Friday, August 5, 2011

WAJIB KIFARAT DALAM HAL PUASA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqoroh 183)

 

الكِفاَرَةُ مِنَ الكُفْرِ وَهُوَ السَّتْرُ ِلأَنَّهاَ تَسْتُرُ الذَّنْبَ وَمِنْهُ الكاَفِرُ ِلأَنَّهُ يَسْتُرُ الحَقَّ
Kifarat di kutif dari kata kufur, artinya terhalang atau tertutup, kifarat itu menutupi dosa,
sama halnya dengan orang kafir, karena ia tertutup untuk mendapatkan kebenaran
(Fiqih Imam Syafe’i, Fathul Mu’in, Syekh Zaenuddin Al-Malaebari)

 

فصل فى بيان ما يجب به الكفارة وما يذكر معها


( Wajib kifarat besar dan hukum Ta’jir serta qodlo puasa bagi orang yang merusak puasa pada salah satu hari sempurna di bulan Ramadhan dengan bersetubuh yang sempurna pula dan dia sebab persetubuhan itu berdosa karena sedang puasa ) artinya hanya berdosa karena membatal-kan puasa saja. ( Ta’jir adalah hukuman di lempari batu di jalan umum selama waktu tersentu ) Oleh karenanya tidak wajib kifarat bagi orang yang merusak puasa-nya dengan selain bersetubuh seperti dengan makan atau mengeluarkan air mani sendiri.

Dan sama seperti hal demikian adalah apa bila merusak puasa dengan bersetubuh bersamaan dengan hal lainnya, maka dalam kesempatan ini tidak wajib kifarat, baik di dahului dengan hal yang bukan bersetubuh atau seiring dengan persertubuhan itu. Oleh karenanya kifarat menjadi gugur karena di dauhui oleh hal yang menghalangi atas hal yang mengharus-kan.

Dan juga tidak wajib kifarat atas orang yang merusak puasa dengan bersetubuh pada puasa yang selain di bulan Ramadhan, seperti puasa nadzar dan puasa qodlo.

Dan tidak wajib kifarat atas musafir yang berpergian dengan jarak qoshor yang membolehkan buka puasa, lalu dia berbuka puasa dengan berzina, karena dosanya itu bukan karena membatalkan puasa saja akan tetapi karena bersama zina, meskipun dengan berbuka puasa itu dia tidak berniat Tarokhush yaitu tidak memakai keringanan. Karena berbuka puasa tidak di bolehkan kecuali dengan niat tersebut.

Dan apa bila dia berniat Tarokhush maka dosanya hanya karena zina saja, bukan karena puasa, karena berbuka pusa pada kesempatan itu adalah boleh. Dan keduanya tidak di wajibkan kifarat.
Lain halnya orang yang di waktu paginya bermuqim lalu dia berpergian dan dia melakukan persetubuhan maka baginya wajib kifarat.


( Lafadz “Taam” yaitu sempurna ) sungguh lafadz tersebut telah di sebutkan oleh Imam Al-Gozaliy, karena menjaga dari wanita, maka sesungguhnya wanita di wajibkan kifarat karena dia berbuka puasa hanya dengan memasukkan  sebagian kepala Dakar, demikian pendapat Syekh Al-Khisniy.
Syekh As-Suwefiy berkata ; Lafadz “Atsimun” dengan memakai panjang awalnya adalah dengan segat atau bentuk lafadz Isim Fail.


Wal-hasil bahwa syarat-syarat wajib membayar kifarat puasa ada sebelas macam, yaitu :

Pertama, Orang yang menyetubuhi ( lelaki ) di kecualikan dengan-nya adalah orang yang di setubuhi ( wanita ), oleh karenanya kifarat tidak di wajibkan kepada orang yang di setubuhi.

Kedua, persetubuhan yang merusak puasa, oleh karenanya tidak wajib kifarat kecuali apa bila persetubuhan itu merusak puasa, yaitu persetubuhan dengan di sengaja dalam keadaan ingat sedang puasa, dengan kemauan sendiri dan tahu akan haramnya, meskipun dia tidak tahu wajibnya kifarat atau dia tidak tahu yang bukan di uzdur-kan.

Ketiga, Merusak puasa, di kecualikan dengan puasa adalah shalat dan I’tikaf oleh karenanya tidak wajib kifarat bagi orang yang merusak shalat dan I’tikaf.

Keempat, Merusak puasanya sendiri, di kecualikan dengannya adalah apa bila dia merusak puasa orang lain meskipun dalam bulan Ramadhan, seperti seorang musafir atau yang lainnya menyetubuhi istrinya maka puasa si istri tersebut menjadi rusak atau batal.

Kelima, Dalam bulan Ramadhan, meskipun hanya dengan rukyat sendiri, atau rukyat dari khabar orang yang di percaya atau rukyat dari orang yang di yakini kebenaran-nya.
Keenam, Sebab persetubuhan meskipun sebab liwath ( sodomi ) atau sebab menyetubuhi hewan atau mayat dan meskipun tidak membuat keluar air mani, demikian pendapat Syekkh Az-Zayadiy.

Ketujuh, Adanya dia berdosa sebab dengan persetubuhannya, di kecualikan dengannya adalah apa bila pelakunya adalah anak kecil.


Demikian pula apabila pelakuk-nya seorang musafir atau orang sakit dan dia bersetubuh dengan niat memakai keringanan, maka dia tidak mendapatkan dosa.

Kedelapan, keadaan dosanya di karena merusak puasa saja.

Kesembilan, merusak puasa sehari, dan di bahasakan dengan puasa sehari adalah sebab tetapnya pelaku termasuk ahli akan puasa di hari tersebut pada waktu berikutnya.

Oleh karenanya di kecualikan apa bila dia bersetubuh tanpa ada uzdur lalu dia gila atau mati pada hari itu juga, karena ternyata dia tidak merusak puasa dalam sehari.

Kesepuluh, tidak ada syubhat, oleh karenanya di kecualikan apa bila dia menduga waktu bersetubuh itu masih pada waktu malam, atau telah masuk waktu malam, atau dia ragu dalam hal keduanya, lalu ternyata waktu itu adalah siang, atau dia makan dalam keadaan lupa dan dia menduga bahwa puasanya batal karenanya, lalu dia bersetubuh secara sengaja.

Kesebelas, Adanya persetubuhan adalah secara yakin terjadi pada bulan Ramadhan, di kecualikan darinya adalah apa bila dalam keadaan yang tidak jelas dan dia berpuasa dengan dasar ijtihad atau hati-hati lalu dia melakukan bersetubuh dalam keadaan yang belum jelas, maka baginya tidak wajib kifarat.

KIFARAT PUASA adalah memerdeka-kan atau membebaskan seorang budak yang beriman tanpa ada ikatan apapun serta budak tersebut selamat dari aib yang mengurangi nilai kerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Dan apa bila tidak mampu memerdeka-kan budak, maka wajib puasa selama dua bulan berturut-turut dan berturut-turut menjadi terputus sebab berbuka di pertengahan waktu, meskipun sebab udzur kecuali uzdur seperti haid.

Apa bila tidak mampu puasa dua bulan berturut-turut, maka wajib memberi sedekah makanan terhadap 60 orang miskin, masing-masing satu mud makanan dari makanan pokok di suatu daerah, yaitu makanan yang cukup dalam mengeluarkan zakat fitrah.
( وَيَجِبُ مَعَ القَضاَءِ لِلصَّوْمِ الكِفاَرَةُ العُظْمَى وَالتَّعْزِيْرُ عَلَى مَنْ أَفْسَدَ صَوْمَهُ فىِ رَمَضاَنٍ يَوْماً كاَمِلاً بِجِماَعٍ تاَمٍ آثِمٌ بِهِ لِلصَّوْمِ ) أَىْ ِلأَجْلِهِ فَقَطْ فَلاَ كِفاَرَةَ عَلَى مَنْ أَفْسَدَهُ بِغَيْرِ جِماَعٍ كَأَكْلٍ أَوْ اسْتِمْناَءٍ
وَمِثْلُ ذَلِكَ ماَ لَوْ أَفْسَدَهُ بِجِماَعٍ مَعَ غَيْرِهِ فَلاَكِفاَرَةَ عَلَيْهِ سَواَءٌ تَقَدَّمَ ذَلِكَ الغَيْرُ عَلَى الجِماَعِ أَوْ قاَرَنَهُ فَتَسْقُطُ الكِفاَرَةُ تَقْدِيْماً لِلْماَنِعِ عَلَى المُقْتَضِى
وَلاَكِفاَرَةَ أَيْضاً عَلَى مَنْ أَفْسَدَهُ بِجِماَعٍ فىِ غَيْرِ رَمَضاَنَ كَنَذْرٍ وَقَضاَءٍ
وَلاَ عَلَى مُساَفِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ يُبِيْحُ الفِطْرَ أَفْطَرَ بِالزِّناَ ِلأَنَّ إِثْمَةَ لَيْسَ لِلصَّوْمِ وَحْدَهُ بَلْ لَهُ مَعَ الزِّناَ إِنْ لَمْ يَنْوِ بِفِطْرِهِ التَّرَخُصُ أَىْ ارْتِكاَبُ الرُّخْصِ إِذْ الفِطْرُ لاَيُباَحُ إِلاَّ بِتِلْكَ النِّيَّةِ
فَإِنْ نَوَى ذَلِكَ كاَنَ إِثْمُهُ لِلزَّناَ وَحْدَهُ لاَ لِلصَّوْمِ ِلأَنَّ الفِطْرَ جاَئِزٌ وَلاَ كِفاَرَةَ عَلَى كِلاَ الحاَلَيْنِ
بِخِلاَفِ مَنْ أَصْبَحَ مُقِيْماً ثُمَّ ساَفَرَ وَوَطِئَ فَتَلْزَمُهُ الكِفاَرَةُ
( قَوْلُهُ تاَمٌ ) وَقَدْ ذَكَرَهُ الغَزاَلىِ لِلإِحْتِراَزِ عَنِ المَرْأَةِ فَإِنَّهُ لاَيَلْزَمُهاَ الكِفاَرَةُ ِلأَنَّهاَ تَفْطُرُ بِمُجَرَّدِ دُخُوْلِ بَعْضِ الحَشَفَةِ قاَلَهُ الحِصْنِى
قاَلَ السُّوَيْفِى قَوْلُهُ آثِمٌ بِالمَدِّ بِصِيْغَةِ إِسْمِ الفاَعِلِ انتهى
وَالحاَصِلُ أَنَّ شُرُوْطَ وُجُوْبِ الكِفاَرَةِ أَحَدَ عَشَرَ ؛
الأَوَّلُ الوَاطِئُ فَخَرَجَ بِهِ المَوْطُوْءُ فَلاَ تَجِبُ عَلَيْهِ
الثَّانىِ وَطْءُ مُفْسِدٍ فَلاَ تَجِبُ إِلاَّ إِذاَكاَنَ الوَطْءُ مُفْسِداً بِأَنْ يَكُوْنَ مِنْ عاَمِدٍ ذاَكِرٍ لِلصَّوْمِ مُخْتاَرٍ عاَلِمٍ بِتَحْرِيْمِهِ وَإِنْ جَهِلَ وُجُوْبَ الكِفاَرَةِ أَوْ مِنْ جاَهِلِ غَيْرِ مَعْذُوْرٍ
وَالثَّالِثُ إِفْساَدُ صَوْمٍ , خَرَجَ بِهِ الصَّلاَةُ وَالإِعْتِكاَفُ فَلاَتَجِبُ الكِفاَرَةُ بِإِفْساَدِهِماَ
الرَّابِعُ أَنْ يُفْسِدَ صَوْمَ نَفْسِهِ , خَرَجَ بِهِ ماَ لَوْ أَفْسَدَ صَوْمَ غَيْرِهِ وَلَوْ فىِ رَمَضاَنٍ كَأَنْ وَطِئَ مُساَفِرٌ َوْ نَحْوُهُ امْرَأَتَهُ فَفَسَدَ صَوْمُهاَ
الخاَمِسُ فىِ رَمَضاَنٍ وَإِنْ انْفَرَدَ بِالرُّؤْيَةِ أَوْ أَخْبَرَهُ مَنْ يَثُقُّ بِهِ أَوْ مَنْ اعْتَقَدَ صِدْقُهُ
السَّادِسُ بِجِماَعٍ وَلَوْ لِواَطاً أَوْ إِتْياَنِ بَهِيْمَةٍ أَوْ مَيْتٍ وَإِنْ لَمْ يَنْزُلْ قاَلَهُ الزَّياَدِى
السَّابِعُ أَنْ يَكُوْنَ آثِماً بِجِماَعِهِ فَخَرَجَ بِهِ ماَ لَوْكاَنَ صَبِياًّ
وَكَذاَ لَوْكاَنَ مُساَفِراً أَوْ مَرِيْضاً وَجاَمَعَ بِنِيَّةِ التَّرَخُصِ فَإِنَّهُ لاَ إِثْمَ عَلَيْهِ
الثَّامِنُ أَنْ يَكُوْنَ إِثْمُهُ ِلأَجْلِ الصَّوْمِ فَقَطْ
التَّاسِعُ أَنْ يُفْسِدَ صَوْمَ يَوْمٍ وَيُعْتَبَرُ عَنْهُ بِاسْتِمْراَرِهِ أَهْلاً لِلصَّوْمِ بَقِيَّةَ اليَوْمِ
فَخَرَجَ ماَ لَوْ وَطِئَ بِلاَعُذْرٍ ثُمَّ جَنَّ أَوْماَتَ فىِ اليَوْمِ ِلأَنَّهُ باَنَ أَنَّهُ لَمْ يُفْسِدُ صَوْمَ يَوْمٍ

العاَشِرُ عَدَمُ الشُّبْهَةِ فَخَرَجَ ماَ لَوْظَنَّ وَقْتَ الوَطْءِ بَقاَءَ اللَّيْلِ أَوْ دُخُوْلِهِ أَوْ شَكَّ فىِ أَحَدِهِماَ فَباَنَ نَهاَراً أَوْ أَكَلَ ناَسِياً وَظَنَّ أَنَّهُ أَفْطَرَ بِهِ ثُمَّ وَطِئَ عاَمِداً
الحاَدِى عَشَرَ كَوْنُ الوَطْءِ يَقِيْناً فىِ رَمَضاَنٍ خَرَجَ بِهِ ماَلَوْ اشْتَبَهَ الحاَلُ وَصاَمَ بِتَحَرٍّ أَىْ بِإِجْتِهاَدٍ وَوَطِئَ وَلَمْ يَبِنْ الحاَلُ فَلاَكِفاَرَةَ عَلَيْهِ
وَالكِفاَرَةُ إِعْتاَقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ بِلاَعِوَضٍ سَلِيْمَةٍ عَنْ عَيْبٍ يَخِلُّ بِالعَمَلِ لِيَقُوْمَ بِكِفاَيَتِهِ
فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الرُّقْبَةِ وَجَبَ صَوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتاَبِعَيْنِ وَيَنْقَطِعُ التَّتاَبُعُ بِالإِفْطاَرِ وَلَوْ بِعُذْرٍ إِلاَّ نَحْوَ حَيْضٍ
فَإِنْ عَجَزَ عَنْ صَوْمِهِماَ وَجَبَ إِطْعاَمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْناً لِكُلٍّ مِنْهُمْ مُدٌّ مِنْ غاَلِبِ قُوْتِ البَلَدِ المُجْزِئِ فىِ الفِطْرَةِ 

TAMMAT
Ilmu Fiqih Imam Syafe’i,
Kitab Kasyifatus-Saja Syarah Safinatun-Naja, Syekh Nawawi Banten

WASPADALAH..., MENDAPATKAN ILMU TANPA GURU

وَمِنْ كَلاَمِ أَبِيْ يَزِيْدْ البُسْطاَمِيْ قُدِّسَ سِرُّهُ ؛ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطاَنُ

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy quddisa sirruh menyatakan ; Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.

Tafsir Ruhul-Bayan, Juz 5 hal. 203 Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60

Ketika tidak mendapatlan ilmu tanpa guru maka jelas dia gurunya syetan dan kesesatannya lebih terbuka lebar, maka waspadailah. Apakah anda punya guru agama? Datangilah beliau, jika anda ingin mendapatkan ilmunya dan bermanfaat..


Lihat LOKASI MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA di peta yang lebih besar

NASKAH POPULER