Sunday, March 10, 2013


TATAKRMA BEPERGIAN
PENGANTAR ORANG PERGI HAJI/BEPERGIAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الفصل الثاني: في آداب السفر - الوداع
   1.     "إذا خرج أحدكم إلى سفر فليودع إخوانه فإن الله تعالى جاعل له في دعائهم البركة" . "ابن عساكر فر عن زيد بن أرقم" 1.
   2.     "إذا أردت سفرا أو تخرج مكانا فقل لأهلك: أستودعكم الله الذي لا تخيب ودائعه" . "الحكيم عن أبي هريرة".
   3.     "إن لقمان الحكيم قال: إن الله تعالى إذا استودع شيئا حفظه" . "حم عن ابن عمر".
   4.     "إذا أراد أحدكم سفرا فليسلم على إخوانه فإنهم يزيدون بدعائهم إلى دعائه خيرا" . "حم ق عن أبي هريرة" 2 .
   5.     "إن الله إذا استودع شيئا حفظه" . "حب، هق عن ابن عمر".
   6.     "جعل الله التقوى زادك وغفر ذنبك ووجهك للخير حيث ما تكون" . "طب عن قتادة بن عياش".
   7.     "أستودع الله دينك وأمانتك وخواتيم عملك" . "د، ت عن ابن عباس حب هق عن ابن عمر".
   8.     "أستودعك الله الذي لا تضيع ودائعه" . "هـ عن أبي هريرة".
   9.     "زودك الله التقوى وغفر ذنبك ويسر لك الخير حيث ما تكون" . "ت ك عن أنس".
10.  "إذا خرجت إلى سفر فقل لمن تخلفه: أستودعك الله الذي لا تضيع ودائعه" . "حم عن أبي هريرة وحسن".
11.  "إذا أراد أحدكم سفرا فليسلم على إخوانه فإن الله يزيده بدعوتهم خيرا". "ابن النجار عن زيد بن أرقم".
12.  "في حفظ الله وفي كنفه وزودك الله التقوى وغفر ذنبك ووجهك للخير حيث توجهت أو قال أينما توجهت" . "ابن السني عن أنس".
13.  "في حفظ الله وفي كنفه زودك الله التقوى وغفر ذنبك ووجهك للخير حيث ما كنت" . "ابن السني وابن النجار عن أنس" أن رجلا أراد سفرا فقال النبي صلى الله عليه وسلم: فذكره".
14.  "يا غلام زودك الله التقوى ووجهك في الخير وكفاك الهم، فلما رجع الغلام سلم على النبي صلى الله عليه وسلم فرفع رأسه إليه فقال: يا غلام قبل الله حجك وغفر ذنبك وأخلفك نفقتك" . "ابن السني عن ابن عمر".
15.  "في حفظ الله وكنفه زودك الله التقوى وغفر لك ذنبك وأخلف نفقتك" . "ابن السني عن ابن عمر".
16.  "إذا استودع الله شيئا حفظه" . "طب عن ابن عمر".
 17.  " اللهم اطوِ له البعد وهون عليه السفر". "ت: حسن 1 ك عن أبي هريرة".

كنز العمال في سنن الأقوال والأفعال - ج 6 / ص 704

Monday, February 25, 2013

KEMISKINAN ITU MENGUNDANG KARUNIA


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Sahabatku yang aku sayangi dengan tulus, Sepertinya sulit sekali menemukan orang yang ingin hidup berada dalam lingkaran kemiskinan. Semua orang nyaris akan berusaha terlepas dari kemiskinan. Mencari kehidupan dengan mengadu nasib ke negeri orang, mulai dari urbanisai ke kota-kota besar, imigrasi ke berbagai penjuru dunia, sampai urbanisai ke negri onta. Semua itu berusaha untuk terlepas dari kemiskinan. Karena kemiskinan khawatir mendekati pada kekufuran, itulah mungkin sebagar pijakannya.

Padahal semua ikhtiar itu ialah bukan wajib untuk berhasil, hanya bersifat mengadu nasib. Islam tidak melarang bekerja dan berusaha. Namun apabila sebuah usaha itu tidak membuahkan hasil dan terpaksa hidup berada dalam kemiskinan, sebetulnya ada peluang yang sangat baik, ketika mau menghayati dan mengisi peluang tersebut.. coba saja simak ungkapan Syekh Inu ‘Atho dalam Al-Hikamnya!

إِنْ أَرَدْتَ وُرُوْدَ المَوَاهِبِ عَلَيْكَ صَحِّحِ الفَقْرَ وَالفاَقَةَ لَدَيْكَ إِنَّماَ الصَّدَقاَتُ لِلفُقَرَاءِ
Artinya :
Apabila anda menginginkan datangnya karunia Allah SWT, maka jadikanlah kemiskinan dan kesulitan anda adalah menjadi baik di hadapan anda. Karena sesungguhnya sedekah itu untuk kaum fakir

Kemiskinan yang menjerat kehidupannya tidak membuatnya menjerit, akan tetapi di hadapinya dengan baik, tenang dan tidak menggangunya kewajiban ibadahnya. Karena ada kebaikannya di sana, sebagaimana firman Allah Swt :

إِنَّماَ الصَّدَقاَتُ لِلْفُقَراَءِ
Artinya :
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir” ( QS. At-Taubah 60 )

Diantara sesuatu yang berkaitan dengan dohir ayat ini adalah sebagaimana kesakian Syekh Ibnu ‘Atho adalah sama dengan pernyataan sebagian Ulama ahli makrifat sebagai berikut :

صِدْقُ الفَقِيْرِ أَخْذُهُ الصَّدَقَةَ مِمَّنْ يُعْطِيْهِ لاَمِمَّنْ يُقَبِّلُ إِلَيْهِ عَلَى يَدِهِ فاَلحَقُّ تَعاَلىَ هُوَ المُعْطِى عَلَى الحَقِيْقَةِ ِلأَنَّهُ جَعَلَهاَ لَهُمْ فَإِنْ قَبَلَهاَ مِنَ الحَقِّ فَهُوَ الصَّادِقُ فىِ فَقْرِهِ لِعُلُوِّ هِمَّتِهِ وَمَنْ قَبَلَهاَ مِنَ الوَساَئِطِ فَهُوَ المُتَوَسِمُ بِالفَقْرِ مَعَ رِداَءَةِ هِمَّتِهِ .
Artinya :
Kebenaran identitas seorang fakir miskin adalah dia yang merasa mengambil sedekah zakat itu adalah dari Allah Swt sebagai yang memberinya, bukan merasa dari orang yang membayarkan zakatnya kepada dia, karena pada hakikatnya Allah Al-Haq yang memberi sedekah itu, karena Allah Swt menjadikan sedekah zakat itu untuk orang-orang faqir. Dengan demikian apabila dia merasa menerima sedekah zakat itu dari Allah Swt maka setatus kefakiran dirinya adalah benar, karena cita dan harapannya tinggi. Namun apabila dia merasa menerima sedekah itu dari orang yang membayar zakat tersebut, maka dia adalah seorang fakir palsu karena cita dan harapannya rendah dan hina.

Wal-Hasil, ketika di saat berada dalam kemiskinan, maka jangan berharap pemberian manusia. Namun sangat boleh berharap ialah kepada Allah yang Maha kuasa. Walau faktanya pemberian itu datang dari sesama, karena orang yang memberi itupun dalam memberikan zakat atau sedekahnya dituntut untuk ikhlas, sampai ada orang yang sedekah tidak ingin menyebutkan nama dirinya. Cukup dengan nama HAMBA ALLAH.. Subhanallah.. Subhanallah.. Subhanallah.. inilah hebatnya kekuasaan Allah, yang memberikan karunia kepada mereka yang Allah tempatkan dalam kemiskinan.

By Kang Dae


Sunday, February 17, 2013

PERSILANGAN ANTARA NAJIS DENGAN TIDAK

Photo Saat Maulid 1434 H
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ المَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالمُنْخَنِقَةُ وَالمَوْقُوذَةُ وَالمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (QS. Al-maidah 03)

(وَكَكَلْبٍ وَخِنْزِيْرٍ) وَفَرْعِ كُلٍّ مِنْهُمَا مَعَ الآَخَرِ أَوْ مَعَ غَيْرِهِ، وَدُوْدُ مَيْتَتِهِمَا طَاهِرٌ، وَكَذَا نَسْجُ عَنْكَبُوْتِ عَلَى المَشْهُوْرِ :كَماَ قاَلَهُ السُّبْكِي وَالاَذْرَعِي، وَجَزَمَ صَاحِبُ العِدَّةِ وَالحَاوِيْ بِنَجَاسَتِهِ , وَمَا يَخْرُجُ مِنْ جِلْدِ نَحْوِ حَيَةٍ فيِ حَيَاتِهَا كَالعِرْقِ عَلَى مَا أَفْتَى بِهِ بَعْضُهُمْ , لَكِنْ قاَلَ شَيْخُنَا فِيْهِ نَظْرٌ، بَلْ الاَقْرَبُ أَنَّهُ نَجْسٌ ِلاَنَّهُ جُزْءٌ مُتَجَسِدٌ مُنْفَصِلٌ مِنْ حَيٍّ ، فَهُوَ كَمَيْتَتِهِ

Diantara yang termasuk najis dan tentunya haram dikonsumsi ialah anjing dan babi, termasuk anak dari salah satu keduanya yang kawin dengan yang lainnya atau bersama selain keduanya. Namun ulat bangkai dari anjing dan babi adalah suci (namun tidak boleh di konsumsi). Demikian  juga sama halnya menyandang suci ialah sarang laba-laba, ini menurut pendapat masyhur Ulama, sebagaiman diungkapkan oleh Syekh As-Subki dan Syekh Al-Adra’i. Namun penyusun kitab Al-Iddah dan Al-hawi menyatakan najis (sarang laba-aba). Dan (termasuk suci) apa yang keluar dari kulit seumpama ular di saat hidupnya seperti keringat sebagaimana fatwa sebagian Ulama. Akan tetapi guru kami (ibnu Hajar Al-Haetami) menyatakan perlu pembahasan rinci. Dan pendapat yang paling dekat layak ialah najis, karena ia merupakan bagian terpisah dari hidupnya,dan hal itu ialah sama dengan bangkainya.

وَقاَلَ أَيْضًا لَوْ نَزَا كَلْبٌ أَوْ خِنْزِيْرٌ عَلَى آَدَمِيَّةٍ فَوَلَدْتْ آَدَمِيًا كَانَ الوَلَدُ نَجْسًا، وَمَعَ ذَلِكَ هُوَ مُكَلَّفٌ بِالصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا , وَظَاهِرُ أَنَّهُ يُعْفَى عَمَّا يَضْطُرَّ إِلىَ مُلاَمَسَتِهِ، وَأَنَّهُ تَجُوْزُ إِمَامَتُهُ إِذْ لاَ إِعَادَةَ عَلَيْهِ ، وَدُخُوْلُهُ المَسْجِدَ حَيْثُ لاَ رُطُوْبَةَ لِلْجَمَاعَةِ وَنَحْوِهَا

Guru kami (Syekh Ibnu Hajar Al-Haetami) menambahkan, apabila terjadi persetubuhan antara anjing atau babi dengan manusia kemudian terlahir seorang anak wujud manusia, maka anak tersebut hukumnya najis. Bersamaan dengan itu sang anak tersentuh perintah agama, seperti wajib melakukan shalat dan hal lainnya. Dalam hal ini jelas, bahwasanya adalah dimaafkan dari setiap hal yang bersifat darurat ketika menyentuhnya. Dan si anak tersebut boleh menjdai imam shalat, karena baginya tidak wajib mengulang shalatnya. Begitu pula dimaafkan apabila ia masuk ke mesjid sekiranya tidak dalam kondisi basah, untuk berjama’ah atau hal lainnya.

(مَسْأَلَةٌ) : المَنِيْ طاَهِرٌ مِنَ الآَدَمِيِّ إِتِّفَاقاً ، وَكَذَا غَيْرُهُ مِنْ بَقِيَّةِ الحَيَوَانَاتِ غَيْرِ الكَلْبِ وَالخِنْزِيْرِ عَلَى المُعْتَمَدِ ، لَكِنْ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ مُسْتَنْجِياً بِمَاءٍ فَهُوَ مُتَنَجِسٌ ، وَمِنْ ثَمَّ حَرُمَ الجِمَاعُ عَلَى مُسْتَجْمِرِ بِالحَجَرِ مِنْهُمَا ، وَإِنْ فَقِدَ المَاءُ وَاحْتَاجَ إِلىَ الوِقاَعِ كَمَا فيِ النِّهَايَةِ وَالمُغْنِي ، وَقَيَّدَهُ فيِ التُّحْفَةِ بِوُجُوْدِ المَاءِ ، وَهَذَا كَمَا لَوْ تَنَجَسَ ذَكَرُهُ بِمَذِي مَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّ المَاءَ يَفْتَرُ شَهْوَتَهُ فَيَجُوْزُ حِيْنَئِذٍ ، وَاغْتُفِرَ فيِ القَلاَئِدِ المَذِي مُطْلَقاً لِلضُّرَوْرَةِ ، وَحَيْثُ حَكَمْنَا بِطَهَارَةِ المَنِي جَازَتْ الصَّلاَةُ فيِ الثَّوْبِ الَّذِيْ وَقَعَ فِيْهِ وَلَوْ مِنْ جِمَاعٍ ، نَعَمْ يُسَنُّ غَسْلُهُ رُطُباً وَفَرَكَهُ يَابِسًا.

(MASALAH) Sperma ialah suci daripada manusia ini sepakat para Ulama. Demikian juga sama halnya sperma selain manusia diantara hewan, selain anjing dan babi, menurut pendapat yang kuat. Namun apabila orang yang memiliki sperma tersebut tidak melakukan bersuci dari buang hajat (kencing) dengan air maka spermanya termasuk mutanajis (tersentuh najis). Oleh karena itu diharamkan bersenggama terhadap orang yang bersuci dari buang hajat hanya dengan batu saja, daripada salah satu pasangan senggama. Sekalipun tidak menemukan air dan ia sangat membutuhkan bersenggama, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam kitab An-Nihayah dan Al-Mughni, namun diperkuat dalam kitab At-Tuhfah dengan wujud air. Hal ini sama seperti apabila kelamin lelaki yang terkena najis dengan madzi (cairan keluar saat nafsu sex tinggi) selama tidak diketahui bahwa air memisahkan syahwatnya, mak di sini dibolehkan. Dan dalam kitab al-Qolaid tertuang ialah bahwa madzi dimaafkan secara mutlaq karena darurat. Sekiranya kami menyatakan hukum suci pada sperma maka diperbolehkan shalat dengan pakaian yang terkena cipratan sperma, sekalipun dari senggama, dan itu memang betul demikian, namun disunnahkan mencuci sperma di saat masih basah, dan disunnahkan mengeriknya apabila sperma sudah mengering.

..Allah Mengetahui segalanya..

Pustaka : Fiqim Imam Syafe’I ; I’anatuth-Thalaibin Syekh Syatho, Bugiyatul Murtasyidin Syekh Abdurahman Balawiy

Friday, February 15, 2013

WANITA YANG PERNAH MENYUSUI RASUL SAW


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
أَوَّلُ مَنْ أَرْضَعَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ النِّسَاءِ أُمُّهُ آَمِنَةُ ثُمَّ ثُوَيْبَةُ الأَسْلَمِيَّةُ جَارِيَةُ أَبِيْ لَهْبٍ الَّتِيْ أَعْتَقَهَا حِيْنَ بَشَرَتْهُ بِوِلاَدَتِهِ أَيَّامًا قَبْلَ قُدُوْمِ حَلِيْمَةَ وَخَوْلَةَ بِنْتِ الأَزُوْرِ وَأُمُّ أَيْمَنِ وَامْرَأَةُ سَعْدِيَّةِ غَيْرَ حَلِيْمَةَ وَثَلاَثُ نِسْوَةٍ مِنَ العَوَاتِكِ وَأَكْثَرُهُنَّ إِرْضَاعًا لَهُ حَلِيْمَةُ بِنْتِ أَبِيْ ذُؤَيْبٍ السَّعْدِيَّةُ

Artinya :
Wanita pertama yang menyusui baginda Nabi Mhammad SAW ialah ibu beliau sendiri yaitu baginda Bunda Aminah. Kemudian berikutnya bunda Tsuaebah Al-Aslamiyah, seorang budak Abu Lahab yang kemudian dimerdekakan di saat Abu Lahab merasa senang akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bunda Tsuaebah menyusui baginda Nabi beberapa hari sebelum tiba para calon ibu susu diantaranya bunda Halimah, bunda Khaulah binti Azur, bunda Ummi Aeman dan seorang wanita yang sama dengan kabilah halimah Sa’diyah, juga tidak ketinggalan tiga calon ibu susu dari kabilah Al-‘Awatik. Dan bunda susu yang paling lama menyusui baginda Nabi Muhammad SAW ialah Bunda Halimah binti Abi Dzuaeb As-Sa’diyah.

Pustaka : Muhammad Rasulullah, Juz 1 hal. 23

Sahabat, Apabila anda mengakui sebagai umat baginda Nabi Muhammad SAW, bahkan mengaku kenal, idola, panutan dan beriman kepada beliau, selayaknya anda memiliki pengetahuan lebih banyak tentang beliau daripada pengetahuan tentang idola yang lain. Salah satu yang pantas kita tahu ialah biografi masa kecil beliau SAW. Yaitu pernah disusui beberapa wanita yang terpilih sebagaimana telah diuraikan di atas.

Berbahagialah para ibu yang bisa menyusui anak-anaknya dengan tulus ikhlas, karena susu yang keluar dari seorang ibu, kemudian di konsumsi oleh sang anak, dan anak tersebut menjadi anak yang baik dan soleh, dan menjadi calon peghuni sorga maka satu tetes air susu ibu akan menjadi saksi kebaikan sang ibu kepada anak tersebut, yang pada akhirnya sang ibu akan terbawa masuk sorga berkat kebaikan sang anak. Semoga anak-anak kita Allah jadikan anak yang baik dan soleh amien.

Khusus pada kaum ibu, saya sangat berpesan, mulai saat ini jangan ragu dan bersemangatlah untuk menyusui anak-anak dengan tulus ikhlas.. terlebih lagi untuk menyusui bapaknya gunakanlah semangat tahun 45.. hehehehe…

(Photo setelah peringatan Maulid Nabi SAW, Minggu 03 pebruari 2013)

By Ahmad Daerobiy
http://arbabulhija.blogspot.com

Thursday, February 7, 2013

PERINGATAN MAULID NABI, 1434 HIJRIYAH



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
بكل خضوع وخشوع أقدم كتابي هذا إلى محمد رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى من أنزل عليه الفرقان . ونشر لواء الإسلام . وعلم الخلق كيف يعملون لدنياهم الفانية وآخرتهم الباقية إلى نور الهدى الذي بلغ من حسن الخلق ورجحان العقل وثبات العقيدة غاية ليس وراءها مطلع لناظر ولا نهاية لمستزيد ولا فوقها مرتقى لهمة . من أثنى عليه رب العالمين فقال : { وإنك لعلى خلق عظيم } هذه يا رسول الله سيرتك الطاهرة العاطرة أرجو أن تنال عطفك وتحظى برضاك . فإني لم أرد غير وجه الله الكريم والتبرك برسوله الأمين . وخدمة المسلمين أجمعين
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد النبي العربي الأمي الأمين الذي سطعت أنواره من مكة المكرمة فأضاءت الأنام وبددت جحافل الظلام ومحت الوثنية ومحقت الأصنام وثبتت بفضل جهوده دعائم الوحدانية وأسس الإيمان وانتشرت الفضائل بالاقتداء بسيرته والاهتداء بتعاليمه
وبعد فهذه قطرة من بحر السيرة النبوية عنيت بتأليفها وتنسيقها لتكون درسا ومرجعا لطلاب التاريخ الإسلامي . وقد بذلت المجهود في البحث والتنقيب والاطلاع على ما ألف في هذا الموضوع المترامي الأطراف الذي قضى العلماء فيه أعمارهم من قديم الزمان إلى الآن واستعنت بأوثق المصادر وحققت ما وجدت من خلاف وجمعت شمل ما تشتت في بطون الأسفار فلم أقتصر على كتب السير وهي تفوق حد الكثرة بل اعتمدت أيضا على تفاسير القرآن الشريف وكتب الحديث الموثوق بها وتراجم الصحابة رضوان الله عليهم ومعاجم اللغة وساقني البحث إلى مطالعة كتب المستشرقين في السيرة النبوية للوقوف على طرائق بحثهم وسردهم الحوادث ومواطن شبههم واعتراضاتهم فمنهم المنصفون وهم الأقلون وقد استشهدت بآرائهم في الدفاع عن صاحب الشريعة ومنهم المعتدلون لكن لا تخلو تعليقاتهم من اعتراضات ومغامز خفية وشبهات لا يستطيع ردها إلى الصواب من الوجهة التاريخية إلا من درسها ودرس معها التاريخ الإسلامي بتوسع من مصادره الأصلية وينابيعه الصافية ومنهم من لا هم له إلا الطعن بدافع التعصب والحقد كزمرة المبشرين الذين لا يبغون غير إفساد العقائد وهؤلاء لا يمكن أن نسميهم علماء محققين بل هم في الواقع تجار مضللون فقد ينسب الواحد منهم إلى الإسلام ورسوله الكريم من الخرافات والمفتريات ما لا أصل له إلا في مخيلته ومخيلة كل متعنت نغرض ولذا اضطررت بعد أن وقفت على حقائق التاريخ الإسلامي أن أترجم إلى قراء العربية بعض هذه الشبهات والاعتراضات ورددت عليها من المصادر الصحيحة ردودا يضمحل أمامها كل شبهة ويزول كل شك حتى تتطهر النفوس من أدران الشبهات وتعود إلى الهدى وتسلك المحجة الواضحة ولا يخفى أن ترك هؤلاء المتعصبين الحانقين على الإسلام أو المتجرين باسم الذين يلقون بذور الفساد وينشرون المفتريات والاعتراضات من غير أن ينهض من يذود عن الحقائق بسلاح العلم الصحيح وإقامة الحجج الناصعة والبراهين القاطعة تهاون وتقصير يجب أن ينزه عنهما كل من آتاه الله عقلا راجحا

Friday, January 11, 2013

JANGAN SAMPAI TERTINGGAL IMAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لاَ تُبَادِرُوْنِى بِرُكُوْعٍ وَلاَبِسُجُودٍ فَإِنَّهُ مَهْمَا أَسْبِقْكُمْ بِهِ إِذَا رَكَعْتُ تُدْرِكُوْنِى بِهِ إِذَا رَفَعْتُ إِنِّى قَدْ بَدَّنْتُ
Jangan kalian mendahului aku di ruku’ ataupun di sujud, karena aku harus lebih dulu. Apabila aku ruku’ maka kalian harus menyusulku, apabila aku naik dari ruku’, sesungguhnya aku telah menegakkan badan. (HR. Abu Daud)

Syarat bermakmum atau mengikuti Imam ada dua belas macam : 1) Niat mengikut atau berjama’ah di saat takbiratul ikhram. 2) Tempatnya tidak mendahului imam. 3) mengetahui gerakan imam. 4) Berkumpul bersama imam di satu tempat. 5) Menyamai imam. 6) Mengikuti Imam d perbuatan dan perkataan. 7) Tidak bermakmum kepada orang yang diyakini batal shaatnya. 8) Tidak bermakmum kepada orang yang sedang bermakmum. 9) Makmum yang bisa baca Fatihah tidak boleh bermakmum kepada imam yang tidak bisa membaca. 10) Imam tidak kurang dzat (jenis kelamin) di banding makmum. 11) Tidak bermakmum kepada orang yang wajib mengulang shalatnya. 12) Sama rangkaian shalat imam dengan makmum.

وَالسَّادِسُ تَبَعِيَّةُ الإِمَامِ فيِ الأَفْعَالِ وَالأَقْوَالِ وَهُوَ تَأَخُّرُ ابْتِدَاءِ تَحَرُّمِ المَأْمُوْمِ عَنِ انْتِهَاءِ تَحَرُّمِ الإِمَامِ يَقِيْنًا فَلَوْ قَارَنَهُ فيِ حَرْفٍ مِنَ التَّكْبِيْرِ لَمْ تَنْعَقِدْ صَلاَتُهُ وَمَحَلُ هَذَا الشَّرْطِ فِيْمَا لَوْ كَانَ المَأْمُوْمُ مُقْتَدِيًا مِنْ اِبْتِدَاءِ صَلاَتِهِ أَمَّا لَوْ نَوَى الاِقْتِدَاءَ فيِ أَثْنَاءِ صَلاَتِهِ فَلاَ يُشْتَرَطُ تَأَخُّرُ تَحَرُّمِهِ عَنْ تَحَرُّمِ الإِمَامِ الَّذِيْ نَوَى الاِقْتِدَاءَ بِهِ فيِ الأَثْنَاءِ بَلْ يَصِحُّ تَقَدَّمُهُ عَلَيْهِ وَكَذَا لَوْ كَبَّرَ المَأْمُوْمُ عَقِبَ تَكْبِيْرِ الإِمَامِ ثُمَّ طَرَأَ لِلإِمَامِ شَكٌّ فيِ تَكْبِيْرِهِ فَكَبَّرَ ثَانِيًا خَفِيَّةً وَلَمْ يَعْلَمُ بِهِ المَأْمُوْمُ لاَ يَضُرُّ عَلَى المُعْتَمَدِ وَصَلاَةُ المَأْمُوْمِ حِيْنَئِذٍ فُرَادَى وَعَدَمُ سَبْقِهِ عَلَى إِمَامِهِ بِرُكْنَيْنِ فَعْلِيَيْنِ وَلَوْ غَيْرَ طَوِيْلَيْنِ

Keenam (dari syarat bermakmum): Makmum harus “Taba’iyyah” artinya mengikuti imam di perbuatan dan perkataan, yaitu mengakhirkan awal permulaan takbiratul-ikhram makmum dari selesainya takbiratul-ikhram imam, secara yakin. Apabila makmum bersamaan dengan imam di ujung takbirnya maka shalat makmum tidak sah. Letak syarat ini ialah apabila makmum mengikuti imam dari awal shalat. Adapun apabila makmum berniat mengikuti imam di pertengahan shalat maka tidak disyaratkan mengakhirkan takbiratul-ikhramnya dari takbiratul-ikhram imam, imam yang akan dia ikuti di pertengahan shalat. Bahkan dalam konteks ini makmum boleh mendahului imam. Demikian juga sama halnya (boleh mendahului imam) apabila makmum melakukan takbir mengiringi takbir imam, kemudian timbul ragu pada imam dalam takbirnya, dan si imam melakukan takbir yang kedua kalinya secara pelan, dan itu tidak diketahui oleh makmum. Maka hal itu menurut pendapat yang kuat tidak membuat shalat makmum batal. Shalat si makmum di sini otomatis menjadi sendirian (tidak berjama’ah). Dan termasuk makna ”Taba’iyyah” ialah makmum tidak boleh mendahului imamnya dua rukun perbuatan sekalipun bukan rukun panjang.

(وَعَدَمُ تَخَلُّفٍ عَنْ إِمَامٍ بِرُكْنَيْنِ فَعْلِيَيْنِ) تَامَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَكُوْنَا طَوِيْلَيْنِ (بِلاَ عُذْرٍ مَعَ تَعَمُّدٍ وَعِلْمٍ) بِالمَنْعِ كَأَنْ يَهْوِي الإِمَامُ لِلسُّجُوْدِ وَالمَأْمُوْمُ فيِ قِيَامِ القِرَاءَةِ فَلاَ يَتَحَقَّقَ السَّبْقُ وَالتَّخَلُّفُ بِرُكْنَيْنِ إِلاَّ إِذَا انْفَصَلَ عَنِ الثَّانِي مِنْهُمَا فَإِنْ خَالَفَ فيِ السَّبْقِ أَوْالتَّخَلَّفَ بِهِمَا لِغَيْرِ عُذْرٍ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ لِفَحْشِ المُخَالَفَةِ بِلاَ عُذْرٍ بِخِلاَفِ سَبْقِهِ بِهِمَا نَاسِيًا أَوْ جَاهِلاً وَمَتَى تَذَكَّرَ أَوْ عَلِمَ وَجَبَ عَلَيْهِ العَوْدُ لِمُوَافَقَةِ الإِمَامِ فَإِنْ لَمْ يَعُدْ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ فَإِنِ اسْتَمَرَ سَهْوُهُ أَوْ جَهْلُهُ فَلاَ بُطْلاَنَ لَكِنْ لاَ يُعْتَدُّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةِ فَيَأْتِي بَعْدَ سَلاَمِ إِمَامِهِ بِرَكْعَةٍ وَبِخِلاَفِ سَبْقِهِ بِرُكْنٍ كَأَنْ رَكَعَ قَبْلَهُ وَابْتَدَأَ رَفْعَ الاِعْتِدَالِ وَحِيْنَئِذٍ يَتَحَقَّقُ سَبْقُهُ بِرُكْنٍ وَأَمَّا إِذَا اسْتَمَرَ فيِ الرُّكُوْعِ وَلَمْ يَبْتَدِىءْ رَفْعَ الاِعْتِدَالِ فَلاَ يُقَالُ سَبْقُهُ بِرُكْنٍ بَلْ يُقَالُ سَبْقُهُ بِبَعْضِ رُكْنٍ , وَكُلٌّ مِنْهُمَا لاَ تَبْطُلُ بِهِ الصَّلاَةُ ِلأَنَّهُ يَسِيْرُ لَكِنَّهُ فيِ الفَعْلِيِّ بَلاَ عُذْرٍ حَرَامٌ وَهُوَ كَبِيْرَةٌ إِنْ كَانَ بِرُكْنٍ وَصَغِيْرَةٌ إِنْ كَانَ بِبَعْضِهِ وَقِيْلَ كَبِيْرَةٌ أَيْضًا

Makmum tidak boleh tertinggal dari imam dengan dua rukun perbuatan yang sempurna, meskipun kedua rukun perbuatan tersebut tidak tergolong rukun panjang, tanpa udzur, yang disengaja dan tahu akan larangan tersebut. Seperti imam hendak turun untuk sujud sedang makmum masih berdiri membaca surat. Dan tidak dinyatakan mendahului atau tertinggal dua rukun oleh imam melainkan apabila terpisah dari yang kedua, daripada kedua rukun tersebut. Apabila makmum menyalahi imam karena mendahuli atau karena tertinggal dengan dua rukun tersebut tanpa udzur (alasan dimaafkan) maka shalat makmum adalah batal. Karena buruknya menyalahi imam tanpa udzur. Lain halnya apabila lupa atau tidak tahu mendahului imam, maka di saat sadar atau tahu maka makmum wajib kembali untuk menyesuaikan diri dengan imam. Apabila makmum tidak kembali seperti itu maka shalat makmum tersebut ialah batal. Apabila si makmum tersebut tetap dalam keadaan lupa atau dalam keadaan tidak tahu maka shalatnya tidak batal, akan tetapi saat itu tidak di hitung sebagai satu raka’at, maka makmum harus melakukan satu raka’at lagi setelah selesai salam imam. Lain halnya pula makmum mendahului imam dengan satu rukun, seperti si makmum ruku’ sebelum imam ruku’, dan makmum tersebut mulai naik untuk i’tidal, disini nyata si makmum mendahului imam dengan satu rukun. Apabila makmum tetap dalam ruku’ dan tidak mulai naik untuk i’tidal maka ia tidak dinyatakan mendahului imam dengan satu rukun, akan tetapi ia dinyatakan mendahului imam dengan setengah rukun. Masing-masing kasus dari kedua hal tersebut tidak membatalkan shalat, karena hanya sedikit mendahului. Akan tetapi dalam rukun perbuatan dan itu tanpa udzur maka ialah haram dan sebagai dosa besar karena mendahuli imam dengan satu rukun. Dan sebagai dosa kecil apabila tanpa udzur mendahului imam dengan setengah rukun. Menurut pendapat lain ada yang menyebutkan masih tergolong dosa besar juga.

وَأَمَّا مُجَرَّدُ رَفْعِ الرَّأْسِ مِنَ الرُّكْنِ كَالرُّكُوْعِ مِنْ غَيْرِ وُصُوْلٍ لِلرُّكْنِ الَّذِيْ بَعْدَهُ فَمَكْرُوْهٌ كَرَاهَةَ تَنْزِيْهٍ وَمِثْلُ رَفْعِ الرَّأْسِ مِنَ الرُّكْنِ الهُوِي مِنْهُ إِلىَ رُكْنٍ آَخَرَ كَالهُوِيْ مِنَ الاِعْتِدَالِ مِنْ غَيْرِ وُصُوْلٍ لِلسُّجُوْدِ وَبِخِلاَفِ سَبْقِهِ بِرُكْنَيْنِ غَيْرَ فَعْلِيَيْنِ كَقِرَاءَةٍ وَرُكُوْعٍ أَوْ تَشَهُدٍ وَصَلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ تَجِبُ إِعَادَةُ ذَلِكَ وَبِخِلاَفِ تَخَلُّفِهِ بِفَعْلِيٍّ مُطْلَقًا أَوْبِفَعْلِيَيْنِ بِعُذْرٍ وَبِخِلاَفِ المُقَارَنَةِ فيِ غَيْرِ التَّحَرُمِ لَكِنَّهَا فيِ الأَفْعَالِ مَكْرُوْهَةٌ مُفَوِّتَةٌ لِفَضِيْلَةِ الجَمَاعَةِ فِيْمَا قَارَنَ فِيْهِ لاَ فيِ جَمِيْعِ الصَّلاَةِ وَأَمَّا ثَوَابُ الصَّلاَةِ فَلاَ يَفُوْتُ بِذَلِكَ فَقَدْ صَرَحُوْا بِأَنَّهُ إِذَا صَلَّى فيِ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ أَنَّ المُحَقِّقِيْنَ عَلَى حُصُوْلِ الثَّوَابِ فاَلمَكْرُوْهُ أَوْلىَ

Adapun hanya mengangkatkan kepala dari satu rukun seperti dari ruku’ dan belum terhubung dengan rukun berikutnya maka hal ini adalah makruh, jelasnya ialah makruh tanjih (makrih yang dominan terlarang). Seperti halnya menngangkatkan kepala dari satu rukun, yaitu turun menuju rukun berikutnya, seperti makmum turun dari I’tidal dan belum terhubung ke sujud. Lain halnya dengan mendahului dua rukun yang keduanya bukan termasuk rukun perbuatan, seperti rukun membaca dan rukun ruku’ atau rukun tasyahud dan membaca sholawat pada Nabi SAW. Maka makmum tidak wajib kembali untuk menyesuaikan diri dengan imam. Lain halnya apabila makmum tertinggal dengan rukun perbuatan secara mutlak atau tertinggal dua rukun tanpa udzur. Dan lain halnya pula bersamaan di selain takbiratul-ikhram, akan tetapi bersamaan ini ialah makruh yang mengilangkan keutamaan berjama’ah di saat bersamaan saja, bukan menghilangkan keutamaan berjama’ah secara keseluruhan shalat. Adapun pahala shalatnya tidak hilang sebab hal demikian. Para Ulama menjelaskan bahwa apabila seseorang melakukanshalat di tempat (tanah) yang dari merampas, para Ulama Tahqiq menyatakan shalat masih bernilai pahala. Hukum makruh ialah lebih utama pantasnya.

(وَ)عَدَمُ تَخَلُّفٍ عَنِ الإِمَامِ (بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاَثَةِ أَرْكَانٍ طَوِيْلَةٍ) وَهِيَ المَقْصُوْدَةُ فيِ نَفْسِهَا فَلاَ يُحْسَبُ مِنْهَا القَصِيْرُ وَهُوَ الاِعْتِدَالُ وَالجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ بِأَنْ يَنْتَهِيَ الإِمَامُ إِلىَ الجُلُوْسِ لِلتَّشَهُدِ أَوْ القِيَامِ وَالمَأْمُوْمُ فيِ القِيَامِ (بِعُذْرٍ أَوْجَبَهُ) أَيْ اقْتَضَى وُجُوْبَ ذَلِكَ التَّخَلُفِ (كَإِسْرَاعِ إِمَامٍ قِرَاءَةً) وَحَرَكَةً مَعَ بَطْءِ المَأْمُوْمِ فيِ حَرَكَاتِهِ أَوْ فيِ قِرَاءَتِهِ الوَاجِبَةِ لِنَحْوِ عَجْزِ لِسَانِهِ بِخِلاَفِ قِرَاءَةِ السُّوْرَةِ فَإِنَّهُ لاَ يَتَأَخَّرُ لَهَا وَإِلاَ بَطَلَتْ صَلاَتُهُ بِتَمَامِ رُكْنَيْنِ فَعْلِيَيْنِ كَالتَّخَلُفِ لِوَسْوَسَةٍ بِأَنْ كَانَ يُرَدِّدُ الكَلِمَاتِ مِنْ غَيْرِ مُوْجِبٍ (وَانْتِظَارِ مَأْمُوْمٍ سَكْتَتَهُ) أَيْ الإِمَامَ فَإِذَا سَبَقَ بِثَلاَثَةٍ طَوِيْلَةٍ كَالرُّكُوْعِ وَالسَّجْدَتَيْنِ فيِ التَّخَلُّفِ ِلإِتْمَامِ الفَاتِحَةِ (فَلْيُوَافِقْ) إِمَامَهُ وُجُوْبًا إِنْ لَمْ يَنْوِ مُفَارَقَتَهُ (فيِ) الرُّكْنِ (الرَّابِعِ) وَهُوَ القِيَامُ أَوْ الجُلُوْسُ لِلتَّشَهُدِ فيِ هَذِهِ الصُّوْرَةِ وَيَتْرَكُ تَرْتِيْبَ نَفْسِهِ (ثُمَّ يَتَدَارَكُ) بَعْدَ سَلاَمِ الإِمَامِ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ

Makmum tidak boleh tertinggal dari imam lebih dari tiga rukun panjang. Tiga rukun panjang ini ialah yang dimaksud pada jati dirinya, artinya mereka tidak terhitung sebagai rukun pendek. Yang termasuk rukun pendek ialah I’tidal dan duduk diantara dua sujud. Misalnya imam sudah sampai paa duduk untuk tasyahud atau sampai pada berdiri, sedang makmum masih dalam keadaan berdiri (baca Fatihah). Larangan tidak tertinggal tiga rukun panjang ini apabila memang disertai udzur yang mengharuskan tertinggal. Artinya udzur yang menimbulkan keharusan tertinggal, seperti bacaan imam yang terlalu cepat, atau gerakan imam yang terlalu cepat, disi lain si makmum lambat dalam gerakan dan bacaan wajibnya, dikarenakan kekurangan atau cacat di lisan. Lain halnya apabila pada bacaan surat (bukan wajib) maka si makmum tidak boleh tertinggal imam karena disebabkan bacaan bukan wajib. Apabila karena bukan bacaan wajib, si makmum tertinggal oleh imam maka shalat si makmum ialah batal, tertinggal yang memang dengan dua rukun perbuatan yang sempurna. Seperti halnya tertinggal imam karena waswas. Waswas ini seperti makmum mengulang-ulang kalimat di bacaannya, yang memang tidak ada penyebab yang mengharuskan mengulang bacaan. (Termasuk udzur) ialah apabila makmum untuk membaca Fatihahnya menanti saat imam terdiam (yaitu setelah imam baca Fatihah sebelum baca surat) apabila itu terlanjur dan makmum tertinggal oleh imam dengan tiga rukun panjang, seperti ruku’ dan dua sujud, karena makmum menyempurnakan Fatihahnya. Maka Makmum wajib mengejar imamnya apabila ia tidak berniat mufaroqoh (memisahkan diri dari imam) di rukun ke empatnya, yaitu pada saat berdiri atau duduk tasyahud, pada kasus ini makmum meninggalkan urutan shalatnya sendiri. Kemudian setelah salam imam si makmum berdiri lagi untuk memenuhi raka’at yang tertinggal.

Allah mengetahui segalanya.

Pustaka : Fiqih Imam Syafe’i - Nihayatuz-Zein, Syekh Nawawi




IKUTILAH KAJIAN ILMU FIQIH 
KITAB NIHAYATUZ-ZEIN SYEKH NAWAWI
Bersama Ahmad Daerobiy
                                                                                   
Waktu :
Setiap Hari Minggu Setelah shalat Dzuhur
                                                                                   
Tempat:
MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA
Jl.Raya Jakarta-Bogor km 45
Lampu merah simpang pemda Cibinong-Bogor
Gang Jembatan Barokah Tlp. 021-60338522

Tuesday, January 8, 2013

TEKNIS SHALAT MOHON TERLINDUNG MUSIBAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sahabat, siapapun tidak akan mau tertimpa musibah, apapun itu bentuknya. Semoga saja Allah SWT berkenan senantiasa melindungi kita semua dari segala macam bencana dan musibah. Lalu adakah cara shalat yang khusus sebagai permohonan agar terlindung dari musibah? Coba simak uaraian dari kitab Nihayatuzein Syekh Nawawi halaman 107 berikut ini..! (kalo gak punya kitabnya, di toko buanyak.. beli aja yaaa!..)


ومنه صلاة الإستعاذة وهي ركعتان بعد صلاة الضحى ينوي بهما سنة الاستعاذة يقصد بهما أن الله يعيذه من شر يومه وليلته يقرأ في الأولى بعد الفاتحة سورة الفلق وفي الثانية بعد الفاتحة سورة الناس
=======
Diantara shalat sunnah ialah SHALAT ISTI'ADZAH (shalat memohon perlindungan) yaitu dilakukan dua raka'at, setelah shalat dluha dengan niat :

أَصَلِّى سُنَّةَ الاِسْتِعاَذَةِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالىَ

Saya niat shalat memohon perlindungan, dua raka'at karena Allah. Allahu Akbar

Tujuannya memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan hari atau malam.


Raka'at Pertama: Setelah Fatihah membaca Surat Al-Falaq 1 kali.
Raka'at Kedua: Setelah Fatihah membaca surat An-Nas 1 kali.

ثم يدعو بدعاء الاستعاذة وهو
=======
Kemudian membaca do'a berikut :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ , أَللَّـهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنَاهُ تَرْيَانِيْ وَقَلْبُهُ يَرْعَانِيْ إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا وَإِنْ رَأَىْ سَيِّئَةً أَذَاعَهَا , أَللَّـهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فيِ دَارِ المَقَامِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدْنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
=======
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam. Semoga Allah limpahkan rahmat-salam kepada baginda kita Muhammad, selaku Nabi yang tidak bisa baca dan tulis, juga keluarga dan sahabat beliau. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sahabat/persahabatan yang matanya menatap jahat, hatinya dengki dan licik. sehingga membuat pandanganku tidak nyaman dan hatiku tidak tentram. Jika dia melihat kebaikanku maka dia menyembunyikannya, jika dia melihat keburukanku maka dia menyebarkannya dengan licik. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari hari yang buruk, aku juga memohon perlindungan kepada-Mu dari malam yang buruk. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari waktu yang buruk, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari teman yang jahat, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari tetangga yang jahat di sekitar tempat tinggalku, Semoga Allah limpahkan rahmat-salam kepada baginda kita Muhammad, juga keluarga dan sahabat beliau..amien..

NB: Jika tidak bisa berdo'a dengan bahasa arab, terjemah saja boleh..koq

PANJATKAN DO'A DI HARI RABU, AKHIR BULAN SHOFAR, MENGAPA? Besok, rabu 9 Januari 2013 ialah hari rabu terakhir di bulan shofar;

Masih dalam kitab Nihahatuzzen Syekh Nawawi, halaman 67 tertuang (jika diterjemahkan begini:) Dikutif dari sebagian Ahli Fudlola atau Ulama yang ilmunya tinggi, tersirat bahwa musibah yang pasti turun di setiap tahun dari Lauhil-Mahfud ke langit dunia adalah pada hari rabu akhir bulan shofar, untuk berlindung dari musibah tersebut segeralah berdo'a atau bersedekah, sebagai bentuk respon mohon perlindungan.

Perihal musibah disini bukan dikhususkan bersifat bencana alam, banjir taufan atau hal lainnya, juga termasuk kebodohan dalam ajaran agama Islam, itu musibah besar, "MUSIBAH PALING BESAR" ialah "BODOH DALAM AJARAN ISLAM". Mengapa? karena tanpa ajaran Islam semua orang akan berakhlaq seperti binatang.. you know?

Buanyak kiyai atau ustadz yang ngajak belajar agama, namun banyak pula orang yang masih tetap berakhlaq seperti binatang, sifat tamak, sifat rakus, sex bebas, sifat saling membunuh, dan lain sebagainya... apalagi udah kagak ada kiyai atau ustadz..makanya mumpung ada buanyak kiayi atau ustadz.. ayo pada deketiin tuh mereka!... saya juga mau koq dideketin..hehehe
 

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)