَ الشَعِيْرُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلرَّحَا اسْكُنِيْ بإذْنِ اللهِ تَعَالى فَسَكَنَتْ وَنَطَقَتْ بإذْنِ اللهِ الَّذِيْ أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ، فَقَالَتْ بِلِسَانٍ فَصِيْحٍ عَرَبِيٍّ ؛ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ نَبِيًّا وَسُوْلاً، لَوْ أَمَرْتَنِي أَنْ أَطْحَنَ شَعِيْرَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ لَطَحَنَتْهُ كُلَّهُ وَإِنِّيْ سَمِعْتُ فِيْ كِتَابِ اللهِ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ، فَخِفْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْ أَكُوْنَ مِنَ الحِجَارَةِ اللاَّتِيْ يَدْخُلْنَ النَّاَر. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "أَبْشِرِيْ، فَإنَّكِ مِنْ حِجَارَةِ قَصْرِ فَاطِمَةَ الزَّهْرَاء فِيْ الجَنَّةِ. فَعِنْدَ ذَلِكَ فَرِحَتْ الرَّحَا وَاسْتَبْشَرَتْ وَسَكَنَتْ.

Ketika Rasulullah SAW mendengar ungkapan puterinya Fatimah, kemudian Rasulullah bangkit dan menghampiri lesung batu, Rasulullah sendiri yang mau menumbuknya, Rasulullah mengambil biji gandum dengan tangan beliau yang berkah nan mulia, kemudian bii gamdum itu dituangkan di atas lesung batu sambil di awali membaca kalimat Bismillah. Namun atas izin Allah lesung batu itu menumbuk sendiri, tanpa harus tangan Rasulullah yang menumbuknya, sehingga peristiwa saat itu terjadi sebuah keajaiban yaitu tangan Rasulullah yang berkah hanya menuangkan biji-biji gandum sedang lesung batu berjalan menumbuk sendiri biji gandum, bahkan lesung batu itu terdengar jelas sambil membaca tasbih dengan bahasa yang berbeda-beda sampai semua biji gandum selesai di tumbuk.

Rasulullah berkata pada lesung batu ; “Diam kau lesung batu atas izin Allah!” maka sang lesung batu pun terdiam saat itu juga, dan lesung batu itu berkata atas izin Allah Yang berkuasa untuk membuat apa saja untuk bisa berkata, sang lesung batu berkata dengan lisan yang fasih dan berbahasa Arab ; “Ya Rasulullah aku bersumpah demia Allah, Yang dengan kebenaran telah mengutusmu menjadi seorang Nabi dan Rasul, apabila tuan perintahkan saya menumbuk biji gandum seluruhnya yang berada dari bumi bagian timur sampai bumi bagian barat, maka saya akan menumbuknya sendiri. Karena saya mendengar dalam kitab Allah Al-Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu (dengan mengajaknya taat kepada Allah) dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia (yang kafir) dan batu (seperti halnya berhala meraka); penjaganya malaikat-malaikat yang kasar (berjumlah 19 malaikat), keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (sebagai peringatan terhadap kaum mukmin agar jangan sampai murtad, juga peringatan untuk orang munafiq). (QS. At-Tahrim 6, Tafsir Al-Jalalen As-Suyuti) Saya takut ya Rasulullah, seandainya saya ialah bagian dari batu yang masuk neraka itu. Lalu Rasulullah SAW membalasnya ; Berbahagialah kamu hai lesung batu!, karena kamu kelak akan menjadi batunya rumah kediaman Fatimah di sorga. Saat itu pula lesung batu gembira, senang bercampur bahagia dan ia pun kembali terdiam.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاِبْنَتِهِ فَاطِمَةَ لَوْشَاءَ اللهُ يَافَاِطَمُة لَطَحَنَتْ لَكِ الرَّحَا وَحْدَهَا، وَلَكِنْ أَرَادَ اللهُ تَعَالىَ أَنْ يَكْتُبَ لَكِ الحَسَنَاتِ، وَيُكَفِّرَ لَكِ السيِّآتِ، وَيَرْفَعَ لَكِ الدَرَجَاتِ. يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ طَحَنَتْ لِزَوْجِهَا وَأَوْلاَدِهَا إلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهَا بِكُلِّ حَبَّةٍ مِنَ القَمْحِ حَسَنَةً، وَمَحَا عَنْهَا سَيِّئَةً، وَرَفَعَ لَهَا دَرَجَةً. يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ عَرِقَتْ عِنْدَ طَحِيْنِهَا لِزَوْجِهَا إلاَّ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ النَّارِ سَبْعَ خَنَادِقَ. يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ دَهَنَتْ رُؤُوْسَ أَوْلاَدِهَا وَسَرَّحَتْهُمْ وَغَسَلَتْ ثِيَابَهُمْ إلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهَا أَجْرَ مَنْ أَطْعَمَ أَلْفَ جَائِعٍ وَكَسَا أَلْفَ عُرْيَان.

Kemudian baginda Nabi Saw menasihati putrinya Fatimah RA ; Apabila Allah mau hai Fatimah, niscaya lesung batu itu berjalan sendiri untuk membantumu. Akan tetapi Allah menghendaki agar kamu mendapat catatan banyak kebaikan, terhapus untukmu banyak keburukan dan terangkat untukmu banyak martabat. Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang memasak makanan (umpamanya masak nasi) untuk suami dan anak-anaknya, melainkan dari setiap biji beras Allah mencatat satu kebaikan baginya, dari satu biji beras itu pula Allah menghapus satu kehilafan, dan Allah menaikkan satu tingkat martabat di sorga. Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang tubuhnya berkeringat di saat memasak makanan untuk suaminya melainkan Allah menjadikan benteng penghalang antara dirinya dengan api neraka sejauh tujuh benteng lembah. Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang memakaikan minyak rambut pada anaknya serta menyisirnya bahkan mencuci pakaiannya, melainkan Allah mencatat untuknya pahala bersedekah makanan kepada seribu orang lapar dan pahala bersedekah pakaian kepada seribu orang telanjang.

يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَنَعَتْ حَاجَةَ جِيْرَانِهَا إلاَّ مَنَعَهَا اللهُ تَعَالىَ عَنِ الشُرْبِ مِنْ حَوْضِ الكَوْثَرِ يَوْمَ القِيَامَةِ. يَا فَاطِمَةُ، أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ رِضَا الزَّوْجِ عَنْ زَوْجَتِهِ، وَلَوْ كَانَ زَوْجُكِ غَيْرَ رَاضٍ عَنْكِ مَاكُنْتُ أَدْعُوْ لَكِ، أَمَا تَعْلَمِيْنَ يَافَاطِمَةُ، أَنَّ رِضَا الزَوْجِ مِنْ رِضَا اللهِ تَعَالىَ، وَسخَطُهُ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالى. يَا فَاطِمَةُ، إِذَا حَمَلَتْ المَرْأَةُ بِالجَنِيْنِ فيِ بَطْنِهَا اسْتَغْفَرَتْ لَهَا المَلاَئِكَةُ، وَكَتَبَ اللهُ لَهَا كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهَا أَلْفَ سَيِّئَةٍ، فَإِذَا جَاءَهَا الطَلْقُ كَتَبَ اللهُ لَهَا ثَوَابَ المُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالى فَإِذَا وَضَعَتْ حَمْلَهَا خَرَجَتْ مِنْ ذُنُوْبِهَا كَيَوْمِ وَلَدَتْهَا أُمُّهَا.

Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang tidak peduli akan kebutuhan tetangga, melainkan Allah pun tidak akan pernah mempedulikannya untuk bisa minum dari air telaga Kaustar di hari qiyamah. Hai Fatimah, yang paling utama dari kebutuhan tetangga ialah restu suami dari akan istrinya. Apabila suami-mu tidak restu pada diri-mu saya tidak akan mendo’akan-mu. Apakah kau tahu hai Fatimah, bahwa restu suami ialah bagian dari ridlo Allah dan tidak restu suami ialah bagian dari murka Allah. Hai Fatimah, apabila seorang istri hamil di dalam perutnya mengandung janin maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya, Allah mencatat seribu pahala kebaikan dari setiap hari yang di laluinya dan Allah menghapus serbu kekhilafan, apabila datang kepadanya rasa mau melahirkan maka Akkah mencatat untuknya pahala orang-orang yang berjuang di jalan Allah, kemudian apabila ia melahirkan kandungannya maka ia keluar dari dosa sehinga suci tanpa dosa seperti halnya saat ia dilahirkan ibunya.

يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ خَدَمَتْ زَوْجَهَا بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ إلاَّ خَرَجَتْ مِنْ ذُنُوْبِهَا كَيَوْمِ وَلَدَتْهَا أُمُّهَا، وَلَمْ تَخْرُجْ مِنَ الدُنْيَا وَعَلْيْهَا مِنَ الذُنُوْبِ شَيْءٌ، وَتَجِدُ قَبْرَهَا رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَأَعْطَاهَا اللهُ تَعَالَى ثَوَابَ أَلْفِ حَجَّةٍ وَأَلْفِ عُمْرَةٍ، وَيَسْتَغْفِرُ لَهَا أَلْفُ مَلَكٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. وأَيُّمَا امْرَأَةٍ خَدَمَتْ زَوْجَهَا يَوْمًا وَلَيْلَةً بِطِيْبِ نَفْسٍ وَإِخْلاَصٍ وَنِيَّةٍ صَادِقَةٍ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهَا ذُنُوْبَهَا كُلَّهَا، وَأَلْبَسَهَا يَوْمَ القِيَامَةِ حُلَّةً خَضْرَاءَ، وَكَتَبَ لَهَا بِكُلِّ شَعْرَةٍ فِيْ جَسَدِهَا أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَأَعْطَاهَا الله مِائَةَ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ. يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ تَبَسَّمَتْ فِيْ وَجْهِ زَوْجِهَا إِلاَّ نَظَرَ اللهُ لَهَا بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ.

Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang melayani suami dengan tulus ikhlas dan jujur melainkan ia keluar dari dosanya sehingga suci tanpa dosa seperti halnya saat ia dilahirkan ibunya, ia tidak keluar dari dunia ini ada dosa sedikitpun tercatat dari dirinya, ia menemukan kuburnya sendiri ialah taman indah diantara taman-taman indah sorga, Allah memberikan ia seribu kali pahala ibadah haji dan seribu kali pahala ibadah umrah dan seribu malaikat terus-menerus memohonkan ampunan untuknya sampai hari qiyamah. Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang melayani suaminya sehari semalam dengan hati tulus ikhlas diiringi niat kesungguhan jujur melainkan Allah mengampunkan semua dosa-dosanya, Allah memakaikan gaun hijau bersulam berlian di hari qiyamah, Allah mencatat untuknya setiap helai rambut di tubuhnya seribu pahala kebaikan, Allah memberikannya seratus kali pahala ibadah haji dan umrah. Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang tersenyum di hadapan suami sehingga suami nyaman dan bahagia memandangnya melainkan Allah memandangnya dengan pandangan kasih sayang.

يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ فَرَشَتْ لِزَوْجِهَا بِطِيْبِ نَفْسٍ إِلاَّ نَادَاهَا مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ اسْتَقْبِلِيْ العَمَلَ فَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكِ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. يَا فَاطِمَةُ، أَيُّمَا امْرَأَةٍ دَهَنَتْ رَأْسَ زَوْجِهَا وَلِحْيَتَهُ، وَقَصَّتْ شَارِبَهُ، وَقَلَمَتْ أَظَافِرَهُ إِلاَّ سَاقَاهَا اللهُ مِنَ الرَّحِيْقِ المَخْتُوْمِ، ومن أَنْهَارِ الجَنَّةِ، وَهَوَّنَ اللهُ عَلَيْهَا سَكَرَاتِ المَوْتِ، وَتَجِدُ قَبْرَهَا رَوْضًا مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَيَكْتُبُ اللهُ لَهَا بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ وَالجوَازَ عَلَى الصِّرَاطِ.

Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang menggelar kasur untuk suaminya istirahat dengan hati yang tulus melainkan ada suara panggilan dari arah langit “Rajin-rajinlah kamu akan perbuatanmu itu! (anjuran senantiasa menggelarkan kasur) karena Allah telah mengampunkan untukmu, dosamu yang lalu dan dosamu yang kemudian. Hai Fatimah, siapa saja dari seorang istri yang menata serta meminyaki rambut kepala suami atau jenggot suami dan menggunting kuku suami melainkan Allah memberinya minuman paling lezat di sorga, membuat mabuk kenikmatan yang luar biasa bagi peminumnya dan minum dari sungai-sungai di sorga, Allah meringankan ia sakaratul maut, ia akan menemukan kuburnya sebagai taman diantara taman-taman sorga, Allah mencatat untuknya bebas dari api neraka dan mencatat sebagai orang yang bisa melewati jembatan shirotol-mustaqim.

وروي عن ابن مسعود رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم ؛ إِذَا غَسَلَتْ المَرْأَةُ ثِيَابَ زَوْجِهَا كَتَبَ اللهُ لَهَا أَلْفَيْ حَسَنَةٍ وَغَفَرَ لَهَا أَلْفَيْ سَيِّئَةٍ، وَاسْتَغْفَرَ لَهَا كُلُّ شَيْءٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَمْسُ

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA dari baginda Nabi SAW ; Apabila seroang istri mencuci pakaian suaminya maka Allah mencatat untuknya dua ribu kebaikan dan Allah menghapus dua ribu kekhilafan, bahkan semua makhluq yang tersentuh sinar Matahari akan selalu memohonkan ampunan untuknya.

وقالت عائشة رضي الله عنها ؛ صَرِيْرُ مِغْزَلِ المَرْأَةِ يَعْدِلُ التَكْبِيْرَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَأَيّمَا امْرَأَةٍ كَسَتْ زَوْجَهَا مِنْ غزْلِهَا كَانَ لَهَا بِكُلِّ سَدِّىً مِائَةُ أَلْفِ حَسَنَةٍ.

Baginda Aisyah RA berkata ; Setiap jahitan benang (di saat istri membetulkan pakaian suami) ialah mengimbangi pahala kumandang takbir di jalan Allah. Siapa saja dari seorang istri yang memakaikan pakaian di tubuh suaminya dari hasil jahitan benangnya maka setiap satu jahitan yang terikat di pakaian itu akan di balas seratus ribu macam pahala kebaikan untuknya.

وقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم ؛ مَنْ اشْتَرَى لِعِيَالِهِ شَيْئًا ثُمَّ حَمَلَهُ بِيَدِهِ إِلَيْهِمْ حَطَّ اللهُ عَنْهُ ذُنُوْبَ سَبْعِيْنَ سَنَةً. وقال صلى الله عليه وسلم ؛ مَنْ فَرَّحَ أُنْثَى فَكَأَنَّمَا يَبْكِى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَمَنْ بَكَي مِنْ خَشْيَةِ اللهِ تَعَالَى حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ. وقال صلى الله عليه وسلم ؛ البَيْتُ الَّذِيْ فِيْهِ البَنَاتُ يُنْزِلُ اللهُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَحْمَةً، وَلاَ تَنْقَطِعُ زِيَارَةُ المَلاَئِكَةِ مِنْ ذَلِكَ البَيْتِ وَيَكْتُبُوْنَ لأَبَوَيْهِنَّ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ عِبَادَةَ سَبْعِيْنَ سَنَةً.

Baginda Nabi SAW bersabda ; Barangsiapa membeli makanan apa saja untuk anak istrinya di rumah, ia membawanya sendiri ke rumah dan menyerahkannya maka Allah menghapus darinya dosa tujuh puluh tahun. Baginda Nabi SAW bersabda ; Barangsiapa membahagiakan perempuan maka ia seolah menangis karena takut kepada Allah, sedangkan barangsiapa menangis karena takut kepada Allah maka Allah haramkan tubuhnya di atas api neraka. Baginda Nabi SAW bersabda ; Rumah yang berpenghuni anak-anak perempuan maka di setiap harinya Allah menurunkan dua belas macam rahmat, para malaikat tidak henti-hentinya berkunjung ke rumah tersebut, dan di setiap sehari semalam para malaikat itu mencatat untuk kedua orang tuanya pahala ibadah tujuh puluh tahun.


Allah mengetahui segalanya..                          Pustaka : Uqudul-Lizein Syekh Nawawi


Tuesday, May 28, 2013

RENUNGAN MARTABAK

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
مَنْ أَكَلَ الحَلاَلَ أَطاَعَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى وَمَنْ أَكَلَ الحَراَمَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى

==================
Barangsiapa menyantap makanan dari yang halal maka semua anggota tubuhnya akan taat dan patuh untuk melakukan amal ibadah dan kebaikan, sadar atau tidak. Dan barangsiapa menyantap makanan dari yang haram maka semua anggota tubuhnya akan mudah cenderung ke arah durhaka, gemar untuk berbuat maksiat dan dosa, sadar atau tidak. (Hadits marfu’)

Pustaka : Ad-Da’watut Tammah, Al-‘Arif Al-Habib Abdullah Al-Hadadd

Saudaraku yang dirahmati Allah, jangan pernah menyantap makanan dari yang haram. Karena akibatnya jelas, perbuatan kita akan cenderung banyak melakukan maksiat dan dosa, yang pada akhirnya merana dan menyesal di alam baqa. Nah, kalau sudah demikian maka coba kita periksa dulu, apakah memang makanan yang akan kita santap itu sudah dari yang halal atau jelas dari yang haram? Mari kita cek ulang di sini, soal halal atau haram makanan yang akan kita konsumsi..!!!

Saya kasih contoh : Apabila di hadapan saudara ada sepotong martabak, sebelum saudara melahapnya, boleh saudara periksa dulu..!! Apakah martabak itu boleh beli dari uang sendiri? Atau ada orang yang ngasih? Kalau memang ada orang yang ngasih, oke-lah kita tidak perlu menanyakan kepada orang yang ngasih itu, martabaknya dapet dari mana dan bagaimana transaksinya? Atau kalau ia boleh beli, uangnya dapat darimana? Dari kerja halal atau kerja haram? Martabak dari ngasih, gak perlu interogasi kesana.

Nah, kalau martabak itu boleh beli dari uang saudara sendiri. Maka darimana kau dapatkan uang itu? Apakah dari kerja halal atau kerja haram? Apakah mendapatkannya dengan transaksi Islami atau bukan dengan transaksi Islami? Apakah saudara tahu, kerja seperti apa yang diharamkan dan kerja seperti apa yang dihalalkan? Transaksi seperti apa yang diharamkan dan transaksi seperti apa yang dihalakan? Transaksi mana yang sah dan transaksi mana tidak sah?

Apabila soal martabak yang halal itu kita renungkan sampai kesana. Hemat saya, bisa jadi banyak diantara kita yang BATAL untuk makan martabak, padahal martabak spesial, pake keju dan susu, campur ketan item lagi,… hehehe

By Kang Dae

MENGANGKAT TANGAN DAN MENGUSAP MUKA DI SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
باب في رفع اليدين عند الدعاء ومسح الوجه بهما بعده
BAB MENGANGKAT TANGAN SAAT BERDO’A DAN
MENGUSAP MUKA DENGAN DUA TANGAN SETELAH BERDO’A

عن عمر بن الخطاب قال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فيِ الدُّعَاءِ لَمْ يُحِطْهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
======
Hadits ini diterima dari umar bin Al-Khotob, beliau berkata ; Adalah Baginda Nabi SAW apabila mengangkat kedua tangan dalam berdo’a beliau tidak langsung menurunkan kedua tangan (setelah berdo’a) melainkan mengusap muka dengan kedua belah tangannya. (HR. Turmudzi)

قال محمد بن المثنى في حديثه : لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه ، قال أبو عيسى : هذا حديث صحيح غريب
====
Muhammad bin Al-matsani berkata dalam kitab haditsnya : “Nabi tidak menurunkan kedua tangan melainkan mengusap dulumuka dengan kedua tangannya. Al-Imam Abu Isa berkata :  ini hadits soheh namun asing.

Redaksi hadits ini ialah dalil dianjurkan mengusap muka setelah berdo’a. Dan kemudian karena pengertian shalat itu sendiri dari sisi etimologi ialah berdo’a, maka setelah shalat pun ada beberapa ulama yang memberlakukan mengusap muka.

Hikmah mengusap muka dengan kedua tangan ialah Tabaruk (mengharap berkah) dan tanbih (peringatan) bahwa semuanya dikembalikan kepada hakikat yang memadukan antara ruh dan badan. Banyak hal yang tidak diketahui dalam do’a, baik keinginnan Allah di zaman sebelum penciptaan makhluq ataupun setelahnya. Karena semua akan binasa kecuali Allah sendiri yang maha kekal. Sebagaimana firman Allah “Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qoshosh 88)

Diantaranya referensi sunnah mengusap muka setelah berdo’a dan hikmahnya, ialah :

كان إذا دعا فرفع يديه حال الدعاء مسح وجهه بيديه عند فراغه تفاؤلا وتيمنا أن كفيه ملئتا خيرا فأفاض منه على وجهه فيتأكد ذلك للداعي ، ذكره الحليمي ، وقال القونوي : سره أن الإنسان في دعائه ربه متوجه إليه بظاهره وباطنه ولهذا يشترط حضور القلب في الدعاء كما قال المصطفى صلى الله عليه وسلم إن الله لا يقبل دعاءا من قلب غافل لاه ، إذا علمته فاعرف أن يده الواحدة تترجم عن توجه الداعي من حيث ظاهره واليد الأخرى تترجم عن توجهه بباطنه واللسان يترجم عن جملته ومسح الوجه هو التبرك والتنبيه على الرجوع إلى الحقيقة الجامعة بين الروح والبدن وهو كناية عن غيبة النائب في علم الحق أزلا وأبدا فإن وجه الشئ حقيقته وهذا الوجه مظهر تلك الحقيقة وإن كشف لك عن سر قوله تعالى * (كل شئ هالك إلا وجهه) * استشرفت على سر آخر أغرب من هذا يتعذر إفشاؤه إلا لأهله اهـ
========
(Maaf redaksi yang ini belum sempat kami terjemahkan, namun maknanya sudah terungkap diatas. Hehehe.. Terima kasih)


Pustaka :
-  Al-Ahkam Asy-Syar’iyyah - Syekh Abu Muhammad Abdul Haq, juz 3, hal.553
-  Faedul QodirSyarah Jami’ Shogir – Syekh Al-manawiy, juz 5 hal. 169


Saturday, May 18, 2013

SANKSI SIKSA KARENA MEMBUKA AURAT


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ وَلاَ يَجِدَنَّ رِيْحَهَا وَرِيْحُهَا يُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ خَمْسَمِائَةِ سَنَةٍ
Wanita yang berpakaian namun seolah telanjang, menyimpang dari kepatuhan, bersolek yang berlebihan di hadapan bukan muhrim maka ia tidak akan masuk sorga, tidak menemukan wangi sorga, sedang wangi sorga akan tercium dari jarak 500 tahun  (HR.Ibnu Malik dari Muslim)

وَقَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَ فَاطِمَةُ، فَوَجَدْنَاهُ يَبْكِى بُكَاءً شَدِيْدًا، فَقُلْتُ له صلى الله عليه وسلم فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الذِيْ أَبْكَاكَ ؟ قَالَ صلى الله عليه وسلم يَا عَلِيُّ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ إِلىَ السّمَاءِ رَأَيْتُ نِسَاءً مِنْ أُمَّتِيْ يُعَذَّبْنَ فِيْ النَارِ، فَبَكَيْتُ لَمَّا رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ عَذَابِهِنَّ رَأَيْتُ امْرَأَةً مُعَلَّقَةً بِشَعْرِهَا يَغْلِي دِمَاغُهَا وَرَأَيْتُ امْرَأَةً مُعَلَّقَةً بِلِسَانِهَا وَالحَمِيْمُ يُصَبُّ فِيْ حَلقِهَا، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً قَدْ شُدَّ رِجْلاَهَا إِلَى ثَدْيَيْهَا وَيَدَاهَا إِلىَ نَاصِيَتِهَا وَقَدْ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهَا الحَيَّاتِ وَالعَقَارِبِ، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً مُعَلَّقَةً بِثَدْيَيْهَا، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً رأْسُهَا رَأْسُ خِنْزِيْرٍ وَبَدَنُهَا بَدَنُ حِمَارٍ وَعَلَيْهَا أَلْفُ أَلْفٍ مِنَ العَذَابِ، وَرَأَيْتُ امْرَأَةً عَلَى صُوْرَةِ الكَلْبِ، وَالنَّارُ تَدْخُلُ مِنْ فِيْهَا وَتَخْرُجُ مِنْ دُبُرِهَا، وَالمَلاَئِكَةُ يَضْرِبُوْنَ رَأْسَهَا بِمَقَامِعَ مِنْ نَارٍ، فَقَامَتْ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، وَقَالَتْ يَا حَبِيْبِيْ وَقُرَّةَ عَيْنِيْ مَا كَانَ أَعْمَالُ هَؤُلاَء حَتَّى وَقَعَ عَلَيْهِنَّ هَذَا العَذَابُ ؟

Baginda Ali Semoga Allah memuliakannya berkata ; Aku bersama istriku masuk menemui Rasulullah SAW, kami mendapati Rasulullah sedang dalam menangis yang sangat. Lalu aku pun memberanikan diri untuk menanyakan penyebabnya. “Ya Rasulullah, kami siap menjadi penebus kesedihan tuan, apa penyebab tuan menangis?”. Tanya kami pada Rasulullah SAW. “Hai Ali, pada malam aku diisra-kan (isra-mi’raj) naik ke langit, saat itu aku melihat banyak perempuan dari ummatku sedang di siksa di dalam api neraka. Aku menangis karena melihat siksa yang sangat dahsyat. Aku melihat perempuan yang di gantung dengan rambutnya, dan kepalanya bergolak karena panas yang sangat. Aku melihat perempuan yang di gantung dengan lidahnya, cairan timah panas di kucurkan pada tenggorokannya. Aku melihat perempuan yang kedua kakinya diikatkan sampai kedua payudaranya, kedua tangannya juga diikatkan sampai ujung kepalanya, mereka di lilit oleh ular-ular besar, (kepala ular besar ini sebesar kepala unta) mereka juga di kuasai oleh kalajengking raksasa yang setiap saat menggigitnya. Aku melihat perempuan yang di gantung dengan payudaranya. Aku melihat perempuan yang kepalanya berubah menjadi berupa kepala babi, tubuhnya berubah menjadi berupa badan keledai, mereka mendapatkan satu juta macam penderitaan siksa. Aku melihat perempuan yang berubah wujud menjadi berupa anjing, api neraka masuk dari mulutnya kemudian keluar dari lubang duburnya, para malaikat memukul-mukul kepalanya dengan palu raksasa dari api neraka”. Mendengar Rasulullah SAW seperti itu, Baginda Fatima ra bangkit dan bertanya. “Wahai kekasihku dan penyejuk jiwaku.., Amal perbuatan apa yang mereka lakukan sehingga jatuh ke dalam siksa seperti ini?”

فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّة، أَمَّا المُعَلّقَةُ بِشَعْرِهَا فَإٍنَّهَا كَانَتْ لاَ تُغَطِّى شَعْرَهَا مِنَ الرِّجَالِ وَأَمَّا المُعَلّقَةُ بِلِسَانِهَا فَإِنَّهَا كَانَتْ تُؤْذِى زَوْجَهَا وَأَمَّا المُعَلّقَةُ بِثَدْيَيْهَا فَإِنَّهَا كَانَتْ تُوْطِئُ فِرَاشَ زَوْجِهَا وأََمَّا الَتِيْ شُدَّ رِجْلاَهَا إِلىَ ثَدْيَيْهَا وَيَدَاهَا إِلىَ نَاصِيَتِهَا وَقَدْ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهَا الحَيَّاتِ وَالعَقَارِبِ فَإِنَّهَا كَانَتْ لاَ تَغْتَسِلُ مِنَ الجَنَابَةِ وَالحَيْضِ، وَتَسْتَهْزِئُ بِالصَلاَةِ. وأََمَّا الَتِيْ رأْسُهَا رَأْسُ خِنْزِيْرٍ وَبَدَنُهَا بَدَنُ حِمَارٍ فَإِنَّهَا كَانَتْ نَمَّامَةً كَذَّابَةً. وأََمَّا الَتِيْ عَلَى صُوْرَةِ الكَلْب،ِ وَالنَّارُ تَدخُلُ مِنْ فِيْهَا وَتَخْرُجُ مِنْ دُبُرِهَا، فَإِنَّهَا كَانَتْ مَنّانةً حَسادَة ً. وَ يَا بُنَيَّة، الوَيْلُ أي الهلاك لاِمْرَأَةٍ تَعْصِى زَوْجَهَا. وَالحَاصِلُ أَنَّ الزَوْجَ لِلزَوْجَةِ كَالوَالِدِ لِلْوَلَدِ، لأَنَّ طَاعَةَ الْوَلَدِ لِوَالِدِهِ وَطَلَبَ رِضَاهُ وَاجِبٌ، وَلاَ يَجِبُ ذَلِكَ عَلَى الزَوْجِ

Rasulullah SAW menjawab : “Wahai anakku sayang, adapun siksa perempuan yang di gantung dengan rambutnya di atas api neraka ialah mereka yang tidak menutup rambut kepala dari lelaki bukan muhrim, adapun siksa perempuan yang di gantung dengan lisannya di atas api neraka ialah mereka yang menyakiti suaminya, adapun siksa perempuan yang di gantung dengan payudaranya ialah mereka yang menginjak-nginjak tikar suaminya (tidak menghormati suami), adapun siksa perempuan yang kedua kakinya diikatkan sampai payudara dan kedua tangannya diikatkan sampai ujung kepala, mereka di kuasai ular dan kalajegking raksasa ialah mereka yang tidak pernah mandi besar dari junub dan haid sehingga meremehkan shalat, adapun siksa perempuan yang kepalanya berubah berupa babi, tubuhnya berubah berupa keledai ialah mereka yang suka menggosip, mengadu domba dan suka berdusta, adapun siksa perempuan yang wujudnya berubah menjadi anjing, api neraka masuk dari mulutnya kemudian keluar dari duburnya ialah mereka yang mengungkit-ungkit kebaikan, meratapi musibah dan iri dengki. Wahai anakku sayang!, binasalah apabila seorang perempuan berbuat durhaka pada suaminya.

Wal-hasil, bahwa seorang suami di mata istrinya ialah laksana orangtua di mata anak-anaknya. Karena seorang anak dituntut wajib untuk taat pada orang tua dan selalu mencari ridlonya, dan seorang suami tidak wajib taat kepada istrinya (selama tidak berseberangan dengan ajaran agama Islam).

Allah mengetahui segalanya.

Pustaka : Uqudul-Lizein Syekh Nawawi

Wednesday, April 17, 2013

KEISTIMEWAAN BEKERJA


بسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
إِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فيِ الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
فَإِذَا قُضِيَتْ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فيِ الأَرْض أَمْرُ إبَاحَةٍ وَابْتَغُوا اُطْلُبُوا الرِّزْق مِنْ فَضْل اللهِ وَاذْكُرُوا اللَّه ذِكْرًا كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ تَفُوزُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi (ini perintah boleh), dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS.Al-Jum’ah 10, Tafsir Al-Jalaen)

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبٌ لاَ يَكْفِرُهَا إِلاَّ الهَمُّ فيِ طَلَبِ المَعِيْشَةِ . وَقاَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ يُحْشَرُ يَوْمَ القِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ . وَقاَلَ أَيْضاً ؛ مَنْ طَلَبَ الدُّنْياَ حَلاَلاً وَتَعَفُّفًا عَنِ المَسْئَلَةِ وَسَعْيًا عَلَى عِيَالِهِ وَتَعَطُفًا عَلَى جَارِهِ لَقِيَ اللهُ وَوَجْهُهُ كَالقَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ

Sungguh telah bersabda Rasulullah SAW ; diantara dosa ialah terdapat dosa yang tidak akan terhapus melainkan hanya dengan kesulitan dalam mencari penghidupan. (HR.Thabrani) Dan telah bersabda Rasulullah SAW ; Pedagang yang jujur ialah akan dikumpulkan di hari qiyamah bersama oranng-orang benar dan para syuhada (orang-orang syahid). (HR.Turmudzi) Dan telah bersabda Rasulullah SAW ; Barangsiapa mencari harta dunia yang halal serta berniat agar menjaga diri dari meminta-minta, berniat memenuhi kebutuhan anak istri, serta berniat peduli (lebihnya sedekah pada yang membutuhkan) seperti kepada tetangga maka ia niscaya bertemu Allah kelak mukanya bersinar laksana purnama. (HR. Abu Nu’em)

وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا مَعَ أَصْحَابِهِ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَظَرُوْا إِلىَ شَابٍ ذِيْ جِلْدٍ وَقُوَّةٍ وَقَدْ بَكَرَ يَسْعَى فَقَالُوْا وَيْحٌ هَذَا لَوْ كَانَ شَبَابُهُ وَجِلْدُهُ فيِ سَبِيْلِ اللهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَقُوْلُوْا هَذَا فَإِنَّهُ إِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيَكُفَهَا عَنِ المَسْئَلَةِ وَيُغْنِيْهَا عَنِ النَّاسِ فَهُوَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ ضَعِيْفَيْنِ أَوْ ذُرِيَّةٍ ضِعَافٍ لِيُغْنِيَهُمْ وَيُكْفِيْهِمْ فَهُوَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ وَإِنْ كَانَ يَسْعَى تَفَاخُرًا وَتَكَاثُرًا فَهُوَ فيِ سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ

Dan suatu hari Nabi SAW duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba mereka melihat seorang anak muda yang energik dan kekar pagi-pagi pergi untuk bekerja. Para sahabat berkata “Sayang sekali nak muda ini apabila ia berada di jalan Allah mungkin ia akan lebih baik”. Nabi SAW bersabda, “Kalian jangan berkata begitu kepada anak muda ini, karena apabila anak muda ini pergi bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya agar ia tidak meminta-minta kepada orang lain maka seseungguhnya ia berada di jalan Allah. Apabila anak muda ini pergi bekerja untuk memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya yang jompo atau untuk menolong keturunan dan saudara yang lemah maka seseungguhnya ia berada di jalan Allah. Namun apabila anak muda ini pergi bekerja, hasil kerjanya untuk menampakkan kesombongan dan hanya menimbun harta maka seseungguhnya ia berada di jalan syetan”. (HR.Thabrani)

 Allah Mengetahui Segalanya

Wednesday, March 27, 2013

HIKMAH SHALAT DLUHA



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زُبَدِ البَحْرِ
Barangsiapa memelihara dua raka’at shalat Dluha maka semua dosanya diampuni Allah SWT, sekalipun dosa-dosanya itu sebanyak buih lautan. (HR. Turmudzi)

Shalat Dluha
Shalat Dluha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Matahari sedang naik, yaitu pukul tujuh sampai masuk waktu Dzuhur. Sekurang-kurangnya dua raka’at, boleh empat raka’at, enam raka’at, atau delapan raka’at.

Bacaan surat setiap dua raka’at dalam shalat Dluha, pada raka’at pertama setelah Fatihah boleh Asy-Syamsi dan raka’at kedua Ad-Dhuha, atau raka'at pertama Al-Kafirun dan raka'at kedua Al-Ikhlas.

Niat shalat Dluha 2 raka’at ;

أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ أَداَءً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat shalat sunnah dluha dua raka’at menghadap kiblat, tunai karena Allah”

Apabila melakukan shalat sunnah Dluha lebih dari dua raka’at, hendaknya setiap dua raka’at dengan satu salam, atau empat raka’at dengan satu salam. Ketika dilakukan 4 raka’at 1 salam redaksi niat rok’ataen (2 raka’at) diganti dengan arba’a-roka’atin (4 raka’at).

Niat shalat Dluha 4 raka’at ;

أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ أَداَءً ِللهِ تَعاَلىَ
“Saya niat shalat sunnah dluha empat raka’at menghadap kiblat, tunai karena Allah”

Do’a Shalat Dluha

أَللَّـهُمَّ إِنَّ الضُّحاَءَ ضُحاَءُكَ وَالبَهاَءَ بَهاَءُكَ وَالجَماَلَ جَماَلُكَ وَالقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ , أَللَّـهُمَّ إِنْ كأَنَ رِزْقىِ فىِ السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كاَنَ فىِ الأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كاَنَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ وَإِنْ كاَنَ حَرَاماً فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كاَنَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحاَءِكَ وَبَهاَءِكَ وَجَماَلِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِى مَآأَتَيْتَ عِباَدِكَ الصَّالِحِيْنَ , بِرَحْمَتِكَ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ؛

Artinya :
“Ya Allah sesungguhnya waktu dluha itu adalah waktu dluha-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan adalah perlindungan-Mu, Ya Allah jika rezekiku masih di atas langit maka turunkanlah, jika masih di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka halalkanlah, jika masih jauh maka dekatkanlah, berkat waktu dluha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu, karuniakan kepada kami segala sesuatu yang telah Engkau karuniakan kepada hamba-hamba-Mu yang soleh, dengan  segala rahmat-Mu wahai yang paling pengasih diantara yang pengasih, amien”.

Allah mengetahui segalanya.


Sunday, March 10, 2013

TATAKRMA BEPERGIAN


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الفصل الثاني: في آداب السفر - الوداع
   1.     "إذا خرج أحدكم إلى سفر فليودع إخوانه فإن الله تعالى جاعل له في دعائهم البركة" . "ابن عساكر فر عن زيد بن أرقم" 1.
   2.     "إذا أردت سفرا أو تخرج مكانا فقل لأهلك: أستودعكم الله الذي لا تخيب ودائعه" . "الحكيم عن أبي هريرة".
   3.     "إن لقمان الحكيم قال: إن الله تعالى إذا استودع شيئا حفظه" . "حم عن ابن عمر".
   4.     "إذا أراد أحدكم سفرا فليسلم على إخوانه فإنهم يزيدون بدعائهم إلى دعائه خيرا" . "حم ق عن أبي هريرة" 2 .
   5.     "إن الله إذا استودع شيئا حفظه" . "حب، هق عن ابن عمر".
   6.     "جعل الله التقوى زادك وغفر ذنبك ووجهك للخير حيث ما تكون" . "طب عن قتادة بن عياش".
   7.     "أستودع الله دينك وأمانتك وخواتيم عملك" . "د، ت عن ابن عباس حب هق عن ابن عمر".
   8.     "أستودعك الله الذي لا تضيع ودائعه" . "هـ عن أبي هريرة".
   9.     "زودك الله التقوى وغفر ذنبك ويسر لك الخير حيث ما تكون" . "ت ك عن أنس".
10.  "إذا خرجت إلى سفر فقل لمن تخلفه: أستودعك الله الذي لا تضيع ودائعه" . "حم عن أبي هريرة وحسن".
11.  "إذا أراد أحدكم سفرا فليسلم على إخوانه فإن الله يزيده بدعوتهم خيرا". "ابن النجار عن زيد بن أرقم".
12.  "في حفظ الله وفي كنفه وزودك الله التقوى وغفر ذنبك ووجهك للخير حيث توجهت أو قال أينما توجهت" . "ابن السني عن أنس".
13.  "في حفظ الله وفي كنفه زودك الله التقوى وغفر ذنبك ووجهك للخير حيث ما كنت" . "ابن السني وابن النجار عن أنس" أن رجلا أراد سفرا فقال النبي صلى الله عليه وسلم: فذكره".
14.  "يا غلام زودك الله التقوى ووجهك في الخير وكفاك الهم، فلما رجع الغلام سلم على النبي صلى الله عليه وسلم فرفع رأسه إليه فقال: يا غلام قبل الله حجك وغفر ذنبك وأخلفك نفقتك" . "ابن السني عن ابن عمر".
15.  "في حفظ الله وكنفه زودك الله التقوى وغفر لك ذنبك وأخلف نفقتك" . "ابن السني عن ابن عمر".
16.  "إذا استودع الله شيئا حفظه" . "طب عن ابن عمر".
 17.  " اللهم اطوِ له البعد وهون عليه السفر". "ت: حسن 1 ك عن أبي هريرة".

كنز العمال في سنن الأقوال والأفعال - ج 6 / ص 704

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)