Saturday, November 27, 2010

INTI BERAGAMA

أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهْ
الحَمْدُ ِِللهِ الَّذِيْ اصْطَفَى مِنْ عِباَدِهِ مَنْ جَعَلَهُمْ مَفاَتِيْحَ لِلْخَيْرِ، وَلَمْ يُوْصِلْ إِلَيْهِمْ إِلاَّ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُوَصِلَهُ إِلَيْهِ , وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الهَدِى وَالمَعْرِفَةِ , وَعَلَى آَلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ أَمّاَبَعْدُ ؛

Terkait pemahaman menyimpang yang terjadi dalam ajaran agama Islam, ada kaum yang mem-bid’ah-kan orang lain tanpa mengenal betul ajarannya, bahkan saling sesat dan menyesatkan. Hal ini pada mulanya disebabkan krisis akhlak, artinya mungkin sekali menjadi penyesatan paham pada seseorang, ketika orang itu sama sekali tidak memiliki tatkrama dalam melakukan amal ibadahnya. Karena pada hakikatnya orang yang rajin melakukan amal ibadah dengan sungguh-sungguh dan diiringi tatakrama, dalam shalat misalnya, mustahil akan mengalami kesesatan, karena di dalam shalat sendiri diwajibkan membaca surat Al-Fatihah, yang di dalamnya terdapat ayat, do’a untuk tetap di jalan yang benar atau tidak sesat, yaitu :

إِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ
Artinya :
“Ya Allah, Tunjukan kami ke jalan lurus ( benar )”

Walhasil, awal mulanya kesesatan itu timbul dari melakukan amal-amal ibadah yang tidak diiiringi tatakrama dengan sungguh-sungguh hingga tidak memperhatikan inti beragama.

Kemudian apa sebenarnya yang dimaksud dengan beragama itu ? berangkat dari sinilah di kesempatan ini saya mengambil tema “INTI BERAGAMA” semoga kita semua mendapatkan Taufik dan Hidayah dalam memahami serta mengamalkan ajaran agama Islam, amien.

Hadirin yang yang dirahmati Allah !

Dalam kitab Musnad Ahmad, disebutkan bahwa suatu ketika para sahabat membincangkan seseorang yang mereka kenal sangat saleh dan rajin beribadah di hadapan Rasulullah Saw. Ketika orang yang mereka bicarakan datang, Rasulullah Saw bersabda, “Kalian telah membicarakan seseorang yang tampak sentuhan setan di wajahnya, “Rasulullah lalu melanjutkan “Sesungguhnya orang itu dan kelompoknya membaca Alquran, tetapi bacaan mereka hanya sampai pada tenggorokannya saja. Mereka telah keluar dari agama sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya“ (HR Ahmad)

Hadits di atas, dengan jelas menginformasikan kepada kita semua bahwa inti keberagamaan seseorang adalah terletak pada akhlaknya, baik ber-akhlak kepada Allah ataupun akhlak kepada sesama. Akhlak kepada Allah ialah melakukan amal ibadah yang disertai dengan tekhnis pelaksanannya yang sah, sedangkan akhlak kepada sesama adalah dengan memenuhi hak-hak mereka.

Salah satu tujuan dari ritus-ritus peribadatan yang telah ditetapkan atau suri tauladan amal ibadah para Ulama kekasih Allah Swt, sebenar-nya adalah untuk mengantarkan seseorang pada ketinggian dan kemuliaan akhlak-nya.

Ucapan “Allahu Akbar” yang diulang-ulang dalam setiap gerakan shalat dan haji, misalnya, dimaksud-kan untuk mengingatkan kita bahwa hanya Allah saja yang besar, semakin kita sering melaksanakan shalat, haji atau ibadah lainnya maka akan semakin terasa bahwa kita adalah makhluk yag kecil, hina dan rendah. Setelah itu, maka kita akan semakin dekat pada Allah dan akhlak kita akan bertambah mulia.

قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الفَحْشاَءِ وَالمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً
Rasulullah Saw berabda ; “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, maka shalatnya hanya akan menjauhkannya dari Allah” (HR Thabrani)

Begitu pula dengan puasa. Ia bertujuan untuk melatih seseorang agar bisa mengenadalikan hawa nafsunya dan menundukannya untuk melaksanakan semua perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya. Ketika Rasulullah Saw melihat seseorang mencaci-maki hamba sahayanya, beliau berkata kepadanya, “Makanlah !” ia menjawab, “Saya sedang berpuasa”, Rasulullah lalu berkata, “Bagaimana Engkau berpuasa padahal engkau telah mencaci-maki hamba sahayamu”.

Karena itu, ketika disebutkan kepada Rasulullah bahwa ada seseorang yang menghabiskan waktu malamnya untuk beribadah dan waktu siangnya untuk berpuasa, namun ia suka menyakiti tetangganya, beliau Saw bersabda, “Ia (tempatnya) di neraka.” Berikut redaksi haditsnya ;

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ياَرَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهاَرَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهاَ بِلِساَنِهاَ فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ لاَخَيْرَ فِيْهاَ هِيَ مِنْ أَهْلِ النّاَرِ , قاَلُوْا وَفُلاَنَةٌ تُصَلِّى المَكْتُوْبَةَ وَتَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَلاَ تُؤْذِيْ أَحَداً فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ
Artinya :
Ditanyakan kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah si fulan menghabiskan waktunya malam ibadah dan siangnya berpuasa bahkan sedekah namun dia menyakiti tetangga dengan lisannya ?” Rasulullah SAW menjawab, “Dia Tidak baik, ia termasuk penghuni neraka.” Sahabat bertanya lagi, “Jika si fulan itu melaksanakan shalat fardu lima waktu, bersedekah dan tidak sampai menyakiti seseorang ?” Rasulullah SAW menjawab, “Dia termasuk penghuni sorga.” (HR At-Tirmidzi)

Seorang yang taat pada ajaran agamanya, akan selaras antara apa yang dipikirkan, apa yang diucapkan, dan dilakukannya. Ajaran agama ada dalam denyut nadinya, dan selalu menjadi akhlak keseharian-nya. Saudara-ku, mari kita bercermin kembali.

Allah mengetahui segalanya.

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)