Tuesday, October 9, 2012

PANDAI MENGHARGAI KARUNIA


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
أُنْظُرُوْا إِلىَ مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلىَ مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
Pandangilah orang yang lebih rendah dari pada kalian
Dan jangan pandangilah orang yang lebih tinggi diantara kalian. (HR. Bukhori Muslim)
                                                                          
Hadits ini menganjurkan kita untuk memiliki akhlak yang baik menurut agama, bagaimana kita seharusnya memandang terhadap orang lain ketika terikat kondisi sosial dalam dunia ini. Tujuannya agar anda tidak sampai merendahkan kenimatan yang Allah karuniakan kepada anda, karena itu dosa.

وَالمُرَادُ بِمَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنَ النّاَظِرِ فيِ الدُّنْياَ ؛

Yang dimaksud dengan akhlak dari dari memandang orang yang lebih rendah ialah dalam hal dunuiawi, diantaranya ;

Pertama ;
فَيَنْظُرُ إِلىَ المُبْتَلَى بِالأَسْقاَمِ وَيَنْتَقِلُ مِنْهُ إِلىَ ماَ فَضُلَ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ العاَفِيَةِ الَّتِي هِيَ أَصْلُ كُلِّ إِنْعاَمٍ

Pandangilah orang-orang yang tertimpa musibah, seperti orang-orang yang sedang sakit. Kemudian alihkan pandangan anda kepada diri anda sendiri yang sedang dalam keadaan sehat. Sedang kesehatan itu sumber dari segala kenikmatan, karunia dari Allah SWT.

Kedua ;
وَيَنْظُرُ إِلىَ مَنْ فيِ خَلْقِهِ نَقْصٌ مِنْ عُمْىٍ أَوْ صَمَمٍ أَوْ بُكْمٍ وَيَنْتَقِلُ إِلىَ ماَ هُوَ فِيْهِ مِنَ السَّلاَمَةِ عَنْ تِلْكَ العاَهاَتِ الَّتِي تَجْلِبُ الهَمَّ وَالغَمَّ

Pandangilah orang-orang yang mengalami kekurangan fisik, atau cacat tubuh, seperti buta, tuli atau bisu. Kemudian alihkan pandangan anda kepada diri anda sendiri yang lebih baik atau tidak mengalami cacat tubuh. Yang keadaan seperti itu akan mengundang resah dan gelisah.

Ketiga ;

وَيَنْظُرُ إِلىَ مَنْ ابْتُلِيَ بِالدُّنْياَ وَجَمْعِهاَ وَالاِمْتِناَعِ عَمَّا يَجِبُ عَلَيْهِ فِيْهَا مِنَ الحُقُوْقِ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ فَضُلَ بِالإِقْلاَلِ وَأَنْعَمَ عَلَيْهِ بِقِلَّةٍ تَبِعَةِ الأَمْوَالِ فيِ الحاَلِ وَالمَآَلِ

Pandangilah orang-orang yang terkena musibah dengan mencari harta kekayaan dan menimbunnya sehingga tidak sempat untuk melakukan kewajiban-kewajiban kepada Allah. Sedang kita tahu, bahwa sangsi orang yang demikian ialah neraka. Kemudian pandangilah diri kita sendiri yang mengalami keterbatasan harta kekayaan tapi masih dapat memenuhi kewajiban kepada Allah,sebuah karunia besar yang patut disyukuri sekarang dan kelak.

Keempat ;

وَيَنْظُرُ إِلىَ مَنْ ابْتُلِيَ بِالفَقْرِ المُدْقَعِ أَوْ الدِّيْنِ المُفْظَعِ وَيَعْلَمُ ماَ صاَرَ إِلَيْهِ مِنَ السَّلاَمَةِ مِنَ الأَمْرَيْنِ وَتَقِرُّ بِماَ أَعْطاَهُ رَبُّهُ العَيْنَ

Pandangilah orang yang sedang tertimpa musibah dengan kefakiran yang lalai dalam ibadah, juga orang yang tertimpa musibah kebodohan adalam agama. Sedang kita tahu, bahwa selamat dari kedua musibah itu akan timbul rasa syukur dan mengundang tambahan kenikmatan.

وَماَ مِنْ مُبْتَلَى فيِ الدُّنْياَ بِخَيْرٍ أَوْ شَرٍّ إِلاَّ وَيَجِدُ مَنْ هُوَ أَعْظَمُ مِنْهُ بَلِيَّةً فَيَتَسَلَّى بِهِ وَيَشْكُرُ ماَ هُوَ فِيْهِ مِمّاَ يَرَى غَيْرَهُ ابْتُلِيَ بِهِ

Tidak semata-mata tertimpa musibah di dunia, baik atau buruk. Kecuali ia akan menemukan orang yang lebih besar dari musibah itu. Ketika itu di hayati maka akan timbul rasa syukur dari orang yang memandangnya.

Kelima ;

وَيَنْظُرُ مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فيِ الدِّيْنِ فَيَعْلَمُ أَنَّهُ مِنَ المُفْرِطِيْنَ فَبِالنَّظْرِ الأَوَّلِ يَشْكُرُ ماَ ِللهِ عَلَيْهِ مِنَ النِّعَمِ وَبِالنَّظْرِ الثَّانِيْ يَسْتَحِي مِنْ مَوْلاَهُ وَيَقْرَعُ باَبَ المُتاَبِ بِأَناَمِلِ النَّدَمِ فَهُوَ بِالأَوَّلِ مَسْرُوْرٌ بِنِعْمَةِ اللهِ وَفيِ الثّاَنِي مُنْكَسِرَ النَّفْسِ حَياَءً مِنْ مَوْلاَهُ

Pandangilah orang yang lebih tinggi dalam agamanya, sehingga kita akan mengakui kelalaian kita dalam beragama. Pandangan kepada yang lebih rendah dalam hal dunia, yaitu bagaian pertama hadits, akan menimbulkan rasa syukur. Pandangan kepada yang lebih tinggi dalam hal agama akan merasa malu akan kekurangan dan kelalaian dalam beribadah. Sehingga terketuk hatinya untuk bertaubat dengan jari-jemari penyesalan.

Wal hasil, hadits di atas membimbing kita untuk senantiasa memiliki dua akhlak hati ; Pertama akan merasa gembira dan syukur akan nikmat Allah. Kedua akan merasa menyesal akan kelalaian ibadah sehingga menjadi malu kepada Allah SWT.

Allah mengetahui segalanya.

Pustaka : Subulus-Salam, Syarah Bulugul Murom
Syekh Ibu Hajar Al-‘Asqolaniy, Juz 4 Hal. 151

WASPADALAH..., MENDAPATKAN ILMU TANPA GURU

وَمِنْ كَلاَمِ أَبِيْ يَزِيْدْ البُسْطاَمِيْ قُدِّسَ سِرُّهُ ؛ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطاَنُ

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy quddisa sirruh menyatakan ; Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.

Tafsir Ruhul-Bayan, Juz 5 hal. 203 Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60

Ketika tidak mendapatlan ilmu tanpa guru maka jelas dia gurunya syetan dan kesesatannya lebih terbuka lebar, maka waspadailah. Apakah anda punya guru agama? Datangilah beliau, jika anda ingin mendapatkan ilmunya dan bermanfaat..


Lihat LOKASI MAJELIS DZIKIR ARBABUL HIJA di peta yang lebih besar

NASKAH POPULER