Tuesday, November 30, 2010

MENYAMBUT SEPULUH MUHARRAM (‘ASYURA)



بسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami." (QS. Hud 48)

‘ASYURA dikutif dari kata ‘Asyroh (bhs Arab), artinya sepuluh, maksudnya tanggal 10 Muharram, sedang TASU’A dikutif dari kata Tis’un (bhs Arab) artinya sembilan, Maksudnya tanggal 9 Muharram.

Telah kita maklumi bersama, di zaman Nabi Nuh AS terjadi musibah banjir besar. Seelah banijir surut, Nabi Nuh AS keluar dari kapal, diikuti para ummatnya, saat itu mereka merasakan lapar dan dahaga, bekal makanan mereka telah habis. Kemudian Nabi Nuh AS memerrintahkan ummatnya untuk mengumpulkan makanan yang tersisa. Salah seorang diantara mereka ada yang tersisa satu genggam biji bir (gandum), yang lain biji ruz (beras), yang lain biji mash (sejenis kacang), yang lain biji ‘adas (kacang) yang lain biji humsh (Kedelai), yang lain biji lubiya (sejenis kacang), yang lain biji pul (kacang tanah) masing-masing satu genggam, sampai terkumpul tujuh macam. Demikian itu terjadi pada 10 Muharram. Kemudian Nabi Nuh AS memasaknya dan semua bias makan hingga cukup kenyang dengan keberkahan Nabi Nuh AS, ini berdasarkan kandungan makna dari ayat QS. Hud 48. Demikianlah awal mula terjadi masak-memasak makanan di muka bumi setelah musibah banjir besar.

Berapa orang bersama Nabi Nuh AS itu ? yang jelas mereka sedikit, sebagaimana tertuang dalam Al-Qqur’an ;

وَمَاحَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ القَوْلُ وَمَنْ آَمَنَ وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلاَّقَلِيْلٌ

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur[718] telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Hud 40) [718] Yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.

Jumlah mereka ada yang mengatakan 13 orang, yaitu 7 istri Nabi Nuh, 3 pengikut dan 3 orang anak beliau, ini dari riwayat Qotadah. Sedang dari riwayat Ibnu Ishaq ada 10 orang yaitu 5 laki-laki dan 5 perempuan. Ada juga yang mengatakan 20 orang yaitu 10 laki-laki dan 10 perempuan. Ada lagi, 80 orang yaitu 70 laki-laki 10 perempua. Ada lagi, 160 orang yaitu 80 laki-laki dan 80 perempuan. Tetapi riwayat yang sohih (benar) mereka berjumlah 79 orang yaitu 1 orang daripada istri Nabi Nuh, 6 orang daripada 3 anak laki-laki beliau bersama istri-istrinya, masing-masing satu orang, dan 71 orang daripada laki-laki dan 1 orang perempuan dari keturunan Nabi Syits.

Hikmah apa yang menjadi pelajaran disini ? berdasarkan sejarahnya bahwa 10 Muharram adalah hari baik. Jawabnya tidak lain, sebagai muslim yang baik selayaknya menyambut serta mengisi 10 Muharram dengan berbagai macam amal ibadah, apa saja bentuk amal ibadah itu ? disamping rutinitas ibadah yang dilakukan, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut ;

Pertama, Berpuasa 10 Muharram, ini berdasar sabda Nabi SAW :

إِنَّ هَذَا اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ

“Sesungguhnya Hari ini ialah tanggal 10 Muharram, tidak ada kewajiban puasa atas kalian, tetapi jika mau silahkan berpuasa, dan jika mau silahkan tidak berpuasa." (HR .Bukhori Muslim)

Imam Syafi’i menambahkan dalam riwayatnya ;
 
وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ
"Dan Aku (Nabi SAW) sedang berpuasa, jika mau silahkan berpuasa.” (HR. Imam Syafei)

Kedua, Berpuasa 9 Muharram, ini berdasar sabda Nabi SAW ;

لَئِنْ بَقَيْتُ إِلىَ قاَبِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التّاَسِعَ - يَعْنِي يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan maka aku akan berpuasa tanggal sembilan, yakni dari 10 Muharram.” (HR. Muslim)

Ketiga, Melakukan keleluasaan keluarga, ini berdasar sbda Nabi SAW ;

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِياَلِهِ فيِ يَوْمِ عاَشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فيِ سَنَتِهِ كَلِّهاَ

“Barangsiapa membuat keleluasaan dalam keluarga (wajib dinafkahi) pada 10 Muharram maka Allah lapangkan rezekinya di semua tahunnya.” (HR. Thabraniy dalam kitab Ausath-nya)

Allah SWT menenggelamkan dunia dengan topan dan banjir, tidak tersisa yang selamat kecuali Nabi Nuh AS bersama pengikutnya. Saat itu 10 Muharram, Allah SWT memerintahkan mereka turun dari kapal dan membuat keleluasaan keluarga. Oleh karenanya disunnahkan tiap 10 Muharram melakukan keleluasaan dalam keluarga, demikian penuturan Imam Al-Hakim.

Dasar yang lainnya tertuang dalam kitab Nihayatuz-Zein Syekh Nawawi, sebagai berikut ;

وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِ الأَفاَضِلَ أَنَّ الأَعْماَلَ فيِ يَوْمِ عاَشُوْرَاءَ اِثْناَ عَشَرَ عَمَلاً الصَّلاَةُ وَالأَوْلىَ أَنْ تَكُوْنَ صَلاَةُ التَّسْبِيْحِ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى العِياَلِ وَالاِغْتِساَلُ وَزِياَرَةُ العاَلِمِ الصَّالِحِ وَعِياَدَةُ المَرِيْضِ وَمَسْحُ رَأْسِ اليَتِيْمِ وَالاِكْتِحاَلُ وَتَقْلِيْمُ الأَظْفاَرِ وَقِرَاءَةُ سُوْرَةِ الإِخْلاَصِ أَلْفَ مَرَّةٍ وَصِلَّةُ الرَّحْمِ , وَقَدْ وَرَدَتْ الأَحاَدِيْثُ فيِ الصَّوْمِ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى العِياَلِ وَأَمّاَ غَيْرُهُماَ فَلَمْ يَرِدْ فيِ الأَحاَدِيْثِ (نهاية الزين - ج 1 / ص 196)

Dikutif dari sebagian Ulama besar, bahwa amal ibadah yang layak diperhatikan di 10 Muharram ada 12 :

      1.    Melaksanakan Shalat sunnah yang paling utama shalat Tasbih,
     2.    Melakukan Puasa Sunnah, berikut tanggal 9 Muharram-nya, dan paling utama 10 hari, dari tanggal 1 s/d 10 Muharram
     3.    Melakukan Sodaqoh,
     4.    Melakukan keleluasaan keluarga artinya menambah dana belanja, membelikan baju baru dll.
     5.    Melakukan Mandi Sunnah,
     6.    Melakukan kunjungan pada Alim Ulama yang soleh,
     7.    Menengok orang yang sedang sakit,
     8.    Mengusap kepala yatim, artinya memberi kasih sayang seperti dengan menyantuni mereka,
     9.    Memakai celak mata,
   10.  Menggunting kuku,
   11.  Membaca surat Al-Ikhlas seribu kali,
   12.  Melakukan silaturrahmi terutama kepada saudara dan keluarga, sama seperti pada hari raya.

Melakukan Puasa dan melakukan Keleluasaan keluarga berdasar hadits sedang yang lainnya tidak terdapat dalam hadits.

Do’a ‘Asyuro (10 Muharram)

أَللَّـهُمَّ ياَمُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ وَياَ مُخْرِجَ ذِى النُّوْنِ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَجاَمِعَ شَمْلَ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَغاَفِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَكاَشِفَ ضُرِّ أَيُّوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَساَمِعَ دَعْوَةَ مُوْسَى وَهاَرُوْنَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَخاَلِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ T يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَرَحْمَنُ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَطِلْ عُمْرِى فىِ طاَعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضاَكَ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَأَحْيِنِى حَياَةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِى عَلَى الإِسْلاَمِ وَالإِيْماَنِ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمْيَنَ

“Ya Allah wahai Yang membebaskan segala kesulitan, wahai Yang melepaskan Nabi Yunus Dzin-Nun di hari ‘Asyura, wahai Yang menyembuhkan derita Nabi Ya’kub di hari ‘Asyura, wahai Yang mengampuni dosa Nabi Daud di hari ‘Asyura,  wahai Yang menyembuhkan derita Nabi Ayub di hari ‘Asyura, wahai Yang mendengar do’a Nabi Musa dan Nabi Harun di hari ‘Asyura, wahai Yang menciptakan ruh Nabi Muhammad Saw di hari ‘Asyura, wahai Yang mengasihi dunia dan akhirat panjangkanlah umurku dalam taat ibadah dan cinta kepadaMu, wahai Yang maha Pengasih diantara yang pengasih hidupkan-lah aku dalam kehidupan yang baik, matikanlah aku dalam Islam dan Iman, wahai Yang maha Pengasih diantara yang Pengasih, semoga Allah limpahkan rahmat dan salam atas baginda kita Muhammad juga keluarga beliau dan para sahabat beliau, segala puji bagi Allah Tuhan pengurus sekalian alam.

Allah mengetahui segalanya.

DAFTAR PUSTAKA : 
1) Tafsir Ruhul-Ma’ani – Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Yusiy, 
2) Sunan Al-Kubra –Al-Baihaqiy, 
3) Faidul-Qodir – Syekh Al-Manawi, 
4) I’anatuh-Thalibin – Syekh Muhammad Syatho, 
5) Nihayatuz-Zein – Syekh Nawawi

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)