Sunday, February 17, 2013

PERSILANGAN ANTARA NAJIS DENGAN TIDAK

Photo Saat Maulid 1434 H
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ المَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالمُنْخَنِقَةُ وَالمَوْقُوذَةُ وَالمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (QS. Al-maidah 03)

(وَكَكَلْبٍ وَخِنْزِيْرٍ) وَفَرْعِ كُلٍّ مِنْهُمَا مَعَ الآَخَرِ أَوْ مَعَ غَيْرِهِ، وَدُوْدُ مَيْتَتِهِمَا طَاهِرٌ، وَكَذَا نَسْجُ عَنْكَبُوْتِ عَلَى المَشْهُوْرِ :كَماَ قاَلَهُ السُّبْكِي وَالاَذْرَعِي، وَجَزَمَ صَاحِبُ العِدَّةِ وَالحَاوِيْ بِنَجَاسَتِهِ , وَمَا يَخْرُجُ مِنْ جِلْدِ نَحْوِ حَيَةٍ فيِ حَيَاتِهَا كَالعِرْقِ عَلَى مَا أَفْتَى بِهِ بَعْضُهُمْ , لَكِنْ قاَلَ شَيْخُنَا فِيْهِ نَظْرٌ، بَلْ الاَقْرَبُ أَنَّهُ نَجْسٌ ِلاَنَّهُ جُزْءٌ مُتَجَسِدٌ مُنْفَصِلٌ مِنْ حَيٍّ ، فَهُوَ كَمَيْتَتِهِ

Diantara yang termasuk najis dan tentunya haram dikonsumsi ialah anjing dan babi, termasuk anak dari salah satu keduanya yang kawin dengan yang lainnya atau bersama selain keduanya. Namun ulat bangkai dari anjing dan babi adalah suci (namun tidak boleh di konsumsi). Demikian  juga sama halnya menyandang suci ialah sarang laba-laba, ini menurut pendapat masyhur Ulama, sebagaiman diungkapkan oleh Syekh As-Subki dan Syekh Al-Adra’i. Namun penyusun kitab Al-Iddah dan Al-hawi menyatakan najis (sarang laba-aba). Dan (termasuk suci) apa yang keluar dari kulit seumpama ular di saat hidupnya seperti keringat sebagaimana fatwa sebagian Ulama. Akan tetapi guru kami (ibnu Hajar Al-Haetami) menyatakan perlu pembahasan rinci. Dan pendapat yang paling dekat layak ialah najis, karena ia merupakan bagian terpisah dari hidupnya,dan hal itu ialah sama dengan bangkainya.

وَقاَلَ أَيْضًا لَوْ نَزَا كَلْبٌ أَوْ خِنْزِيْرٌ عَلَى آَدَمِيَّةٍ فَوَلَدْتْ آَدَمِيًا كَانَ الوَلَدُ نَجْسًا، وَمَعَ ذَلِكَ هُوَ مُكَلَّفٌ بِالصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا , وَظَاهِرُ أَنَّهُ يُعْفَى عَمَّا يَضْطُرَّ إِلىَ مُلاَمَسَتِهِ، وَأَنَّهُ تَجُوْزُ إِمَامَتُهُ إِذْ لاَ إِعَادَةَ عَلَيْهِ ، وَدُخُوْلُهُ المَسْجِدَ حَيْثُ لاَ رُطُوْبَةَ لِلْجَمَاعَةِ وَنَحْوِهَا

Guru kami (Syekh Ibnu Hajar Al-Haetami) menambahkan, apabila terjadi persetubuhan antara anjing atau babi dengan manusia kemudian terlahir seorang anak wujud manusia, maka anak tersebut hukumnya najis. Bersamaan dengan itu sang anak tersentuh perintah agama, seperti wajib melakukan shalat dan hal lainnya. Dalam hal ini jelas, bahwasanya adalah dimaafkan dari setiap hal yang bersifat darurat ketika menyentuhnya. Dan si anak tersebut boleh menjdai imam shalat, karena baginya tidak wajib mengulang shalatnya. Begitu pula dimaafkan apabila ia masuk ke mesjid sekiranya tidak dalam kondisi basah, untuk berjama’ah atau hal lainnya.

(مَسْأَلَةٌ) : المَنِيْ طاَهِرٌ مِنَ الآَدَمِيِّ إِتِّفَاقاً ، وَكَذَا غَيْرُهُ مِنْ بَقِيَّةِ الحَيَوَانَاتِ غَيْرِ الكَلْبِ وَالخِنْزِيْرِ عَلَى المُعْتَمَدِ ، لَكِنْ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ مُسْتَنْجِياً بِمَاءٍ فَهُوَ مُتَنَجِسٌ ، وَمِنْ ثَمَّ حَرُمَ الجِمَاعُ عَلَى مُسْتَجْمِرِ بِالحَجَرِ مِنْهُمَا ، وَإِنْ فَقِدَ المَاءُ وَاحْتَاجَ إِلىَ الوِقاَعِ كَمَا فيِ النِّهَايَةِ وَالمُغْنِي ، وَقَيَّدَهُ فيِ التُّحْفَةِ بِوُجُوْدِ المَاءِ ، وَهَذَا كَمَا لَوْ تَنَجَسَ ذَكَرُهُ بِمَذِي مَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّ المَاءَ يَفْتَرُ شَهْوَتَهُ فَيَجُوْزُ حِيْنَئِذٍ ، وَاغْتُفِرَ فيِ القَلاَئِدِ المَذِي مُطْلَقاً لِلضُّرَوْرَةِ ، وَحَيْثُ حَكَمْنَا بِطَهَارَةِ المَنِي جَازَتْ الصَّلاَةُ فيِ الثَّوْبِ الَّذِيْ وَقَعَ فِيْهِ وَلَوْ مِنْ جِمَاعٍ ، نَعَمْ يُسَنُّ غَسْلُهُ رُطُباً وَفَرَكَهُ يَابِسًا.

(MASALAH) Sperma ialah suci daripada manusia ini sepakat para Ulama. Demikian juga sama halnya sperma selain manusia diantara hewan, selain anjing dan babi, menurut pendapat yang kuat. Namun apabila orang yang memiliki sperma tersebut tidak melakukan bersuci dari buang hajat (kencing) dengan air maka spermanya termasuk mutanajis (tersentuh najis). Oleh karena itu diharamkan bersenggama terhadap orang yang bersuci dari buang hajat hanya dengan batu saja, daripada salah satu pasangan senggama. Sekalipun tidak menemukan air dan ia sangat membutuhkan bersenggama, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam kitab An-Nihayah dan Al-Mughni, namun diperkuat dalam kitab At-Tuhfah dengan wujud air. Hal ini sama seperti apabila kelamin lelaki yang terkena najis dengan madzi (cairan keluar saat nafsu sex tinggi) selama tidak diketahui bahwa air memisahkan syahwatnya, mak di sini dibolehkan. Dan dalam kitab al-Qolaid tertuang ialah bahwa madzi dimaafkan secara mutlaq karena darurat. Sekiranya kami menyatakan hukum suci pada sperma maka diperbolehkan shalat dengan pakaian yang terkena cipratan sperma, sekalipun dari senggama, dan itu memang betul demikian, namun disunnahkan mencuci sperma di saat masih basah, dan disunnahkan mengeriknya apabila sperma sudah mengering.

..Allah Mengetahui segalanya..

Pustaka : Fiqim Imam Syafe’I ; I’anatuth-Thalaibin Syekh Syatho, Bugiyatul Murtasyidin Syekh Abdurahman Balawiy

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)