Saturday, October 13, 2012

BATAS MENGEJAR SATU RAKA'AT


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ قَبْلَ أَنْ يَقِيْمَ الإِمَامُ صَلْبَهُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا
Barangsiapa mengejar satu raka’at dari shalat sebelum Imam tegak berdiri (dari ruku’)
Maka sesungguhnya ia dinyatakan mengejar satu raka’at. (HR. Muslim)



(وَ) تُدْرَكُ (رَكْعَةٌ) لِمَسْبُوْقٍ أَدْرَكَ الإِمَامَ رَاكِعًا أَوْ فيِ آَخِرِ مَحَلِ قِرَاءَتِهِ بِأَمْرَيْنِ ؛

Dinyatakan mengejar satu raka’at, bagi seorang masbuq yang mengejar Imam. Apabila Imam tersebut dalam keadaan ruku’ atau Imam tersebut berada di akhir posisi bacaan suratnya. Menyandang status mengejar satu raka’at ini ialah apabila memenuhi kedua catatan. Pertama sang Masbuq harus memenuhi Takbiratul-Ikhram dan kedua sang Masbuq harus mengejar ruku Imam yang diperhitungkan, secara sempurna dan yakin. Dengan uraian sebagai berikut :

(بِتَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ) فَيُكَبِّرُ المَسْبُوْقُ ِللإِحْرَامِ وُجُوْبًا ثُمَّ لِلرُّكُوْعِ نَدْبًا فَإِنْ نَوَاهُمَا بِتَكْبِيْرَةٍ وَاحِدَةٍ مُقْتَصِرًا عَلَيْهَا لَمْ تَنْعَقِدْ صَلاَتُهُ لِتَشْرِيْكِهِ بَيْنَ فَرْضٍ وَسُنَّةٍ مَقْصُوْدَةٍ فَأَشْبَهَ نِيَّةُ الظُّهْرِ وَسُنَّتِهِ

SANG MASBUQ HARUS MEMENUHI TAKBIRATUL IHRAM
Seorang masbuq wajib Takbir untuk Takbiratul Ihram, kemudian sunnah Takbir untuk Ruku’. Apabila dia meniatkan keduanya dengan satu Takbir, dengan tujuan mempersingkat akan Takbir, maka shalatnya tidak mengikat (tidak sah) karena dia mempersekutukan fardu dengan sunnah yg dimaksud. Dan hal tersebut menyerupakan niat dzuhur (fardu) kepada sunnahnya.

(وَ) بِإِدْرَاكِ (رُكُوْعٍ مَحْسُوْبٍ) لِلإِمَامِ بِأَنْ يَكُوْنَ الإِمَامُ مُتَطَهِّرًا فيِ غَيْرِ رَكْعَةٍ زَائِدَةٍ سَهَا بِهَا

SANG MASBUQ HARUS MENGEJAR RUKU’ IMAM YANG DIPERHITUNGKAN
Seorang masbuq wajib mengejar ruku’ yang diperhitungkan di Imam, dari sisi luar (external) seperti Imam ruku’ dalam keadaan suci dan bukan ruku’ pada raka’at lebih dikala Imam mengalami lupa. (Batasan ruku’ yang diperhitungkan dari sisi dalam (internal) ialah ruku’ yang sempurna, dan meyakini imam dalam keadan ruku’)

(تَامٍ) بِأَنْ يَطْمَئِنَّ فيِ رُكُوْعِهِ قَبْلَ ارْتِفَاعِ إِمَامِهِ عَنْ أَقَلِّ الرُّكُوْعِ وَهُوَ بُلُوْغُ رَاحَتَيْهِ رُكْبَتَيْهِ

RUKU’ YANG SEMPURNA : Ialah seorang asbuq bisa melakukan ruku’ dengan thumaninah (diam sejenak kira-kira baca tasbih) sebelum Imam naik dari ruku’ tersingkat, yaitu kedua telapak tangan sampai memegang kedua lututnya.

(يَقِيْنًا) وَيَحْصُلُ اليَقِيْنُ بِرُؤْيَةِ الإِمَامِ فيِ البَصِيْرِ مَعَ الضَّوْءِ أَوْ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى ظَهْرِهِ فيِ الأَعْمَىْ وَمَنْ فيِ ظُلْمَةٍ أَوْ سِمَاعِهِ تَسْبِيْحَ الإِمَامِ فيِ الرُّكُوْعِ وَلاَ يَكْفِي فيِ ذَلِكَ الظَّنُّ وَلاَ سِمَاعُ صَوْتِ المُبَلِغِ

MEYAKINI IMAM DALAM KEADAAN RUKU’ : Keyakinan ini bisa dengan dasar melihat imam langsung, dikala bisa melihat dan suasana terang. Atau dengan dasar menyentuh tangan masbuq ke punggung Imam, dikala tidak melihat atau dalam keadaan gelap. Atau masbuq mendengar bacaan tasbih Imam dalam Ruku’. Dan di semua itu tidak cukup (tidak sah) hanya karena dugaan saja, bahkan juga tidak sah karena mendengar suara mubalig (penyampai suara imam)

بِخِلاَفِ مَا لَوْ لَمْ يَطْمَئِنَّ أَوْ اطْمَأَنَّ بَعْدَ ارْتِفَاعِ الإِمَامِ عَنْ أَقَلِّ الرُّكُوْعِ أَوْ شَكَّ هَلْ اِطْمَأَنَّ قَبْلَ ذَلِكَ الارْتِفَاعِ ِلأَنَّ إِدْرَاكَ مَا قَبْلَ الرُّكُوْعِ بِالرُّكُوْعِ رُخْصَةٌ فَلاَ يُصَارُ إِلَيْهَا إِلاَّ بِيَقِيْنٍ فَلاَ يَكْتَفِي بِغَلَبَةِ الظَّنِّ خِلاَفًا لِزَرْكَشِي وَيَسْجُدُ الشَّاكُ لِلسَّهْوِ ِلأَنَّهُ شَاكٌ بَعْدَ سَلاَمِ الإِمَامِ فيِ عَدَدِ رَكَعَاتِهِ فَلَمْ يَتَحَمَّلْهُ عَنْهُ

Lain halnya apabila sang masbuq tidak thumaninah (dalam ruku’) atau thumaninah setelah Imam naik dari suku’ paling singkat. Atau masbuq ragu, apakah dia thumaninah sebelum imam naik. Karena terkejarnya apa saja sebelum ruku’ cukup dengan tujuan mengejar ruku’ ialah sebuah dispensai (keringanan) maka keringanan itu tidak akan didapatkan melainkan harus dengan dasar yakin (di ruku’). Tidaklah cukup (tidak sah) mengejar ruku’ apabila hanya berdasarkan dugaan yang kuat. Namun hal ini berbeda dengan pernyataan Al-Imam Zarkasi, (Imam Zarkasi menyatakan sebaliknya). Seorang masbuq yang ragu harus melaksanakan sujud sahwi, karena ragu setelah salam Imam di jumlah raka’atnnya sendiri, karena Imam tidak bisa dinyatakan menanggungnya.

وَإِذَا وُجِدَ لِلإِمَامِ هَذِهِ الشُّرُوْطُ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ وَلَوْ قَصَّرَ بِتَأْخِيْرِ تَحَرُّمِهِ إِلىَ رُكُوْعِ الإِمَامِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Apabila syarat-syarat tersebut diatas ditemukan pada Imam, maka masbuq dinyatakan mengejar satu raka’at, meskipun sang masbuq mempersingkatnya dengan mengakhirkan Takbiratul-Ihramnya sampai ruku’ Imam, di saat tanpa udzur (halangan) berdasar sabda Nab SAW ;

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ قَبْلَ أَنْ يَقِيْمَ الإِمَامُ صَلْبَهُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا

Barangsiapa mengejar satu raka’at dari shalat sebelum Imam tegak berdiri (dari ruku’) Maka sesungguhnya ia dinyatakan mengejar satu raka’at”. (HR. Muslim)


Allah Mengetahui segalanya

Pustaka : Nihayatuz-Zein dan Ksyifatus-Saja, Syekh Nawawi

KONSULTASI HUKUM ISLAM

KAJIAN HARI SABTU

KAJIAN HARI MINGGU

TADARUS MALAM RABU

SYARAH SAFINATUN-NAJA

SYARAH SAFINATUN-NAJA
TERJEMAH KASYIFATUS-SAJA SYARAH SAFINATUN-NAJA

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU

WASPADAI BELAJAR TANPA GURU
Ketika mendapatkan ilmu agama Islam tanpa bimbingan guru Maka jelas gurunya syetan, bahkan kesesatan akan lebih terbuka lebar Waspadailah belajar agama Islam tanpa bimbingan guru. Nah, apakah anda punya guru? .. kunjungilah beliau…!! Apabila ingin mendapat ilmu manfaat dan terjaga dari kesesatan

SILSILAH GURU AHMAD DAEROBIY (KANG DAE)